
••••••••❁★Storyes Day★❁••••••••
Cinta mampu merubah segalanya. Dari jahat menjadi baik dan bisa juga sebaliknya. Tergantung akan dibawa kemana cinta itu. Kalau mengambil jalan terbaik dengan masuk ke dalam ikatan baik, maka cinta itu akan menjadi sempurna. Tapi kalau cinta yang kalian punya dibawa ke hal maksiat atau hanya sekedar sebagai mainan. Dipastikan bahwa cintamu hanya kepalsuan saja.
Apa manfaatnya cinta palsu?
Tidak akan mendapat apapun dan hanya mainan sementara. Setelah itu terbuang seperti sampah. Mencari cinta yang baru, kalau bosan dibuang lagi. Begitu seterusnya?. Lalu apa yang didapat?.
Bukannya lebih enak cinta selamanya, sehidup semati. Hanya dengan satu orang dan dia adalah yang pertama sekaligus terakhir. Menjalani kehidupan bersama, melewati suka dan duka sama-sama. Mencari jalan keluar dari permasalahan berdua. Setiap apa yang kalian lakukan dinilai pahala.
(Stay Halal 💐).
...🌺🏵🌺🏵🌺🏵🌺🏵...
Diteras belakang Eveline sedang mengajak Yely berjemur. Eveline ditinggal oleh Faero ke luar kota selama tiga hari untuk mengurus perusahaan disana. Sudah dua hari ini Faero diluar kota, tinggal satu hari lagi dan baru suaminya akan pulang. Eveline menatap ponselnya lekat-lekat. Ia sedang chatingan dengan seseorang. Sampai suara nyonya Cantika mengagetkannya. Eveline langsung menutup ponselnya dan mengecup punggung tangan nyonya Cantika.
"Mama kok cepat pulangnya tumben?" tanya Eveline, biasanya nyonya Cantika akan pulang agak siang dari butik. Jadi Eveline heran saja.
"Iya mama tadi cuma ngecek aja, sekalian ngambil laporan bulanan." balasnya lalu mengajak bercanda Yely.
"Hai cucu oma yang cantik, hmm harum habis mandi ya" ucap Cantika mengambil alih Yely.
"Iya oma" sahut Eveline menirukan suara khas anak kecil.
"Mama kenapa?" tanya Eveline tiba-tiba, ia melihat wajah mama mertuanya terlihat tidak biasa seperti ada beban atau yang dipikirkan.
"Gak pa-pa, memang kenapa?" balas nyonya Cantika tanpa menoleh ke arah Eveline dan hanya fokus menatap Yely.
"Ada yang mama pikirkan?" tanya Eveline menatap wajah nyonya Cantika.
"Huufh..!?" Cantika menghela nafas panjang. "Gak pa-pa kok" balasnya dengan tersenyum yang dibuat-buat untuk menutupi kebohongannya.
"Ohh ya ma, ada butik baru saingan sama butik mama ya?" tanya Eveline, beberapa minggu lalu ia mendapat kabar sekilas saja kalau ada butik baru yang menyaingi milik nyonya Cantika. Padahal baru dibuka tapi sudah banyak pelanggan.
"Iya, itu sebenarnya sudah dibuka diluar negeri tapi entah orangnya membuka disini. Mungkin pindah atau mama juga gak tau." ujarnya.
"Claris fashion bukan ma namanya? Kemarin aku sempat datang kesana, tempatnya itu bagus banget dan elegan. Beda jauh dari butik-butik biasanya." ucap Eveline, kemarin ia sempat berkunjung untuk melihat karna penasaran. Sebagus apa dibandingkan dengan hasil milik mama mertuanya yang memang sudah dikenal banyak orang.
"Kamu datang kesana sama siapa? Mama kok gak tau" tanya Cantika.
__ADS_1
"Kemarin saat pulang dari rumah papa dan mama. Aku penasaran aja sebagus apa sih hasilnya sampai semua orang menyukainya, padahal orang-orang juga tau kalau butik mama itu yang paling bagus dan sudah memiliki costumer para artis" jawab Eveline.
"Kamu beli baju dari sana?"
"Ada, mama mau lihat? Bentar aku ambilin dulu. Belum aku coba sama sekali sih" lantas Eveline masuk ke dalam dan pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah dress yang dia beli kemarin, bahkan masih ada dipaper back belum dibuka sama sekali sama Eveline.
Tak berapa lama dia kembali sambil membawa paper back berwarna gold lalu ia berikan kepada Cantika. Nyonya Cantika meletakkan Yely ke tempat dorongan bayi. Lalu ia mengambil dress tersebut dan mengamatinya disetiap jahitan. Dilihat saja sudah bagus dan cantik. Terlihat sangat mahal harganya, bahkan kain yang digunakan juga adem gak panas. Kalau dibandingkan dengan hasil miliknya sangat berbeda. Pantas semua orang berpindah tempat.
'Bagus juga, pantas sih para pelanggan kabur ke butiknya. Tapi kok seperti aku tau kalau dilihat dari jahitan dan bentuk.' batin Cantika seperti gak asing dengan hasilnya. Dilihat dari motif dan tata peletakannya.
