Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 64 #Cinta Tak Bisa Berbohong


__ADS_3

🌲Setiap kehidupan tak akan luput dengan yang namanya masalah. Manusia diciptakan bukan untuk bersenang-senang saja, melainkan diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, taat, ikhlas, jujur, rendah hati, dan masih banyak lagi.


🌲Dan manusia hidup itu untuk taat kepada Tuhan dan perintah-Nya. Roda kehidupan pasti akan berputar seiring berjalannya waktu. Tinggal orangnya saja mau bersabar atau tidak. Tergantung dalam dirinya sendiri, kalau sabar luar biasa. Maka hadiahnya pun tak kalah indah.


...\=\=\=\=\=\=Κ•β€’Ξ΅β€’Κ”\=\=\=\=\=\=...


Matahari berganti bulan, cahaya yang memancar sudah hilang dengan bergantinya malam. Muncul lah keindahan lainnya dari sinar bintang yang berkelap-kerlip dilangit malam. Membentuk kata, benda, atau bisa juga seseorang. Dibawah pohon rindang ditepi danau. Dua orang, lelaki dan perempuan sedang berbincang asyik. Di sisi lain tak jauh dari danau ada resto yang memang langsung menghadap ke danau. Memberi kesan keindahan tersendiri dan hawa sejuk yang membuat nyaman berlama-lama disana.


Michael dan Lavina, mereka bertemu entah untuk mengobrol apa. Beberapa jam yang lalu Michael memberi pesan kepada Lavina untuk bertemu ditempat tersebut. Awalnya Lavina enggan untuk bertemu, namun Michael tak mau tau alasan apapun dari Lavina. Dan tetap memintanya datang tepatnya pukul setengah delapan malam. Kenapa tidak pagi? Michael pasti sedang kerja dan tak sempat untuk ada waktu.


Jadi dia mengajak Lavina bertemu waktu malam hari. Beruntung Lavina juga diperbolehkan keluar dengan alasan di ajak Michael. Yaa memang kenyataannya begitu tanpa Lavina harus berbohong.


...Dua jam lalu. ...


πŸ“² "Datang lah ke tepi danau Z, aku tunggu disana jam setengah 8 malam. Tanpa alasan apapun"


Pesan dari Michael.


Ting.


Notifikasi masuk ke ponsel Lavina saat dia sedang rebahan di ranjang sambil melihat drakor kesukaannya. Dilirik oleh Lavina dari samping tanpa menyentuh ponsel tersebut.


"Michael? Ngapain dia chat aku" diambilnya ponsel tersebut dan Lavina lantas membaca pesan tersebut.


πŸ“±"Ye!" balasan dari Lavina.


"Ck, ngapain pula dia ngajak aku ketemu jam segitu. Males banget, tapi kalau di samperin nanti marah-marah. Aahh ya sudah deh" gumam Lavina lalu dia mematikan laptopnya. Dan mengrmbalikan laptop tersebut ke tempat semula.


Lavina pun pergi ke lemari untuk mencari baju dan melangkah ke ruang ganti. Selepas berganti pakaian, Lavina kembali memberi pesan kepada Michael bahwa dirinya akan otw setelah dari rumah temannya. Kebetulan juga Lavina ada janji dengan teman lamanya untuk bertemu di rumah dia untuk mengambil buku.


Ditepi danau itu Michael masih diam tak bersuara. Lavina yang tabiatnya tak mau berucap sebelum orang lain berbicara sendiri padanya. Jadi dia menungggu Michael untuk membuka suara dan menyampaikan apa maksud dirinya mengajak bertemu. Tapi karna Michael belum juga bersuara, akhirnya Lavina menanyakan perihal pertemuan itu.


"Ngapain ngajak aku ketemu?" tanya Lavina menatap Michael.


"Gabut aja" dengan entengnya Michael mengatakan hal itu, kalau gitu mah tadi Lavina tidak akan datang untuk menemui dirinya.


"What? Hanya itu, kalau gitu aku gak akan datang kesini" dah jelas lah mana mau diajak ketemu hanya untuk kegabutan Michael.


"Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah gitu?" entah kenapa Michael mengatakan hal tersebut kepada Lavina. Sepertinya dia merasakan perubahan pada diri Lavina, dia sendiri pun tak tau penyebab perubahan tersebut dan alasan Michael mengajak ketemu salah satunya untuk bertanya tentang itu.


"Maksudnya apa? Berubah gimana, perasaan aku gini-gini aja" jawab Lavina kini pandangannya lurus ke depan.

__ADS_1


"Yaa dulu kan kamu masih seperti bocah, kalau sekarang sudah lebih dewasa. Terus aku lihat akhir-akhir ini kamu seperti menjauh dariku kenapa?" tanya Michael mememandang ke arah Lavina.


