
^^^POV Clarissa.^^^
London
Setelah lama aku menempuh perjalanan akhirnya sampai juga dibandara Heathrow. Aku turun membawa koper lalu mencari keberadaan paman dan bibiku disela banyak nya orang. Mereka akan menjemputku dibandara. Kota ini memang tidak asing untukku, ada masa dimana aku harus berada disini. Dan sekarang aku kembali lagi dengan maksud yang berbeda.
Setelah lama aku mencari akhirnya aku bisa menemukan keberadaan bibi Lucy. Ia bersama suaminya paman Lous. Mereka berdua tersenyum dan berjalan ke arahku. Sekian lama aku tak berjumpa dengan mereka dan sekarang aku bisa melihat senyum keduanya lagi.
"Assalamu'alaikum" aku memberi salam kepada mereka dan menyalami keduanya.
"Wa'alaikumussalam" mereka menjawab salamku sambil bibi Lucy memelukku dengan erat. Pasti ia merundukan keponakannya yang sudah lama tak dijumpai. Yaa hampir lima tahun aku tak pernah berjumpa dengan mereka karena berbeda jarak dan waktu yang cukup jauh.
"How are you?"
"I'm good, how are uncle and aunt?" aku balik bertanya bagaimana kabar mereka selama aku tak berada disini. Senyum yang beberapa tahun lalu menemaniku kini kembali bisa aku lihat.
"We are good too." paman membawakan koperku lalu kami pergi menuju mobil paman yang dibawa oleh supirnya.
Setelah sudah berada dalam mobil kami bicara banyak topik. Seolah bibi tak kehilangan berbagai macam topik yang ingin dibahasnya. Karena paman dan bibi sudah terbiasa memakai bahasa inggris jadinya mereka bicara padaku pakai bahasa inggris juga. Padahal aku tak terlalu bisa bahasa inggris, sesekali bisa aku timpali. Beruntung dulu mama sempat menyuruhku les privat bahasa inggris setelah pulang dari kota ini.
"I forgot English a little. I haven't used it in a long time. Can uncle and aunt use indonesia only?" (Saya sedikit lupa bahasa inggris. Saya sudah lama tidak menggunakannya. Bisakah paman dan bibi hanya menggunakan bahasa indonesia saja?). Kataku kepada mereka.
"Oke" jawab bibi lalu tersenyum mengarah padaku.
Paman dan bibi asli orang Indonesia yang menetap di London. Mereka bertemu pun juga saat berada dikota ini. Sudah lama mereka tinggal sebelum menikah. Bibi yang pada saat itu masih kuliah semester akhirnya dan bertemu dengan paman. Sampai awal pertemuan itu menuju ke pernikahan. Mereka punya dua anak perempuan. Anak mereka yang pertama bernama kak Chesi, dia sudah menikah dan keduanya bernama Chera, umurnya tak beda jauh denganku. Mungkin jika aku kisar sekitar 2 tahunan.
Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah paman. Gerbang terbuka lebar, memberi jalan mobil kami untuk masuk. Aku pun turun setelah mobil berhenti. Koperku dibawakan oleh supir masuk ke dalam rumah. Pemandangan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tempat untuk aku beristirahat sejenak, melepas derita yang aku tumpuh. Paman dan bibi adalah orang tua kedua setelah papa dan mama. Mereka begitu menyayangiku seperti anak kandungnya sendiri.
Aku duduk sejenak diruang tamu untuk merenggangkan kakiku yang lelah. Gadis perempuan yang tak asing bagiku keluar menuruni anak tangga dan berlari ke arahku. Dia adalah Chera, sepupuku yang sudah lama aku tinggal pergi. Ia begitu senang sata aku datang kesini lagi, dulu kita sering bermain bersama. Tanpa rasa lelah sedikit pun, Chera selalu membuat aku bisa tersenyum. Walau pun kenyataannya aku masih menggendong beban berat.
"Hay, how are you?" kata pertama yang Chera tanyakan padaku.
"I'm fine, and you?"
"Yes, I'm fine too." Chera lahir di London, jadi bahasa inggrisnya tak diragukan lagi. Dia juga bisa bahasa indonesia, karna bibi selalu mengajarinya dua bahasa sekaligus. Walaupun begitu Chera juga suka belajar bahasa mandarin. aku saja males kalau harus menghafal berbagai bahasa. Tapi menguntungkan sih kalau bisa berbagai bahasa. Lebih mudah berbicara dengan orang asing, jikalau pergi ke luar negri ketemu mereka ditempat lain.
"Chera pakai lah bahasa indonesia saat ada Clarissa, oke. Dia sedikit lupa bahasa inggris" bibi memang pengertian dengan hal-hal kecil seperti itu.
"Ow sorry Clari, aku lupa" senyuman Chera membuat hatiku menghangat, dia sudah seperti adikku sendiri.
