
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Acara resepsi Michael dan Lavina belum usai, masih ada tamu undangangan yang hadir. Tidak terlalu banyak dari sebelumnya juga. Michael melihat Lavina sudah terlihat lelah. Akhirnya dia membawa Lavina ke kamar untuk beristirahat. Tak lupa Michael minta izin dulu pada orang tuanya agar tidak mencari mereka berdua. Setelah mendapat jawaban dari orang tuanya, Michael pun membawa Lavina ke dalam kamar.
Sampai di dlam kamar Lavina langsung meleoas aksesoria yang masih menempel dan mengganti bajunya. Lavina hanya memakai piyama tidur, karna memang dia mau beristirahat. Dan Michael juga berganti baju. Lavina menatap Michael dengan tanda tanya. Apa yang dipikirkan oleh Lavina?.
"Kenapa melihatku seperti itu sayang?" tanya Michael heran yang berada di pinggir ranjang.
"Gak pa-pa, kamu mau langsung tidur mas?" tanya Lavina.
"Memang kamu gak capek?" Michael malah balik bertanya kepada Lavina. Sepertinya Michael mengerti arah pembicaraan istrinya kemana.
"Hmm capek sih" ucap Lavina dengan nada lirih tapi masih bisa didengar oleh Michael.
"Sudah tidur lah kalau kamu capek. Besok saja kalau mau bermesraan sama aku" ucap Michael to the point dan berhasil membuat Lavina malu.
"Ya sudah a-aku mau tidur" jawab Lavina terbata-bata sambil menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya sampai diatas kepala.
Michael mendekati Lavina yang bersembunyi dibalik selimut. Dia berhasil membuat Lavina malu. Tangannya memeluk tubuh Lavina yang tertutup selimut. Dan salah satu tangannya membuka selimut yang menutupi wajah Lavina.
Terlihat lah wajah Lavina yang merah merona. Segera Lavina memalingkan tubuhnya ke samping agar pipi merahnya tidak terlihat oleh Michael. "Ciee ada yang malu nih, itu muka kayak tomat. Mau dipadamin gak?" goda Michael masih diposisinya memeluk Lavina.
"Apaan sih mas" Lavina menyingkirkan tangan Michael yang melingkar ke perutnya.
"Memang mau digarap sekarang lahannya" duh perkataannya tidak bisa disensor membuat Lavina makin malu pakai banget nih. Michael malah memperjelas ucapannya pula.
"Kalau kamu mau minta sekarang aku kasih kalau besok ya berarti besok saja" jelas Lavina membalikkan tubuhnya menghadap Michael yang tengah berbaring disampingnya. "Seorang istri kan tugasnya mematuhi perintah suaminya." tambah Lavina.
Cup.
Michael mengecup bibir Lavina sekilas. Mata Lavina membulat sempurna mendapat kecupan dari Michael tanpa aba-aba. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Baru diperlakukan begitu saja sudah membuat Lavina keringat dingin. Apalagi melakukannya langsung.
"Duh jantungku rasanya mau lepas" batin Lavina.
"Tidurlah aku gak mau kamu kecapean. Tadi acara kamu sudah banyak berdiri dan pergi kesana kemari. Sekarang istirahat dulu ya" tutur Michael penuh perhatian lalu memeluk Lavina.
"I-iya.." jawab Lavina terbata-bata karna kegugupannya, dia tetap menerima pelukan dari Michael.
"Ternyata kamu bisa romantis juga, aku kira kamu hanya bisa marah-marah. Mungkin kamu tabiatnya memang seperti itu diluar, tapi kalau sudah bertemu cintamu akan berubah seperti ini" batin Lavina, tangannya sambil mengusap lembut kening Michael yang sudah mulai terbawa ke alam mimpi.
"Aku kok bisa ya mencintai orang yang menyebalkan sepertimu......hihihi sudah takdirnya sih. Sekarang aku malah cinta banget, kalau bayangan dulu seperti Gak mungkin ada ditarik ini. Dimana kamu yang menjadi suamiku." batin Lavina melihat Michael yang memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku!" tiba-tiba Lavina meminta maaf kepada Michael yang matanya sudah terpejam dan harus membukanya kembali saat mendengar Lavina mengucapkan kata 'maaf'.