"Memang salah kalau sikapku berubah? Aku hanya ingin merubah pola pikirku saja. Dengan sikapku yang dulu, malah menyusahkan mama, papa, dan kakak. Dan untuk pertanyaan kedua itu aku memang sengaja gak mau dekat sama lelaki mana pun terutama kamu" Lavina tertunduk merasakan sesuatu lain dihatinya saat mengatakan hal tersebut.


Susah sekali buat Lavina untuk jauh dengan Michael. Mungkin hatinya sudah terisi nama orang yang sekarang ada disampingnya. Lavina gak tau kapan perasaan itu datang. Tapi prinsipnya kuat, bahwa dia tidak mau dekat dengan lelaki mana pun kalau bukan lelaki tersebut yang datang ke rumahnya. Sikapnya benar-benar berubah dengan peristiwa yang dirinya alami. Banyak pembelajaran yang dia dapat, rasa tanggung jawab, rasa sakit, kecewa, kemarahan. Selama itu Labina berusaha untuk mengontrol emosi agar tak meluap.


Lavina tak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Baginya berpacaran itu hanya akan melukai hatinya, bahkan rasa cinta yang yang ada sekarang diabaikan oleh Lavina. Bertemu untuk menikah bukan bertemu untuk berpacaran, itulah prinsip Lavina. Dia betul-betul didewasakan oleh keadaan. Sekarang pemikirannya berubah, bukan lagi mementingkan diri sendiri melainkan untuk orang lain juga.


"Kenapa begitu? Apa hatimu sudah mati hanya karna satu lelaki yang menyakitimu" terka Michael.


"Tidak, hatiku masih utuh. Hanya saja aku tak mau merasakan sakit kedua kalinya. Prinsipku bertemu untuk menikah bukan bertemu untuk hanya dipermainkan" tekan Lavina, sorotannya sudah berbeda ke Michael. Antara kesal dan melawan perasaannya, Lavina tak mau membahas mengenai hati atau perasaan.


"Kita sudah bertemu kan. Maka yang keduanya adalah menikah...." Michael menjeda ucapannya, membuat Lavina terbingung dengan ucapan Michael.


Antara kaget dan tak percaya, apa yang Michael maksud? Lavina terus bertanya-tanya dihatinya. Ia diam sejenak sampai akhirnya Lavina bersuara.


"Apa maksudnya?" tanya Lavina menunggu jawaban Michael.


"Menikahlah denganku Lavina" ucap Michael menatap Lavina dengan tatapan berbeda.


Lavina lantas langsung berdiri menatap Michael, tak percaya dengan apa yang barusan dia katakan. Menikah? Kata-kata itu terus terngiang, Lavina merasakan hal lain dalam dirinya.


"Gak usah bercanda kak, perkataanmu itu gak lucu." kata Lavina sedikit meninggikan ucapannya dengan posisi yang masih berdiri dan Michael pun ikut berdiri.


Lavina syok dan terkejut mendengar pernyataan cinta dari Michael. Seseorang yang juga dia cintai, ternyata oerasaan yang dimilikinya terbalaskan. Bukan hanya dia sendiri yang mempunyai perasaan itu, melainkan Michael pun sama. Lavina masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Semua seperti mimpi saja. Ia ingin menangis tapi ditahannya agar tak terlihat oleh Michael.


Lavina masih mematung ditempat, badannya seperti difreez tak bisa bergerak atau berucap apapun. Dirinya ingin menjerit keras, namun hatinya masih belum yakin. Ia tak mau tersakiti kedua kalinya. Hatinya masih belum menerima hal itu. Sementara Michael awalnya memang masih tak percaya. Tapi lama ditahannya malah dia sendiri tersiksa dengan cinta yang dia punya.


"Lavina?" panggilan Michael berhasil membuyarkan lamunan Lavina. Ia menunduk sambil menangis. Air matanya memang tak bisa diajak kompromi. Sudah ditahannya malah ingin menetes saja.


"Aku takut..!" ucap Lavina sambil menunduk tak berani menatap Michael. "Aku gak mau tersakiti kedua kalinya. Aku masih takut kaaakk" tambah Lavina lirih.


Tangan Michael menyentuh pipi mulus Lavina. Ia menanggup kedua pipi itu dan didongakkan sama Michael. Agar Lavina menatap ke arahnya. Ceceran buliran air mata terlihat jelas oleh Michael. Diusap perlahan oleh Michael dengan kedua ibu jarinya bersamaan di sisi kanan dan kiri.


"Jangan menangis, aku tidak akan memaksa jika kamu gak mau. Tapi aku lebih tersakiti lagi jika air mata ini terus mengalir" ucap Michael sembari menatap Lavina dengan lekat.


"Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku. Jika kamu belum bisa menerimanya gak pa-pa, mungkin ini terlalu cepat untuk kamu. Aku akan selalu ada di sisimu sebagai pengganti kakakmu" Lavina masih diam mendengarkan penuturan dari Michael. Ia juga ingin mengatakan kalau dirinya juga mencintai sosok yang ada di depannya. Namun lagi-lagi hati kecilnya masih belum yakin.


