Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 55 #Amukan Nyonya Mesya


__ADS_3

Cahaya matahari yang menyilaukan mata tembus menyusur masuk dalam gelapnya ruang. Membuat seseorang yang sedang tertidur pulas harus terganggu untuk bangun dari mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya akan menjadi nyata. Mata yang sembab masih membekas dan tersisa isakan yang di pendamnya.


Tubuh yang gontai itu membawa Clarissa ke dalam kamar mandi. Diguyur seluruh tubuhnya dengan sower yang terus mengalir. Hawa dingin menyeruak dalam tubuhnya, membuat mata yang tadinya ingin terus tertidur kini terbuka lebar. Teringat jelas memori malam yang mencekam sekaligus membuat hatinya hancur berkeping-keping. Entah dia harus iba atau marah.


Selesai mandi Clarissa keluar menggunakan kimono yang masih menempel di tubuhnya. Dibukanya lemari untuk mencari pakaian yang cocok. Setelah itu dia pergi ke ruang ganti.


Clarissa merapikan tempat tidurnya yang berantakan. Dikembalikan lagi bantal dan selimut yang tadinya berceceran kini sudah rapi ditempatnya. Clarissa pun keluar dari kamarnya menuju ke bawah. Sepertinya dia bangun kesiangan, jelas dilihat jam yang terpapang diponselnya. Menunjukkan pukul sembilan, Clarissa benar-benar kesiangan bangun.


"Non Clarissa sudah bangun, mau bibi siapin sarapan non?" bi Heti tak sengaja melihat Clarissa setelah dari belakang.


"Gak usah bi, nanti aku bisa bikin sendiri." Clarissa berjalan menuju dapur untuk membuat sarapannya sendiri.


Bi Heti pun melanjutkan pekerjaannya. Namun langkahnya terhenti karna Clarissa memanggilnya.


"Bi, orang rumah kemana semua kok sepi amat ya?" tangannya masih memotong sosis.


"Tuan pergi kerja non, kalau tuan muda juga sudah berangkat kerja. Nyonya juga sudah berangkat ke butik, tadi nyonya juga pesan sama bibi kalau non sudah bangun disuruh sarapan langsung"


"Lah Eveline kemana bi kok gak kelihatan juga?" tanya Clarissa.


"Tadi keluar juga non bareng sama tuan muda" bi Heti berjalan ke rak untuk mengambil piring bersih lalu di berikannya pada Clarissa.


"Ohh ya sudah" Clarissa menaruh nasi goreng yang dia buat ke atas piring yang sudah diambilkan oleh bi Heti.


"Aku sarapan dulu ya bi" sambil berjalan menuju meja makan.


"Iya non" bi Heti kembali melanjutkan tugasnya.


🌻


🌻


🌻


Masih dengan waktu yang sama namun berbeda tempat. Kesedihan masih melanda hati seorang ibu yang telah melahirkan serta merawatnya. Begitu teriris perih dan koyak, melihat anak yang begitu dia sayang harus terbaring lemah dengan berbagai macam alat medis modern yang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Selang yang dimasukkan ke dalam mulutnya ditambah alat bantu pernafasan.


Wajah yang pucat dan bibir yang kering. Berbagai alat medis untuk membantunya bisa bertahan antara hidup dan mati. Tangannya masih berdenyut, jantungnya masih berdetak. Namun jiwanya entah pergi kemana, berkelana mencari jalan agar bisa kembali untuk melihat orang yang dicintai.


Dielus rambut nya dengan penuh kasih sayang. Air mata tak henti terus mengalir dari sudut matanya. Lantunan doa selalu terucap mengiringi tangis yang terus pecah tak bisa tertahan. Sang mama masih berharap putra yang dia sayang bisa membuka mata dan mengukir senyum seperti semalam sebelum kejadian na'as menimpanya. Tapi semua itu sia-sia saja, tak ada respon apapun dari sang anak yang diharapkan kesadarannya.


Walau pun terselip rada kecewa dalam hati nyonya Mesya. Tak sebanding dengan rasa takutnya akan kehilangan sang putra yang begitu dia sayangi. "Kapan kamu akan kembali tersenyum untuk mama Ken? Mama pengen liat senyumanmu, tingkah yang kadang buat mama kesal, mama ingin melihat kamu bisa sadar dan kembali melanjutkan hidupmu nak" derai air mata terus menetes sambil diusap lembut tangan Kendrick.