"Untuk apa kamu meminta maaf?" tanya Michael.
"Aku banyak salah kepada kamu. Kenapa kamu mau menikahi perempuan sepertiku yang hanya bisa membuatmu sakit. Bahkan sebelum aku menjadi istrimu sekali pun" ucap Lavina mulai berkaca-kaca. Michael makin memeluk Lavina, seolah mengatakan bahwa dia akan melakukan apapun demi membahagiakan istrinya.
"Gak ada yang perlu dimaafkan lagi, aku cinta sama kamu tulus. Kalau aku gak mencintai kamu, ngapain aku mau menikah sama kamu. Sudah lah gak perlu mengungkit-ungkit yang berlalu. Aku hanya ingin melihat kamu yang sekarang. Jadi dirimu sendiri, Lavina yang kuat dan gak gampang nangis gini." ucap Michael menghampus air mata Lavina yang telah keluar.
Lavina tak mengucapkan apapun atau menyahuti ucapan Michael. Ia hanya mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Michael. Sampai sebuah kenyamanan baru untuk Lavina membawa nya ke dalam alam mimpi. Hanya dengan waktu sekejab Lavina sudah tertidur pulas. Mungkin efek kecapean juga, benar apa kata Michael tadi. Lavina perlu istirahat, dia juga punya hati dan tidak mungkin membuat tubuh istrinya remuk saat itu juga.
Michael tersenyum senang melihat Lavina sudah tertidur. Ia terus mengusap lembut punggung Lavina sampai dia tertidur. Sekarang disampingnya sudah ada orang yang menjadi pelengkap hidupnya. Yang akan selalu ada disisinya, merawat, dan menemani nya. "Dunia ini memang sempit, nyatanya jodohku adalah kamu. Seseorang yang aku pikir tidak mungkin menjadi pasangan hidupku. Ternyata dugaanku salah" Michael tersenyum dan mengecup kening Lavina. Dia pun ikut memejamkan matanya.
Hanya perlu waktu beberapa menit saja, Michael sudah ikut tenggelam ke alam mimpi. Badannya memang tidak bisa dibohongi, dia juga merasa capek dan lelah. Akhirnya mereka sudah terbawa ke mimpi masing-masing.
❍
❍
❍
❍
Faero ingin mengetahui semua hasil USG Eveline. Ia ingin memastikan bahwa calon anaknya tumbuh dengan sehat. Mereka tak perlu mengantri lama, sebab Faero sudah ada janji dengan sang dokter yang bertugas. Jadi setelah sampai dirumah sakit Eveline bisa langsung masuk ruang pemeriksaan kandungan.
Sebelum USG dimulai Eveline terlebih dahulu dicek tensi darahnya. Lalu ia diminta untuk berbaring diranjang dan Alifa yang menangani mulai mengoleskan gel khusus. Alat USG pun ditempelkan ke perut Eveline untuk mencari titik keberadaan si kecil. Faero merasa takjub melihat layar monitor yang memperlihatkan calon anaknya yang mulai berkembamg di dalam perut istrinya. Apalagi Eveline yang sudah berkaca-kaca.
"Sehat terus ya sayang diperut mama." doa Eveline dalam hati sambil melihat ke arah monitor.
"Dok kapan jenis kelaminnya bisa diketahui?" tanya Faero yang penasaran.
"Sekitar kehaliman mencapai 16 minggu atau 4 bulan. Barulah jenis kelaminnya bisa dilihat atau bisa lebih dari 4 bulan. Coba pemeriksaan selanjutnya kita lihat." jelas Alifa tersenyum.
Faero hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan dari Alifa. Setelah pemeriksaan selesai Alifa menjauhkan alat USG dari perut Eveline dan diletakkan ke tempatnya kembali. Ia pun beranjak berganti ke tempat duduk. Eveline dibantu oleh Faero untuk bangun dan berjalan ke tempat duduk.
