
Lanni memarahi Jennie karna sikapnya yang tidak bisa waspada. Setelah kepulangan Jennie dari hotel, ia menceritakan semuanya kepada Nesya dan Lanni. Sehingga mereka curiga ada yang berniat jahat kepada Jennie.
"Pantesan gue cari loh gak ada. Katanya ke toilet bentar tapi ujung-ujungnya malah ngilang. Emang loh gak sadar lelaki itu siapa?" tanya Nesya duduk di sebelah Jennie di halaman belakang.
"Mana gue inget, gue aja gak sadar. Tau-tau dah di hotel." ketus Jennie.
"Beruntung loh dek gak diapa-apain sama lelaki itu. Gimana kalau beneran lelaki itu ngelecehin loh. Keluarga kita yang malu bukan hanya loh." sahut Lanni ketus.
"Kok malah pada sewot ke gue sih. Mana mau gue kek gini juga. Bantu mikir lah buat cari itu orang" marah Jennie yang terus disudutkan oleh kakak dan sahabatnya itu.
"Minta bantuin papa saja. Kalau kita cari sendiri gak bakalan ada ujungnya. Papa kan bisa sewa orang buat cari lelaki itu" saran Lanni, tapi Jennie malah tidak setuju.
"Gak ah, nanti yang ada papa malah marah balik nyalahin gue kak. Cari sendiri aja lah" sahut Jennie tak setuju.
"Ya sudah loh sendiri saja yang nyari. Gue gak mau ikut campur. Diberi saran mudah malah milih yang sulit" sindir Lanni lalu pergi meninggalkan Jennie dan Nesya.
"Mendingan dengerin deh saran dari kakak loh. Papa loh itu pasti punya kenalan banyak, jadi mudah untuk mencari nya" timpal Nesya membenarkan saran Lanni.
"Issh.....Nanti gue pikirin lagi. Pusing kepala lama-lama" kesal Jennie.
Ia masih menerka-nerka siapa lelaki yang sudah membawanya ke hotel. Postur tubuhnya sangat gagah dan pakaian yang dikenakan bukan seperti orang biasa kalau seinget Jennie. Yang pasti bukan orang sembarangan, terka Jennie.
...◦•●◉✿🌹✿◉●•◦...
Suara notifikasi pesan masuk ke hanphone tuan Alvero. Nomor yang tidak dikenal entah dari siapa mengirim sebuah vidio dan rekaman suara. Karna penasaran tuan Alvero yang memang saat itu sedang berhadapan dengan laptopnya langsung membuka dan melihat isi video dan rekaman suara tersebut.
Betapa terkejutnya tuan Alvero yang mengetahui fakta sebenarnya. Pelaku yang membuat putranya koma berbulan-bulan. Matanya berapi-api seperti ingin menelan orang hidup-hidup. Ia terus mengumpat melihat vidio itu.
"Awas kalian, aku pastikan hidupmu akan hancur!!" tekan tuan Alvero. Lalu ia meninggalkan ruangannya menuju ruang tamu. Ternyata ia kedatangan anak bungsunya. Sebab hatinya sudah diselimuti oleh amarah, ia bahwan tidak bisa tersenyum lagi. Michael dan Lavina yang kala itu baru datang langsung heran melihat sang ayah dengan wajah marah menghampiri mereka.
Mereka kira tuan Alvero marah karna perbuata mereka. Barangkali ada yang salah tapi mereka gak menyadari.
"Assalamu'alaikum pa" salam Michael dan Lavina bebarengan sambil meraih tangan tuan Alvero.
"Wa'alaikumussalam!" jawab tuan Alvero dengan nada ketus.
__ADS_1
"Papa kenapa kok kelihatannya marah gitu?" tanya Mesya yang keheranan.
"Kalian berdua duduklah" kata tuan Alveri tak menjawab ucapan istrinya. Duh semakin deg degan saja mereka berdua. Takutnya ada kesalahan fatal yang diperbuat keduanya.
"Ada apa pa?" tanya Michael mencoba bersikap biasa.
"Lihat ini!" tuan Alvero menyodorkan ponselnya ke arah Michael dan Lavina.
Saat mereka berdua memgambil ponsel tersebut dan melihat isi dari video juga rekaman suara yang entah pengirimnya dari siapa. Michael maupun Lavina dibuat kaget dan syok. Mereka ikut marah apalagi Lavina. Ingin sekali dia melakukan apa yang sudah dilakukan pelaku tersebut pada kakaknya.
"Siapa yang mengirim ini pa?" tanya Lavina.
"Papa juga gak tau, nomernya saja gak kenal. Itu bukan nomer dari Indonesia depannya saja sudah beda" Michael dan Lavina baru sadar kalau nomer itu memang bukan dari Indonesia melainkan dari luar negeri.