__ADS_1


Tak ada respon apapun pada Kendrick. Ia pun memutuskan untuk keluar. Tuan Alvero mengajak istrinya untuk makan dulu, tapi nyonya Mesya tak berselera untuk menelan apapun. Rasanya pahit dan getir, susah untuk memasukkan makanan ke dakam lambungnya. Hambar, ya memang itu rasanya. Nyonya Mesya hanya mengatakan tidak, tapi tuan Alvero masih memaksa agar mau makan.


Mau tak mau nyonya Mesya pun menuruti kemauan suaminya. Mereka pergi beriringan menuju kantin rumah sakit dan menitipkan Kendrick kepada suster, sebab tidak ada yang menjaga selain mereka. Lavina harus menjaga Michael dirumahnya untuk membantu keperluannya.


Dilorong sebelum mereka berbelok menuju kantin, mata nyonya Masya menangkap seseorang yang sangat dia benci. Langkahnya beralih menuju dua perempuan yang lagi berdebat. Tuan Alvero bingung mau tak mau dia pun mengikuti langkah kaki istrinya.


Tangan nyonya Masya menarik pergelangan tangan salah satu perempuan tersebut. Tanpa diduga satu tamparan mendarat di pipi perempuan tersebut yang tak lain adalah Jennie dan Nesya.


Plak!


Jennie sontak terkejut dan satu tangannya langsung memegangi pipi yang tadi ditampar oleh nyonya Mesya. Jennie dan Nesya tak menduga akan bertemu dengan kedua orang tua Kendrick.


"Tante Mesya!" ucap Nesya terkejut.


"Kau perempuan licik, berhati iblis. Masih ada muka kamu nampak disini, HAH!! Sudah saya duga dari awal kalau memang kamu itu perempuan yang tidak punya rasa malu. Hanya bisa memberi luka, kau itu perempuan macam apa" hardik nyonya Mesya geram, mata yang berkobar amarah tak bisa di bendung lagi. Bahkan saat semua mata tertuju pada mereka, nyonya Mesya tak mempedulikan.


"Tante.....Aku bisa!" perkataan itu langsung dipotong oleh nyonya Masya.


"Gak perlu kamu cari muka didepan saya. Gara-gara kamu anak saya jadi begini, memang itu kan kemauanmu? Melihat Kendrick tidak bisa bahagia dengan pasangannya yang sekarang. Kamu iri, IYA? Kamu sendiri yang menghancurkan dan sekarang malah iri dengan kehidupan orang lain. Memang dasarnya hatimu itu busuk" hinaan terus terlontar pada Jennie. mana ada hati seorang ibu yang tidak terluka melihat kebahagiaan anaknya dihancurkan oleh wanita yang pernah sebelumnya menyakiti hati putranya.


"Harusnya tante salahkan menantu tante dan ini semua bukan atas kehendakku. Aku rasa tante sudah tau kalau Kendrick dengan mudahnya kembali dengan saya. Itu artinya dia gak bahagia bersama wanita gudik itu" Jennie tak terima dihina bertubi-tubi sampai semua mata tertuju pada mereka, seolah dirinya penyebab semua kejadian ini.


Memang kenyataannya seperti itu kan!


Dasarnya dengki memang tidak punya rasa bersalah..


"Tidak perlu kamu malah menyalahkan Clarissa. Semua ini memang ulahmu, mana ada perempuan baik kalau rela menyerahkan harga dirinya untuk di renggut oleh lelaki. Kalau memang dia bukan pel*cur" sangat menohok ucapan nyonya Mesya samapi menekankan kata terakhirnya agar wanita didepannya itu sadar diri.


Jennie yang sudah tak tahan dengan berbagai hinaan yang terlontar untuknya. Apalagi semua orang yang berlalu lalang mendengar serta menyaksikan perdebatan mereka. Jennie dibuat malu oleh nyonya Mesya, sampai menghinanya pel*cur.


Apalagi coba kalau bukan kata-kata itu yang pantas untuknya?


"Sudah ma, kita pergi saja ini rumah sakit jangan bikin keributan disini." tuan Alvero menggenggam tangan istrinya erat dan menariknya untuk pergi menjauh dari Jennie. Walaupun kenyataannya tuan Alvero sangat ingin membuat Jennie menerima akibat atas perbuatannya. Namun ini bukan waktu yang pas untuk mereka berdebat apalagi di rumah sakit. Pasti banyak pasien yang terganggu dengan perdebatan mereka.