"Apakah kamu masih merasakan mual Velin?" tanya Alifa sambil mencatat sesuatu ke dalam bukunya.
"Tidak sih, rasa mualku sudah hilang." jawab Eveline.
"Baiklah, aku akan meresepkan vitamin untuk nanti kamu minum. Dijaga pola makannya ya, tidak boleh stres, banyak istirahat." pesan Alifa.
__ADS_1
"Siap laksanakan" sahut Faero dengan tegas sambil tetap tersenyum. Alifa pun ikut tersenyum. Setelah melakukan pemeriksaan Faero dan Eveline keluar dari ruang kandungan.
Faero harus menebus vitamin Eveline dulu ke apotik. Jadi Eveline menunggu dikursi tunggu sementara Faero yang mengantri panggilan. Karna tak banyak yang melakukan pemeriksaan hari itu jadi menebus vitaminnya lebih cepat dn gak banyak ngantri. Faero langsung mengajak Eveline untuk pulang setelah pemeriksaan.
"Mas mumpung disini kita lihat keadaan Kendrick dulu yuk. Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentang kadaannya." kata Eveline dengan lirih takut suaminya nanti marah sehingga dia berhati-hati dalam berucap.
Faero memang belum bisa menerima perlakuan Kendrick terhadap adiknya Clarissa. Sekali pun nyawa ditaruh oleh Kendrick. Tetap dalam hati Faero masih ada rasa kemarahan dan kecewa. Tetapi dalam hati kecilnya juga berterima kasih, kalau saja bukan Kendrick yang menyelamatkan Clarissa. Mungkin sekarang yang terbaring bukanlah Kendrick melainkan adiknya.
Faero tak pernah mencari tau kabar atau penasaran dengan keadaan Kendrick selama ini. Dia hanya fokus pada keluarganya dan perusahaan. Tanpa mau mencari tau lebih lagi mengenai perkembangan kondisi dari Ken. Mendengar istrinya mengajak untuk melihat Kendrick, awalnya Faero hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Eveline. Tapi karna istrinya terua memaksa akhirnya mau gak mau Faero pasrah dan menuruti apapun yang akan Eveline lakukan.
Berubung memang mereka dirumah sakit yang sama. Jadi Eveline memang kepikiran untuk sekalian melihat keadaan Kendrick. Ternyata suaminya tidak berselera untuk kesana. Melihat ekspresinya saja Eveline sudah bisa menebaknya.
Sampai di depan ruang ICU Eveline melihat kaca bening tersebut dari luar yang otomatis bisa langsung melihat ke dalam. Tapi karna kacanya ditutup gorden dari dalam sehingga Eveline tidak bisa melihat dari luar.
"Mas aku mau lihat Ken sebentar ya ke dalam" ucap Eveline memelas, dia tau kalau suaminya pasti tidak suka berada disana.
"Ngapain sih, mendingan kita pulang aja lah" larang Faero dengan wajah datarnya.
"Padahal aku pengen lihat kondisi Kendrick" ucap Eveline lirih sambil menunduk.
"Tanya Lavina kan bisa, kenapa harus repot-repot kesini" nada bicara Faero sudah tak bisa terkontrol.
"Ya kan sekalian gitu, mumpung ditempat yang sama apa salahnya sih. Aku tau kamu masih marah, tapi sekarang kondisinya beda. Kendrick saja sudah gak berdaya mas, untuk mengisi gizi dalam tubuhnya saja perlu alat untuk membantu. Lah gini masih kamu musuhin" celoteh Eveline kesal dan besengut melihat suaminya yang sewot dari tadi dalam berbicara.
"Huufh......" Faero hanya bisa membuang nafasnya kasar. Dia tak mau membuat emosi istrinya naik, jadi pilihannya hanya menurut.
"Veline, Faero?"
...🍀...
...🍀...
...🍀...
...Ya ngegantung lagi 😄 ini nih yang paling gak disukai readers. heheh sabar ya....
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya, gift dan komen oke 😉....
...Follow IG author ya : @imeilda_08...
__ADS_1
...See you all by by 💕...