Apakah dia harus menerima lamaran Michael sebagai calon istrinya? Perasaan itu menuntut dia untuk menerima. Tapi hati kecilnya masih ragu-ragu untuk menjawab antara iya atau tidak.


"A-aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu kak" akhirnya bibir itu bisa digerakkan untuk berbicara secara jujur. Sudah jelas bahwa Lavina memang tidak bisa membohongi lagi perasaannya terhadap Michael.

__ADS_1


Senyum Michael mengembang dengan sempurna. Ia secara tiba-tiba memeluk Lavina dengan erat. Pelukan itu memberi kehangatan dihati Lavina, nyaman dan tenang. Ia seolah tak mau terlepas di momen ini. Andai waktu bisa dia berhentikan, maka sudah pasti detik itu juga ia akan memberhentikannya.


"Aku masih takut kak, aku masih belum yakin untuk menikah. Aku juga mau fokus kuliah dulu, impian yang benar-benar inginku raih" ucap Lavina setelah terlepas dari pelukan tersebut.


"Kamu yang mengatakan sendiri bahwa prinsipmu bertemu untuk menikah. Jika kamu menundanya apa bedanya dengan kita berpacaran, hanya saja kita sama-sama menahan perasaan ini Lavi" perkataan Michael memang tidak ada yang salah, semua itu benar.


"Datang lah ke rumahku kak. Jika orang tuaku setuju maka aku akan menerima lamaran kakak."


"Baiklah, besok aku akan ke rumahmu. Kalau om Vero ada dirumah, katakan padanya aku mau datang bertemu. Jam 4 sore di rumahmu" ucap Michael yang diberi anggukan oleh Lavina.


Pertemuan mereka pun berakhir, Michael mengantarkan Lavina pulang sampai depan gerbang saja. Lavina memakai mobilnya sendiri, sehingga Michael membuntuti dari belakang. Untuk memastikan Lavina pulang dengan aman.


Di sepanjang jalan Lavina masuk ke dalam rumah, ia tak melihat ibunya. Sepertinya semua orang sudah tidur. Apa keluar? Pikir Lavina. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Wajar kalau semua orang sudah tidur. Namun dugaan Lavina salah, sang ayah ternyata baru saja keluar dari ruang kerjanya dan berpapasan dengan Lavina.


"Lavi..!" panggil tuan Alvero.


"I-iya pa" Lavina takut sang papa marah sebab dia pulang malam.


"Baru pulang? Dari mana?" tanya tuan Alvero yang sudah ada di depan Lavina.


"Iya pa aku baru pulang, tadi ketemu sama kak Michael. Hmm besok dia mau ketemu sama papa jam 4 sore. Papa bisa kan? Dirumah kok" kata Lavina.


"Tumben, ya sudah besok papa akan tunggu di rumah, jam 4 sore kan?"


"Iya pa. Kalau gitu Lavina ke atas dulu ya mau istirahat"


"Tidurlah, besok kamu kan masuk kuliah" ucap tuan Alvero.


"Iya pa, good night my father"


"Night too sayang" Lavina memeluk tuan Alvero sejenak lalu berjalan meninggalkan untuk ke kamarnya.


Lavina sudah memasuki kuliahnya dua hari lalu. Bagi dia mudah untuk memasuki kuliah kedokteran, sebab ayahnya orang yang disegani dan dikenal banyak orang. Berkas kelengkapan untuk masuk perkuliahan saja, asisten tuan Alvero yang memasukkan ke tempat kuliah Lavina sekarang. Dan dia hanya tinggal datang saja untuk masuk. Tempat perkuliahan itu dipilih sendiri oleh Lavina, melihat universitas itu juga terkenal temasuk elit. Biaya pun sangat mahal untuk bisa masuk ke situ, yaa memang kuliah kedokteran tidak murah. Tapi ini lebih mahal dari universitas kedokteran lain.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


Heheh bertemu lagi sama othor nih yang ter....ter.....ter apa ya πŸ€” tersayang deh πŸ˜„. Bagaimana kabarnya readers tercinta? Semoga sehat selalu ya.


Di part ini khusus Michael dan Lavina, gimana tuh apakah lamaran bang Michael akan diterima?


Tunggu part selanjutnya ya, main tebak-tebakan dulu gih 🀭. Jangan lupa jempolnya, klik komen, tulis apapun untuk author agar semangat terus. Jangan yang negatif yaa, malah buat othor sedih bacanya πŸ˜₯. Ada yang mau nambah gift dan vote juga boleh othor malah ucapin terima kasih buat readers yang selalu setia.

__ADS_1


See you all, by by πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ’žπŸ’ž


__ADS_2