Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 79 #Naik Daun


__ADS_3

Jennie, Lanni, dan Nesya, mereka sudah mendekam dipenjara atas perbuatan yang telah dilakukan. Terutama Jennie, ia yang mendapat kurungan penjara paling lama. Hancur sudah harapan masa depan yang mereka tata dengan rapi. Hanya karna sebuah rasa ketidaksukaan dan iri, menghancurkan semua impian yang mereka ingin capai.


Keluarga Jennie tengah dilanda kehancuran dengan usaha ayahnya yang sudah bangkrut. Semua aset dijual untuk menutupi kekurangan dan menggaji pegawai. Perusahaan Mahendra resmi ditutup karna sudah tidak bisa beroperasi lagi. Setiap hati kerjaan Jennie hanya bisa berteriak-teriak dalam sel untuk dibebaskan. Sering kali dia ditegur oleh penjaga lapas, tapi tetap saja kelakuannya tidak bisa dirubah.


Apalagi sekarang Nesya hamil karna perbuatannya sendiri, tentunya bersama kekasih tersayangnya. Karna memang rencana awalnya adalah ingin menikah dengan Simon. Semua itu harus kandas hanya karna dia mau membantu tindak kejahatan. Parahnya Simon tidak mau mengakui bahwa itu adalah anaknya. Ia malah menuduh Nesya melakukannya dengan orang lain. Padahal faktanya Nesya hanya menyayangi dirinya.


Memang sudah dasarnya dari awal Simon tidak serius dengan Nesya. Hanya saja mata Nesya tertutupi oleh cinta. Ini lah akibat dati perbuatannya sendiri. Tiap hari Nesya hanya bisa menangis meratapi hidupnya yang tidak tau harus dibawa kemana. Seolah semua hancur, orang tuanya pun sangat marah dengan Nesya. Mereka sampai tak mau menganggao Nesya bagian dari keluarganya.


Miris sekali kehidupan ketiga perempuan itu. Sama-sama merasakan siksaan dalam penjara. Apalagi dalam keadaan hamil, pasti sangat merepotkan. Itu lah yang memang harus dijalani sampai masa tahanan usai. Semoga mereka bisa berubah setelah keluar dari penjara.


Mahendra sangat terpukul dan hancur. Ditambah perusahaan yang sudah ditutup. Sampai dia terkena serangan jantung dan harus dilarikam ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit, dokter menyatakan kalau dia terkena struk ringan. Beruntung Allah tidak langsung mengambil nyawanya. Ia masih diberi kesempatan untuk berubah.


"Aku tidak tau lagi nasib kita setelah ini pa. Rumah sudah diambil oleh pihak bank. Uang diatm juga tinggal sedikit Cukup kalau buat menyewa rumah dan melanjutkan hidup." gumam Raina yang sedang duduk dikursi sebelah suaminya yang sedang tertidur.


"Beruntung biaya rumah sakit sudah lunas. Andai belum bagaimana nasib kita mau bayar biayanya." gumamnya lagi menghembuskan nafasnya kasar.


Tok....Tok.....


Ceklek.


"Permisi nyonya, saya ingin memeriksa keadaan pak Haris dulu" ucap dokter Ridwan bersama satu suster dibelakangnya.


"Silahkan dok, tapi suami saya masih tidur." jawab Raina.


"Tidak apa-apa, saya hanya ingin menyuntikkan obat saja" kata dokter Ridwan ambil tersenyum.


"Baik dok"


Kebetulan memang Mahendra dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kendrick. Jadi gak heran kalau dokter Ridwan ada disana. Farghan dan dokter Ridwan adalah dokter yang terbaik dirumah sakit tersebut.


"Sudah, pak Haris besok boleh pulang. Tapi tetap haris dijaga kesehatan dan pola makannya" ucap dokter Ridwan selesai memeriksa Mahendra.


"Iya dok, terima kasih" dokter Ridwan hanya mengangguk, kemudian pergi meninggalkan ruang perawatan tersebut.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Di kamarnya Eveline sedang menatap foto Clarissa bersamanya. Ia begitu merindukan sosok sahabatnya. Entah kapan Clarissa akan kembali, harapnya secepat mungkin. Tapi Eveline juga berpikir tentang kehamilan Clarissa yang kemungkinan juga sudah besar. Sebab mereka hamil juga hanya renggang beberapa minggu saja.


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Eveline. Ia melihat jendela kamar ternyata diluar adalah mobil suaminya. Ia segera turun untuk menyambut suami tercintanya.


Eveline sudah kembali ke rumah tersebut dijemput oleh Faero sendiri. Satu bulan lamanya Eveline tinggal dirumah orang tuanya sampai pada akhirnya dia dijemput pulang oleh Faero. Saat itu hanya tangis yang ditumpahkan oleh Eveline karna rindunya yang teramat dalam. Tiap malam Eveline menangis hanya karna ingin dipeluk oleh Faero.


Kata yang diucapkan oleh Ferry pada saat Faero menjemput Eveline begitu dalam. Sampai Faero dibuat diam oleh ayah mertuanya. Kata-kata itu begitu menusuk dihatinya. Hingga sekarang perkataan tersebut masih disimpan dalam memorinya.


...Tiga bulan yang lalu...


... ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄...


"Pa aku kesini ingin menjemput Eveline, maaf karna Faero baru bisa menjemputnya. Terima kasih sudah menjaga Eveline disini." ucap Faero duduk di depan Ferry sementara Garcia sedang memanggil Eveline dikamarnya.


"Tidak apa-apa sudah tugas kami juga sebagai orang tua untjk menjaga anaknya." jawab Ferry sambil tersenyum, tak ada rasa marah sama sekali dengan Faero.