Rumah ini mempunyai berbagai kenangan yang mengharuskan aku tinggal disini. Mama dan papa membawa aku ke luar negri tepatnya beberapa tahun lalu, agar aku bisa sembuh dari trauma yang selalu menghantuiku. Bukan hanya papa, mama dan kak Faero yang hancur. Tapi paman dna bibi juga ikut sedih melihat kondisiku. Aku seperti mayat hidup tanpa tujuan. Beruntung banyak orang yang menyayangiku dan membuat aku bangkit dari keterpurukan. Terutama Chera yang sellau ada untukku.
__ADS_1
Oleh sebab itu saat aku sembuh dan memutuskn kembali ke Indonesia. Chera begitu sedih dan memohon agar aku tidak kembali. Dia pasti kesepian tanpa adanya aku. Mau bagaimana lagi, Indonesia adalah tanah kelahiranku. Aku memang harus kembali, saat itu aku berjanji pada Chera untuk kembli lagi ke London suatu saat nanti. Dan janji itu baru bisa aku penuhi.
"Aku rindu sama kamu Chera" kataku sambil memeluk Chera begitu erat.
"Aku juga, terima kasih sudah kembali dan memenuhi janjimu kak" Chera memang begitu selalu memanggilku kakak, padahal aku sudah menyuruhny untuk memanggil namaku saja namun tak mau.
"Iya sama-sama. Sekarang kamu senang?"
"Seeenaaang sekali, nanti aku akan mengajakmu untuk berkeliling. Pakai sepeda oke seperti dulu" ternyata masih ingat saja Chera tentang kita dulu yang suka sekali naik sepeda dan berkeliling untuk mencari suasana.
"Ajak lah Clari ke atas, biarkan dia istirahat dulu. Pasti capek" bibi begitu perhatian sama persis tak berubah dari dulu.
"Terima kasih aunt Cy." dari dulu panggilanku memang seperti itu kepada mereka uncle Lus dan aunt Cy. Itu adalah panggilan sayang dariku.
Chera pun membantuku untuk ke atas. Kamar yang dulu aku tempati ternyata masih sama. Hanya tata letaknya saja yang sedikit diubah. Kamar ini menjadi saksi bagaimana diriku dulu. Merinti setiap malam dan ketakutan selalu menyelimutiku. Orang yang selalu bisa menenangkan aku adalah Chera. Dia paling pemberani kalau masalah menenangkanku. Memang the best sih.
"Aku selalu datang ke kamar ini. Aku selalu rindu kenangan bersamamu" aku peluk Chera begitu erat dan membawanya duduk di atas ranjang.
"Sekarang aku ada disini, jadi kamu gak perlu bersedih" kataku agar Chera tak cemberut lagi.
"Sampai kapan kamu akan disini kak?" sepertinya Chera tak mau aku pergi lagi.
"Aku juga gak tau Chera, nanti kalau sudah waktunya aku akan pulang" memang benar begitu, aku pun tak tau kapan akan pulang. Mas Kendrick saja masih koma dan belum ada perubahan apapun.
"Lama pun juga no poblem"
Aku cubit pipinya karna gemas. Dia bisa saja membuatku tertawa. Semoga saja aku bisa cepat kembali bersama dengan kamu yang sadar lagi. Agar nanti bisa melihat aku disampingmu. Maafkam aku ya mas tak ada disampingmu saat keadaanmu membutuhkan aku.
Eveline sedang menunggu Faero pulang dari kantor. Sudah lama dia menunggu di kamar, akhirnya Eveline keluar menuju dapur untuk mengambil minum dan membawa sepotong kue ke ruang keluarga. Ia memilih menikmati kue itu sembari nonton televisi. Lelah ia menunggu suaminya datang, tapi tak kunjung datang juga.
Nyonya Cantika baru saja keluar dari kamarnya. Lalu ia menghampiri Eveline yang berada di ruang keluarga sendirian. Wajah Eveline terlihat murung saat nyonya Cantika sudah sampai disampingnya.
"Mama.." Eveline terkejut dengan kedatangan sang mama mertua yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.
"Kenapa kok murung gitu" Cantika memposisikan duduknya disamping Eveline mencari tempat yang sesuai.
"Gak pa-pa ma, cuma nunggu mas Faero gak pulang-pulang. Padahal tadi sudah bilang mau pulang cepet" ucap Eveline sembari terus menyuapkan sisa kue ke mulutnya.
Nyonya Cantika lantas tersenyum dan mengusap lembut pundak Eveline. "Sabar, sebentar lagi pasti pulang" ia tau hormon wanita hamil memang begitu. Karna dia sendiri pernah merasakannya, mood yang naik turun. Kalau kemauan gak diturutin pasti ngambek.
"Aku sudah nunggu dari tadi ma, capek tahu ma" Eveline mengadu dan bersikap manja ke Cantika.
"Ke kamar saja istirahat" Cantika memberi saran, namun Eveline malah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Capek, dari tadi aku tungguin di kamar gak ada yang masuk." Eveline benar-benar kesal, wajahnya saja sudah ditekuk.
