
Ini sangat membuat tuan Alvero juga curiga. Dan ia menanyakan kembali perkembangan sejauh mana kedua orangnya mencari bukti. Lalu mereka menjelaskan lagi pada tuan Alvero.
"Kami sudah menyelidiki tentang lelaki yang menabrak. Ternyata dia mempunyai istri dan anak. Saat kami datang ke rumah mereka ternyata kehidupan mereka sangat miris. Kami curiga kalau Jennie menutup mulut supir tersebut dengan menjanjikan sesuatu" jelas salah satu dari mereka.
"Lalu? Apa hanya itu?" tanya tuan Alvero lagi.
"Kami masih menyelidikinya."
"Selesaikan segera, saya mau akhir bulan ini bukti itu sudah ada. Gak ada bantahan!!" tegas tuan Alvero yang sudah geram dengan kasus putranya yang tak kunjung selesai.
"Ba-baik kami akan memberi kabar segera" jawab mereka dengan suara terbata-bata karna takut melihat tatapan tajam tuannya. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Awas kalian!! Aku pastikan hidupmu akan hancur, berani-beraninya bermain denganku" gumam tuan Alvero, tangannya mengepal kuat. Tatapannya tajam seolah ingun menerkam musuhnya.
...∞∞∞ʕ•ε•ʔ∞∞∞...
Di sebuah kleb malam, tempatnya orang melakukan kemaksiatan. Wanita yang mempertontonkan tubuhnya pada lelaki buaya yang suka menjamah dan tak segan-segan meniduri mereka. Hanya untuk meluapkan hafa nafsunya. Jennie sedang berada disana bersama dengan Nesya dan Simon.
Mereka menyewa ruang VIP. Akhir-akhir ini Jennie sering keluar masuk kleb. Ia tak jarang juga ikut minum bersama temannya yang lain. Pikirannya frustasi dengan masalah yang dia hadapi. Jiwanya sedang dilanda ketakutan, takut kalau perbuatannya akan diketahui oleh orang lain. Terutama keluarga Raymond. Pasti bukan dia saja yang akan dihukum melainkan keluarganya juga akan kena imbasnya.
Walau begitu Mahendra tidak gentar sedikit pun dan malah tertawa puas melihat penderitaan yang melanda keluarga Raymond. Itulah yang dari dulu ingin dia tuntaskan, tapi belum bisa. Dan akhirnya tercapai dengan otak licik Jennie. Mahendra memperalat Jennie untuk menuntaskan dendamnya. Tanpa disadari oleh Jennie dan Lanni.
Pelayan bar masuk ke ruang VIP yang diruangan tersebut ada Jennie, Nesya, dan Simon. Ada juga dua teman Simon yang lain. Pelayan itu memberikan sebotol bir dan segelas minuman tidak mengandung alkohol. Jennie mengambil segelas minuman tadi yang ternyata dia pesan. Diminumnya beberapa teguk dan ia letakkan kembali ke atas meja.
"Jen...loh beneran nanggung kebutuhan keluarga si lelaki itu?" tanya Nesya sambil mengambil gelas yang sudah dituang bir.
"Enggak lah, ya kali gue nanggung biaya hidup mereka. Dia memang bodoh mau saja gue bohongi." balas Jennie tersenyum miring.
"Wah parah loh, kasihan itu lelaki. Tapi kalau gue jadi loh, ya mungkin gue juga akan melakukam hal yang sama kayak loh" sahut Simon sambil menungkan bir ke gelasnya.
"Bodohnya dia percaya pula, hahaha." Jennie tertawa mengejek.
"Dan sampai sekarang mereka tidak menuntaskan masalahnya. Pintaran loh dari pada polisinya...Hahah....." sahut Nesya tertawa sembari meneguk bir tadi.
"Jangan banyak minum loh, nanti pulang nyusahin." ucap Jennie. Dia sudah bakal menebak kalau kedua temannya itu sudah banyak minum pasti yang susah adalah dia karna harus membawa Nesya pulang dalam keadaan mabuk.
"Tenang saja nanti aku tidak akan pulang sama loh kok. Nanti aku pulang sama Simon, loh pulang duluan aja." jawab Nesya.
"Mau kemana kalian?" tanya Jennie penuh selidik.
__ADS_1
"Apartemenku, udah jangan banyak tanya" sahut Simon menyuruh Jennie untuk diam.
"Mau apa? Jangan bilang kalian......" Jennie menebak-nebak apa yang akan dilakukan kedua temannya itu.
"Ssuuutt.......Kalau sudah tau diam lah" bisik Nesya. Disana ada kedua teman Simon juga.
"Ck, lakukan lah semau kalian. Kalau sudah begini gue dilupain." gerutu Jennie cemberut.
Simon dan Nesya memang sering berkecumbu diapartemen Simon. Setiap keluar bar pasti yang akan mereka lakukan adalah penyatuan tubuh, menuntaskan hasrat yang seharusnya tidak mereka lakukan. Jennie sudah malas kalau membahas kedua temannya.
Jennie meneguk minumannya yang tinggal sedikit dan dia berjalan keluar menuju toilet. Semasa jalan ke arah toilet kepala Jennie sudah terasa berat. Sampai di toilet Jennie semakin merasakan pusing yang sangat berat. Ia berusaha kembali ke ruangan tadi. Jalannya mulai sempoyongan, pandangannya buram.
"Kenapa denganku" gumam Jennie bersandar di dinding yang mengarah ke ruangannya tadi.
"Hai, sepertinya kamu perlu bantuan" sapa seorang pria mendekati Jennie dan menawarkan untuk membantunya.
"Kendrick ini beneran kau? Apakah kamu kembali untukku?" Jennie melihat pria di depannya itu adalah Kendrick. Ia sampai memeluk pria tersebut.