"Kenapa ma?" tanya Eveline membuyarkan lamunan Cantika.
"Mama kayak gak asing aja dengan bentukan dan jahitan ini, mirip sama milik......" ia mengingat kembali dan satu jawaban muncuk dikepalanya.
"Clarissa, iya ini mirip sama desainnya Clarissa" Eveline terkejut saat Cantika menyebut baju itu mirip dengan desain Clarissa. Kalau dipikir Eveline juga menerka yang sama, nama butiknya saja hampir mirip nama Clarissa. Hanya terpotong dua huruf saja.
Dan tiba-tiba Cantika merenung kala mengingat Clarissa. Dilubuk hatinya yang terdalam ia sangat merindukan putrinya. Ia tak bisa membohongi diirnya sendiri kalau memang hatinya merindukan Clarissa. Putri sulungnya itu selalu bisa membawa warna dikeluarga mereka. Dan saat memutuskan hubungan dengan Clarissa, seolah rumah itu sepi.
Eveline jadi ikut sedih, ia juga sangat merindukan Clarissa. Membujuk papa mertua atau suaminya pun pasti mereka hanya bisa marah. Bahkan Eveline tak ada keberanian untuk bisa mengembalikan Clarissa ke rumah tersebut. Ke dalam keluarga mereka dan tinggal bersama lagi.
"Mama kangen sama Clarissa?" tanya Eveline lirih.
Eveline tak langsung menjawab, ia diam sejenak memikirkan jawaban yang pas. Apakah ia akan jujur atau enggak. Eveline takut kena amarah dan disuruh menjauhi Clarissa.
"I-iya ma" balas Eveline terbata-bata.
'Semoga mama gak menyuruhku untuk menjauhi Clarissa atau menghapus kontaknya. Nanti aku gak bisa telfonan dong sama Clarissa'. Batin Eveline sembari menunduk.
"Berarti kamu tau kabar Clarissa selama ini? Apakah dia sudah melahirkan?" tanya Cantika diluar dugaan Eveline. Ia kira akan disuruh menjauhi Clarissa.
"Iya ma, Clarissa sudah melahirkan" balas Eveline apa adanya tanpa menambahi kata-kata, kalau gak ditanya yang lain Eveline gak akan berbicara takut yang dikatakannya nanti salah.
"Anaknya laki-laki atau perempuan? Dan sekarang dia ada dimana? Apakah masih di London?" tanya Cantika pada Eveline.
Eveline yang diberi pertanyaan bertubi-tubi ya hanya bisa menjawab seadanya. Ia tau kalau Cantika begitu merindukan Clarissa. Mana ada seorang ibu yang tidak kangen dan mengkhawatirkan kondisi anaknya. Apalagi si anak dalam keadaan hamil sendiri diluar sana.
"Anak Clarissa kembar laki-laki ma" balas Eveline.
Sontak Cantika begitu terkejut mendengar Clarissa melahirkan bayi kembar. Dalam keadaan sendiri tanpa suami dan keluarga. Tak kuasa menahan tangis, Cantika menyesali perbuatannya telah membiarkan putrinya harus berjuang sendiri diluar sana. Ia ingin melihat kondisi Clarissa, tapi dia sendiri gak tau Clarissa ada dimana. Apakah masih ada di London atau enggak. Selama ini Cantika gak pernah mencari tau kabar Clarissa atau hanya sekedar memantau pun tidak pernah.
__ADS_1
'Maafkan mama sayang, mama terlalu egois sebagai ibu. Harusnya mama mengedepankan kebahagiaan kamu. Maafkan mama, kamu harus berjuang sendiri. Mama akan berusaha untuk mengembalikanmu lagi ke rumah ini.' batin Cantika.
"Ma jangan nangis, mama ingin ditelfonkan Clarissa? Dia sudah pulang ke Indonesia kok. Dia sedang menemani suaminya dirumah sakit." kata Eveline merangkul bahu Cantika dan mengusapnya dengan lembut.
"Jadi Clarissa sudah kembali kesini? Dari kapan?" tanya Cantika yang tak tau apapun.
"Baru beberapa hari yang lalu. Aku pun baru saja dikasih kabar sama Clarissa. Ohh ya aku punya foto anaknya Clarissa ma, mereka tampan banget. Aku sampai gak bisa membedakan Keduanya."
"Mana mama ingin lihat" Eveline pun mengambil ponselnya dan mencari foto anak Clarissa dialbum.
"Ini ma, nama mereka Khalvan dan Kheisen. Yang ini Khalvan dan yang ini Kheisen. Gak ada bedanya sama sekali ya ma" ujar Eveline menjelaskan dan menunjukkan nama masing-masing.