__ADS_1
"Tuh pasti suara mobil suamimu" suara mobil terdengar di gendang telinga mereka. Eveline langsung berjalan keluar dan membukakan pintu. Benar saja mobil Faero sudah terparkir dihalaman rumah.
Orang yang sejak tadi ditunggunya akhirnya pulang. Eveline mencium tangannya dan menjawab salamnya juga. Faero pun mengecup kening Eveline, lalu hendak memeluknya. Tapi Eveline segera menghindar mundur beberapa langkah. Faero merasa heran melihat gelagat istrinya yang aneh.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Faero yang heran.
"Kenapa-kenapa, tadi kamu bilanh sama aku mau pulang cepet. Ini nyatanya apa, kamu telat pulang. Kalau emang gak bisa pulang cepet gak usah memberi harapan lah" marah Eveline lalu berjalan menjauh dari Faero.
Faero segera mengejar Eveline dan menangkap tangannya. "Maaf tadi ada tamu mendadak dikantor. Gak mungkin aku tinggal begitu saja, lagian cuma telat tiga puluh menit. Gak sampai satu jam juga" jelas Faero. Bukannya membuat Eveline mengerti, ini malah sebaliknya. Eveline makin kesal dan marah kepada Faero..
"Ohh jadi lebih penting orang dibanding istri sendiri. Issh jahat banget sih" Eveline pun melepas genggaman tangan Faero dan berjalan menjauh ke kamarnya.
"Duh kok malah begini sih" Faero mengacak-acak rambutnya karna kesal sendiri.
"Sabar, wanita hamil memang begitu. Moodnya tidak bisa ditebak, susul gih sana. Yang sabar yaaa calon ayah" nyonya Cantika malah menggoda Faero dan memintanya untuk menyusul Eveline ke kamar.
Beberapa langkah Faero melangkah, tuan Nevan sudah dampai diambang pintu. Segera nyonya Cantika menghampiri suaminya dan membawakan tasnya masuk ke dalam rumah.
"Faero sudah pulang ma?" tangannya merenggangkan dasi sambil berjalan menuju sofa.
"Sudah, papa mau langsung mandi apa rehat dulu?" tanya Cantika.
"Langsung mandi saja lah ma, badan papa gerah." taun Nevan bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan dengan nyonya Cantika.
"Ya sudah mama siapin air nya dulu untuk papa mandi." tuan Nevan dan nyinya Cantika pun pergi ke kamar mereka.
Drama tadi belum selesai masih berlanjut di kamar. Siapa lagi kalau bukan sijoli Faero dan Eveline. Perdebatan mereka tak hentinya, Eveline masih ngambek dan menyalahkan Faero. Padahal suaminya sudah minta maaf, Eveline tetap marah dan memilih pura-pura tak mendengar ucapan Faero. Ia malah menutupi tubuhnya dengan selimut.
Faero seolah sudah kehabisan akal membujuk Eveline agar tak marah lagi. Iya dia tau salah karna sudah tak menepati ucapannya untuk pulang trpat waktu. Tapi istrinya sudah terlanjur ngambek, Faero benar-benar frustasi dan cara akhir pun dipilih oleh Faero. Yaitu menanyakan kemauan Eveline dan benar saja istrinya langsung membuka selimut.
"Ke rumah papa sama mama" jawabnya dengan senyum mengembang. Tadi jutek, sekarang malah senyum kayak gitu. Memang benar-benar moodnya tidak bisa ditebak, pikir Faero.
"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu. Badanku sudah lengket kena keringat." kata Faero sambil menjewer bagian depan bajunya.
"He'em, kalau sudah mandi jangan pakai minyak wangi aku gak suka" jawab Eveline.
"Siap bidadariku" Faero pun melesat masuk ke kamar mandi. Sementara Eveline berjalan menuju lemari untuk mengambilkan baju ganti suaminya.
Ia ingin sekali memakai baju senada dengan suaminya. Eveline pun memilih gaun berwarna biru langit, sama dengan baju Faero. Setelah dia berganti baju, tak lama Faero keluar dari kamar mandi. Diambilnya baju yang sudah disiapkan oleh Eveline tadi. Tampaknya Faero tak suka dengan baju pilihan Eveline. Warnanya buat dia tak cocok.
"Harus aku pakai baju ini?" kata Faero menunjuk kemeja berwarna biru itu.
"Iya lah biar senada dengan gaunku" ucap Eveline tersenyum.
Tak mau membuat suasana hati istrinya yang sudah membaik menjadi buruk lagi. Akhirnya dengan terpaksa Faero memakai baju pilihan Eveline. Walau pun dia tak suka, mau bagaimana lagi kalau Eveline sudah mengatakan A gak ada bantahan B. Faero selalu menurut untuk menjaga suasana hati Eveline.
__ADS_1