...1 Jam yang Lalu ...


...o o o o...


"Sudah lah Jen, Gak usah kamu cari masalah untuk pergi kesana. Pasti sekarang orang tua Kendrick itu menyalahkan kamu, yang pasti mereka juga pasti sudah tau tentang perselingkuhan itu" cegah Nesya agar Jennie tak pergi ke rumah sakit saat mobil sudah siap dikendarai.


"Aku gak peduli, aku ingin tau keadaan Kendrick sekarang. Masa bodoh mereka mau menyalahkanku, memang kenyataannya seperti itu. Kalau kamu gak mau nemenin ya sudah diam aja biar aku sendiri yang ke rumah sakit" Jennie sangat keras kepala walau sudah dicegah dengan berbagai cara Nesya tetap hak bisa sehingga mau tak mau Nanya harus ikut dengan Jennie untuk memastikan sahabatnya tidak kenapa-napa.

__ADS_1


Sepanjang jalan Jennie hanya terdiam membisu dan sesekali melihat ponsel atau mengarah ke jendela luar.


Setengah jam ditempuh akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Jennie dan Nesya beriringan menuju petugas yang ada didepan untuk menanyakan kamar rawat Kendrick.


Mendengar bahwa Kendrick berada diruang ICU, Jennie bengong dan menarik Masya untuk segera melihat pujaan hatinya yang entah masih ada di hatinya atau dia terobsesi dengan Kendrick. Namun dilorong menuju ruang ICU Nesya menahan tangan Jennie.


"Ada apa sih Nes, kalau kamu memang gak mau ikut kesana diam aja disini" cecar Jennie.


"Sudah lah Jen, kita balik yuk. Pasti disana ada orang tua Kendrick. Gak bakal kamu boleh menemui anaknya, dari pada berdebat disini. Nanti loh sendiri yang malu" Masya kembali menarik tangan Jennie untuk kembali keluar. Segara Jennie melepaskan pegangan Nesya.


"Loh aja sana yang pulang, gue masih ingin disini" jawab Kencur membuat Nesya menghembuskan batasnya kasar.


"Loh emang keras kepala ya dibilangin." Nesya sangat kesal melihat tingkah sahabatnya yang sangat keras kepala kalau sudah A hak boleh melenceng ke B.


Tiba-Tiba pergelangan tangan Jennie ada yang menarik dan satu tamparan mendarat di pipinya.


Plak!


"Tante Mesya!" ucap Nesya terkejut.


"Kau perempuan licik, berhati iblis. Masih ada muka kamu nampak disini, HAH!! Sudah saya duga dari awal kalau memang kamu itu perempuan yang tidak punya rasa malu. Hanya bisa memberi luka, kau itu perempuan macam apa"


"Tante.....Aku bisa!" perkataan itu langsung dipotong oleh nyonya Masya.


"Gak perlu kamu cari muka didepan saya. Gara-gara kamu anak saya jadi begini, memang itu kan kemauanmu? Melihat Kendrick tidak bisa bahagia dengan pasangannya yang sekarang. Kamu iri, IYA? Kamu sendiri yang menghancurkan dan sekarang malah iri dengan kehidupan orang lain. Memang dasarnya hatimu itu busuk"


"Harusnya tante salahkan menantu tante dan ini semua bukan atas kehendakku. Aku rasa tante sudah tau kalau Kendrick dengan mudahnya kembali dengan saya. Itu artinya dia gak bahagia bersama wanita gudik itu"


"Tidak perlu kamu malah menyalahkan Clarissa. Semua ini memang ulahmu, mana ada perempuan baik kalau rela menyerahkan harga dirinya untuk di renggut oleh lelaki. Kalau memang dia bukan pel*cur"


"Sudah ma, kita pergi saja ini rumah sakit jangan bikin keributan disini." tuan Alvero menggenggam tangan istrinya erat dan menariknya untuk pergi menjauh dari Jennie.


💮💮💮💞💞💮💮💮


Segini dulu ya readers yang penting mengobati rindu kalian.


Maaf author sibuk didunia nyata jadi gak sempat untuk ke dunia halu. Ini othor sempetin untuk up ❤


Sedekah bunganya dan kalau mau kasih kopi juga Gak papa 😁. Thanks


See You All

__ADS_1


By By 👋💐


__ADS_2