"Maaf ya pa, Faero gak seharusnya berlaku seperti ini dengan Eveline. Faero......" perkataannya tertahan sejenak dan langsung disahuti oleh Ferry.


"Iya pa in sya Allah Faero akan sanggupi kalau Faero sanggup" jawab Faero.


"Tolong ya nak jangan pernah sakiti Eveline sedikit pun. Jangan menyakiti fisik dan batinnya. Kalau kamu sudah merasa bosan dengannya, antarkan dia pulang kesini dengan baik-baik, seperti papa mengantarkannya untuk kamu jaga. Kami akan menerima dengan tangan terbuka. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian. Jangan sesekali bermain kasar apalagi membuat hatinya terluka. Eveline adalah putri kesayangan kami, kalau dia terluka maka kami sebagai orang tua juga ikut merasakan apa yang dia rasakan. Kamu dengarkan nak? Papa mohon sekali." perkataan Ferry begitu menyentil hati Faero. Hatinya langsung digerogoti dengan rasa bersalah. Kata-kata Ferry penuh dengan makna yang tidak bisa digambarkan dengan apapun.


Faero sampai dibuat bengong oleh ucapan ayah mertuanya. Perkataan tadi terus terngiang-ngiang didalam dirinya. Hingga lamunannya terbuyarkan sebab Ferry memanggil namanya.


"Iya pa In sya Allah. Faero akan ingat terus perkataan papa barusan. Faero sangat menyayangi Eveline. Faero hanya berharap Eveline lah yang pertama dan terakhir untukku" balas Faero.


"Aamiin.." ucap Ferry mengaamiinkan dan terus tersenyum ke arah faero. Dalam hatinya ia bersyukur Putriny dipertemukan dengan jodohnya yang baik dan lembut tutur katanya. Ferry tau kalau sebanarnya Faero begitu menyayangi Eveline.


... ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄...


Eveline berjalan menghampiri Faero, ia mencium punggung tangan suaminya. Lalu berniat untuk membawakan tasnya Faero, namun dilarang. Akhirnya Eveline hanya bisa menurut saja. Dari arah depan Cantika datang membawa paper back berwarna abu-abu.

__ADS_1


"Mama bawa apa?" tanya Faero yang tak sengaja melihat.


"Ohh ini kue coklat buat istrimu. Tadi kebetulan lewat saja depan toko langganan mama. Sekalian beli" ujar Cantika lalu memberikan paper back tersebut kepada Eveline.


"Lah itu namanya disengaja bukan tidak sengaja ma" gerutu Faero membenarkan, Cantika hanya tertawa lirih. Ia memang sengaja membelikannya untuk Eveline.


Mereka semua sudah baikan dan Cantika juga sudah tak membahas hal yang kemarin-kemarin. Kehidupan mereka sudah berjalan seperti biasa. Tetapi berasa ada yang kosong dan kurang didalamnya. Tentu saja tanpa kehadiran Clarssa yang menjadi periang dikeluarga mereka. Namun apa daya tuan Nevan tak mempedulikan lagi.


Sehingga mereka dituntut untuk hidup apa kata sekarang bukan kemarin. Dalam hati Cantika sebenarnya juga merindukan Clarissa. Putri tersayangnya yang dia perjuangkan sejak dulu. Kini harus keluar dari keluarga mereka. Beberapa kali Cantika meminta suaminya agar mengembalikan Clarissa. Bukan hasil memuaskan yang didapat tapi malah sebaliknya. Jadi sekarang dia hanya bisa pasrah dan berdoa yang terbaik.


...OOO≧▽≦OOO...


London.


Clarissa beberapa kali mendapat pesan dan panggilan dari Lavina maupun Eveline. Tapi tak sekali pun Clarissa membalas atau mengangkat telfon mereka. Ia tau kalau sekarang pasti Lavina menghubungi untuk memintanya pulang ke Indonesia. Pastinya untuk menemui Kendrick. Clarissa masih banyak pekerjaan disana yang harus diurus. Apalagi sekarang dia sedang hamil besar dan tidak mungkin untuk pulang dengan keadaan seperti itu.


Nanggung sekali karna sebentar lagi dia akan melahirkan tinggal menghitung minggu saja. Banyak persiapan yang harus di siapkan oleh Clarissa. Sekarang pekerjaannya juga sudah dikurangi. Ia lebih banyak dirumah dan menyerahkan urusan butik kepada Chera. Apalagi sekarang butiknya sedang naik-naiknya. Pasti banyak sekali costumer yang menyewa jasanya.


Hanya saja sekarang Clarissa benar-benar banyak istirahat. Dengan perut sebesar itu ia tak sanggup harus berdiri lama dan mengurus butik. Bahkan butiknya sudah terkenal dipenjuru kota dan dikenal dikota-kota lain. Ia juga berniat membuka butiknya di Indonesia. Satu bulan lalu Clarissa membeli tanah di Indonesia untuk digunakan membangun cabang butiknya disana. Walau pun nanti Clarissa harus tinggal di Indonesia lagi. Dia tetap akan mengkontrol bisnisnya di London.


"Sudah makan Rissa?" tanya Lucy diruang keluarga bersama Clarissa.


"Sudah bi, tadi sama Chera. Bi selesai lahiran nanti Clarissa mau pulang ke Indonesia." ucap Clarissa.


"Pulang lah nak, pasti keluarga mu juga rindu. Terutama kamu harus perjuangkan suamimu. Bibi doakan dia bisa bertahan sampai kamu tiba nanti" jawab Lucy sambil memegang bahu Clarissa.


...🍀...


...🍀...


...🍀...


...Yaa lanjut besok oke😄 Harus dijeda dulu. ...

__ADS_1


...Sampai jumpa besok👋...


__ADS_2