Nyonya Cantika nampak sangat sedih sekaligus senang. Ia bisa melihat cucunya walau pun hanya lewat foto saja. Ia bangga dengan Clarissa bisa berjuang sendiri tanpa suami dan orang tua. Padahal dari dulu Clarissa yang selalu mereka jaga, tapi sekarang berbanding terbalik. Malah sekarang Clarissa dituntut untuk berjuang sendiri. Cantika ingin sekali bisa bertemu dengan Clarissa dan juga kedua cucunya. Ia ingin Clarissa kembali ke rumah dan berkumpul bersama seperti dulu.
Nyonya Cantika sudah tak mempermasalahkan tentang Kendrick. Baginya kalau Clarissa sudah memaafkan dan mau menerima suaminya kembali, itu adalah haknya dan dia bahkan orang lain tak busa menghalangi. Sekali mereka mengusik pasti akan lebih keras Clarissa memperjuangkannya. Seperti halnya sekarang, Clarissa lebih memilih suaminya dari pada keluarganya. Karna kebahagiaannya hanya di yang tau. Terlebih Clarissa sudah mengatakan kalau dia mencintai suaminya. Dan pastinya gak mudah untuk bisa memisahkan keduanya.
"Mama ingin Clarissa bisa main kesini lagi kayak dulu. Mama sudah ikhlas kalau dia memilih untuk bersama suaminya. Kalau dia bahagia pasti mama juga ikut bahagia. Apalagi ada kedua anaknya yang harus dijaga. Tapi papa dan suamimu, apa mereka mau menerima? Mama gak yakin itu" ucap Cantika menatap Eveline.
"Kita bicara pelan-pelan ya ma sama papa dan mas Faero. Mau sampai kapan kita akan seperti ini. Gak baik juga, aku yakin jauh didalm hati papa juga terselip rindu kepada Clarissa. Hanya saja sekarang hati papa masih diselimuti amarah. Kita tunggu waktu yang pas untuk bicara, Clarissa juga masih merawat suaminya" timpal Eveline mengulum senyum.
"Iya, bagaimana keadaan Kendrick sekarang?" tanya Cantika.
"Sudah membaik kata Clarissa. Saat Clarissa baru balik kesini di langsung ke rumah sakit setelah dari bandara. Dan waktu sampai rumah sakit ternyata Kendrick dinyatakan meninggal ma" Cantika terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan.
"Dia sudah baikan sekarang, berkat cinta mereka berdua yang mengembalikan Kendrick. Butuh perjuangan pasti Clarissa untuk membuat Kendrick kembali. Tapi sayangnya Kendrick mengalami amnesia jadi dia gak ingat apapun bahkan keluarganya. Dan dokter juga mengatakan kalau Kendrick lumpuh selamanya." terang Eveline semakin membuat Cantika terkejut. Ia tak menyangka kalau akan separah itu.
Bagaimana jadinya kalau Clarissa yang ada diposisi Kendrick?. Sudah pasti mereka akan terpukul. Beruntung bukan Clarissa yang mengalami hal itu. Tapi orang lain yang harus berkorban. Sekarang Cantika sadar kalau bukan karna Kendrick sudah pasti Clarissa yang akan mengalaminya. Dan ceritanya pun akan berbeda, Clarissa tidak akan bisa melahirkan dua anak yang tampan seperti Khalvan dan Kheisen. Semua ini memang sudah takdir dari Allah. Apa yang bisa diperbuat selain menerimanya dengan ikhlas.
"Jadi Kendrick gak akan bisa jalan lagi? Ya Tuhan apa jadinya kalau Clarissa yang mengalami ini saat itu. Mama merasa bersalah sudah membiarkan Clarissa sendirian. Harusnya mama ngerti dan gak mementingkan ego mama" Cantika menangis lagi kala mengingatnya, melihat wajah Clarissa yang harus menentukan dua pilihan didetik itu juga. Dan dia seperti tidak punya hati nurani sebagai seorang ibu.
"Ma sudahlah jangan nangis, ini semua sudah takdir. Kita harus ikhlas dan jalani saja, apakah mama mau diantar untuk bertemu dengan Clarissa?" tanya Eveline mengusap air bening yang menetes dipipi Cantika.
"Iya mama ingin bertemu dengannya, tapi kalau papa dan suamimu tau pasti mereka akan melarang. Jadi kita pergi diam-diam saja sambil menunggu waktu pas untuk memberi pengertian mereka"
"Aku akan hubungi Clarissa dulu, dia bisaya kapan." Cantika hanya mengangguk saja. Ia sudah teramat rindu dengan Clarissa. Biar pun nanti suaminya marah dia gak peduli. Baginya sekarang adalah kebahagiaan Clarissa. Mereka sebagai orang tua gak tau apa yang membuat anaknya bahagia. Menurut mereka benar belum tentu juga buat Clarissa sama. Karna kebahagiaan hanya Clarissa sendiri yang tau dan orang tua hanya bisa mengarahkan tanpa mengekang.
...•••••••••○○❁★💎★❁○○•••••••••...
...Sudah cukup belum tiga part untuk hari ini? atau masih kurang?👂. Beri semangat untuk author dulu dong, nanti othor tambahin part nya 😁. Ditunggu ya..... 💖💖💖💖...
__ADS_1
...Love You All 💕❤...