"Loh kok dari noner luar. Kalau memang dia tau kasus ini seharusnya dia orang Indonesia sendiri dong pa. Apa ada ya orang luar yang datang kesini." pikir Lavina heran.
"Sepertinya dia orang yang dekat sama keluarga kita. Kalau enggak mana mungkin dia tau semua sampai mau mencarikan bukti dengan cuma-cuma. Tapi dia memang memggunakan nomer luar agar tidak diketahui. Mungkin saja dia ingin membantu kita dengan cara sembunyi" papar Michael.
"Benar apa katamu Chel. Papa juga sepemikiran. Kalau gitu bukti ini harus segera kita laporkan ke polisi biar dia segera ditangkap. Papa gak akan biarin mereka berkeliaran diluar sana sedangkan Kendrick harus terbaring dirumah sakit!!" tegas tuan Alvero yang diiyakan oleh mereka semua.
Tuan Alvero pun menghubungi Roy asisten Kendrick untuk datang ke rumah. Mereka akan ke kantor polisi saat itu juga untuk menuntaskan semuanya. Tuan Alvero sudah geram melihat kasus putranya tak kunjung selesai.
...::::::::::::::::ʕ•ε•ʔ::::::::::::::::...
London.
Dikamarnya Clarissa sedang menghitung pemasukan bulan ini yang terbilang cukup besar dibandingkan bulan lalu. Customernya juga sudah banyak. Padahal belum lama dia membuka butiknya. Memang mereka semua menyukai desain Clarissa yang cantik dan rapi. Model pun bervariasi dan sangat elegan. Pun modelnya sederhana, tetap terlihat modis dan cantik.
Suara ketukan pintu membuat fokus Clarissa teralihkan. Ia berjalan ke arah pintu dan perlahan membukanya. Terlihat Lucy berdiri di depan pintu, ia berniat memanggil Clarissa untuk makan bersama diluar. Mereka memang sudah janjian untuk makan malam diluar bersama Chesa juga.
"Sebentar lagi Rissa turun. Bi Lucy tunggu diluar saja." kata Clarissa sambil tersenyum.
"Ya sudah kami tunggu diluar." jawab Lucy lalu dia pergi meninggalkan kamar Clarissa.
Clarissa bergegas membereskan laptopnya dan mengambil tas. Lalu ia pergi keluar menghampiri Lous dan Lucy serta Chera yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Maaf ya jadi menungguku" ujar Clarissa.
"Gak pa-pa, kalau gitu kita langsung berangkat saja"
Mereka menaiki mobil yang sama. Chesa dan Leo akan langsung ke restoran tempat mereka akan bertemu. Sepanjang jalan mereka sesekali bebicara sampai pembicaraan itu mengacu pada masalah Clarissa. Yang membuat topik pembicaraan mereka tidak bisa berhenti.
"Kamu gak mau mengunjungi suamimu Rissa?" tany2a Lucy.
"Aku gak sanggup bi untuk melihatnya. Hatiku malah tambah sakit. Aku sedang menunggu waktu yang pas untuk pulang. Rencananya aku juga mau lahiran disini saja." balas Clarissa.
"Kalau suaminu sadar sebelum kamu lahiran. Apa kamu akan tetap ingin lahiran disini?" tanya Lous sambil mengemudikan mobil.
"Kalau dia sudah sadar duluan, ya aku akan pulang dan lahiran di Indonesia saja." balas Clarissa tak lupa senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Ya sudah terserah kamu yang penting lahirannya lancar."
"Iya paman" balas Clarissa.
Mereka meneruskan perjalanan diiringi dengan canda tawa. Clarissa sesekali menjawab canda tawa mereka. Ia fokus ke ponsel yang sedari tadi dipegang oleh Clarissa. Entah apa yang dia kerjakan. Hingga tiba depan restoran mereka langsung masuk dan mencari keberadaan Chesa.
Malam itu dipenuhi dengan keharmonisan mereka. Canda tawa selalu mengiri dan kelucuan tingkah Zhafi yang membuat mereka gemas. Clarissa jadi membayangkan kalau anaknya lahir nanti pasti segemas itu seperti Zhafi. Tapu Clarisda belum tau anaknya laki-laki atau perempuan. Ia sudah menyiapkan nama untuk anaknya, perempuan maupun laki-laki.
...🍀...
...🍀...
...🍀...
...Segini dulu ya itung-itung bonus malming 🤭 Sampai bertemu hari senin. ...
...Jempolnya dong diklik 😉 nambah kopi juga boleh nih 😄....
...IG : @imeilda_08...
...See you all by by 👋💖...
__ADS_1