"Ikut lah denganku!" kata pria itu lalu membawa Jennie keluar dari bar sambil memeluk Jennie. Pria itu memasukkan Jennie ke mobilnya dan pergi menjauh dari kleb tersebut.
...♡☆♡☆♡☆♡...
"Apakah ini hotel, astaga apa yang sudahku lakukan semalam." gumam Jennie sambil mengumpulkan kepingan memori yang masih menyangkut. "Siapa yang sudah melakukan ini padaku! Arrggh, sial.." teriak Jennie frustasi dan marah.
Matanya melihat sekeliling dan ternyata dikamar itu hanya dirinya seorang. Tak ada siapapun lagi. Langkahnya membawa dia ke kamar mandi dan merendamkan diri disana. Dilihat seluruh tubuhnya, banyak bekas merah dilehernya. Tapi sepertinya ia belum ternodai. Bagian bawahnya tak terasa sakit sedikit pun dan dikasur juga tidak ada bekas merah apapun. Hanya saja pakainnya sudah berantakan dan tubuhnya hampir setengah tanpa busana.
Jennie merendam diri diback tub sambil terus mengingat siapa orang yang sudah membawanya ke hotel tersebut dan mau menodainya. Kalau pun iya kenapa gak saat itu juga orang tersebut melakukannya. Kenapa malah dia hanya menyisakan banyak bekas merah di leher Jennie.
Selesai mandi Jennie kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi dari hotel tersebut. Bekas merah yang ada dilehernya tidak bisa dihilangkan, walau pun sudah digosok keras oleh Jennie tetap gak bida hilang. Beruntung saat itu didalam tas Jennie ada shal yang bisa menutupi bekas kecupan tersebut.
...🥀🥀🥀🥀...
Flassback On Jennie.
Dua pasang pria dan wanita sedang memasuki hotel. Wanita itu terlihat mabuk dan terus berbicara tanpa arah yang jelas. Sampai dikamar pria tadi membaringkan tubuh Jennie di ranjang. Pria itu ikut duduk disebelah Jennie yang terus bergelayut manja padanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Jennie, kamu gak kasihan dengan orang yang kamu sakiti?" tanya pria tersebut.
"Aku minta maaf Ken. Aku gak berniat membuatmu sakit. Aku hanya ingin istrimu itu pergi untuk selamanya. Aku sayang padamu Ken" jawab Jennie sambil memeluk tubuh si pria.
__ADS_1
"Kau yang menyuruh orang untuk menabrak Clarissa? Tapi yang kena bukan dia" pria itu masih santai dengan nada yang datar.
"Iya, kenapa kamu menolongnya Ken? Biarkan saja istrimu m*ti. Bukannya kamu tidak cinta sama dia? Kamu cintanya hanya sama aku kan" Jennie semakin memperintim jarak dengan pria tersebut yang bernama Very. Ada masih ingat siapa Very? Tak asing namanya bukan?.
"Kenapa suruhanmu tidak mau mengakui kejahatanmu?" Very tak menggubris perlakuan Jennie dan terus bertanya.
"Aku memang menutup mulutnya. Aku katakan sama dia, kalau keluarganya akan aku urus semya kebutuhan mereka. Tapi dia bodoh!! Mau saja aku bohongi." Jennie tersenyum licik sambil meraba dada Very.
"Kau mau bersenang-senang hanny? Aku bisa menyenangkan hatimu" tanpa rasa malu Jennie berpindah ke pangkuan Very.
Very hendak bangkit dan pergi, namun Jennie menariknya sehingga ia jatuh diatas Jennie. Very melihat wajah itu masih sama. Seperti yang dia kenal dahulu. Perlakuan Jennie pada Very, membuat hasratnya naik. Tapi ia masih bisa menahannya agar tidak menodai perempuam didepannya itu.
"Kalau dia begini terus, lama-lama aku tidak tahan. Aku harus segera pergi dari sini" batin Very lalu bangkit.
Tapi lagi-lagi Jennie menariknya dan kali membuat Very terkejut. Sebab Jennie menciumnya, awalnya Very tidak merespon karna terkejut. Saat dia sudah sadar dari keterkejutannya Very membalas perlakuan Jennie. "Kau yang memancingku, jangan menyesal nantinya." ucap Very.
Ia pun melancarkan aksinya, tangannya meraba bagian atas yang membuat Jennie mengeluarkan suara yang terdengar melengking ditelinga Very. Ia kembali memberi beberapa kecupan di leher Jennie. Hingga sampai diujung puncak, pakaian Jennie juga sebagian sudah terlepas dari tubuhnya. Very baru menyadari sesuatu, ia mengakhiri permainannya sebelum sampai dititik ujung.
"Sial......!!" umpat Very lalu merapikan pakainnya dan pergi meninggalkan Jennie begitu saja di kamar tersebut dengan pakaian yang setengah berantakan. Apa yang dipikirkan Very? Apakah Very mengenal Jennie?.
Tak lama setelah Very pergi, Jennie sudah tertidur. Mungkin karna efek mabuk dan kejadian berusan membuat akalnya melayang. Apalagi berhenti sebelum berhasil.
Flassback Off Jennie.
...🍀...
...🍀...
...🍀...
...Jempolnya diklik ya😄. Hari senin pula nih🤔 waktunya vote, sedekah untuk jajannya author boleh lah ya😁. ...
...Kalian is the best deh Syukron 💖....
...IG author ☞ @imeilda_08...
...Banyak typo harap bijak dalam membaca ya, author sering lupa😣 keyboardnya suka eror nih. Kalau ada saran dan masukan, tinggalkan komentar dibawah ya⌨....
...See you all, by by 👋💞...
__ADS_1