
Matahari bersinar terang, menembus gorden yang masih tertutup. Kehangatannya begitu terasa diseluruh badan. Tanda bahwa hari ini kisah baru akan dimulai, kemarin sudah lampau. Hari ini kehidupan baru dan esok hanya takdir yang tau. Melupakan yang lama dan membuka lembaran yang baru. Mata Lavina terbuka lebar saat sinar mentari memberi cahaya di dalam kamarnya yang gelap. Ia bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi.
Diambilnya baju yang cocok untuk dipakai hari ini. Ia pun mengambil ponselnya untuk memberi pesan ke seseorang entah siapa itu.
📱"Nanti aku akan menemuimu, dikantor saja"
Pesan singkat yang dikirim oleh Lavina.
Langkahnya berlalu pergi menuruni tangga menuju meja makan. Ia akan sarapan bersama orang tuanya, momen seperti ini yang ingin di rasakan oleh Lavina. Tapi rasanya tidak lengkap tanpa Kendrick dan Clarissa. Rumah itu terlihat sepi dan hampa tanpa kehadiran Clarissa disana. Tak ada yang bisa di lakukan oleh nya kecuali berdoa agar semua masalah bisa terlewati.
"Ma, nanti biar Lavina yang ke rumah sakit untuk melihat keadaan kak Kendrick. Mama dirumah saja istirahat, jangan terlalu capek. Entar aku akan lagsung kabari mama kok" Lavina menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Ya sudah kalau kamu ingun ke rumah sakit. Mama juga agak gak enak badan mau istirahat. Nanti kabari mama kalau ada perkembangan" nyonya Mesya mengambil air putih untuk dituangkan ke dalam gelas suaminya.
"Siap ma" Lavina memaksakan senyum demi kedua orang tuanya. Walau pun hatinya sendiri menangis melihat keadaan kakaknya yang belum ada perkembangan apapun. Bahkan kabar yang terakhir membuat dia syok.
Kedekatannya dengan Kendrick memang tak begitu akur. Pasti ada saja yang diperdebatkan oleh mereka. Itu lah yang sangat dirindukan oleh Lavina. Suasana ricuh karna tak ada yang mau mengalah satu sama lain. Berdebat pendapat, berebut barang, berselisih keinginan. Semua hal yang telah Lavina lewati bersama Kendrick sangat sulit untuk dilupakan.
Biasanya mereka berdua, sekarang tinggal Lavina seorang diri di rumah itu. Hanya ada papa dan mama nya saja. Tak ada suara bising yang kerap di tebarkan oleh dua makhluk kakak beradik yang tak bisa akur. Beruntung ada Chemoi dan Chimi kucing kesayangan Lavina dan Kendrick. Setiap hari Lavina merawat mereka, memberi makan dan minum. Memberi vitamin untuk bertumbuhan mereka berdua. Memang Lavina suka sekali dengan kucing sampai ia mengadopsi dua kucing itu. Yang satunya jantan bernama Chemoi adalah kucing Kendrick dan Chimi betina milik Lavina.
Selesai makan Lavina kembali ke kamarnya hanya untuk mengambil tas dan juga hanphone. Setelahnya ia kembali ke bawah untuk pamitan pergi. Ternyata tuan Alvero sudah berangkat ke perusahaan duluan. Jadi Lavina hanya berpamit kepada nyonya Mesya. Ia akan mengemudikan mobilnya sendiri tanpa supir lagi. Sekarang dirinya bebas mau kemana pun arahnya akan pergi seperti maunya.
Lavina mencari parkir mobil yang kosong. Setelah sampai di depan rumah sakit. Ia pun bergegas masuk menuju ruang ICU tempat Kendrick terbaring lemah dengan berbagai alat yang menempel.
"Farghan!.." teriak Lavina saat melihat Farghan baru saja keluar dari ruang ICU bersama dokter Ridwan.
"Assalamu'alaikum" salam Lavina saat sampai di depan mereka.
"Wa'alaikumussalam"
"Maaf mengganggu waktunya, aku kesini hanya ingin menanyakan perkembangan kak Kendrick saja. Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Lavina menatap Farghan dan dokter Ridwan bergantian.
"Maaf Lavina, Kendrick sama sekali belum menunjukkan perkembangan apapun. Bahkan tadi saja detak jantungnya sempat berhenti. Beruntung segera ditangani" Lavina langsung menutup mulutnya, bulir air mata sudah siap terlepas di ujung mata. Tapi ia masih bisa menahannya agar tak lolos keluar.
"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" Lavina begitu khawatir, takut kehilangan kakak yang dia sayangi. Walau dirinya sendiri tak pernah mengungkapkan itu. Hatinya tak bisa berbohong untuk tidak mengatakan kalau sebenarnya dia sangat menyayangi Kendrick sebagai kakaknya.
"Tenanglah, kami sudah menanganinya. Kamu tak perlu khawatir, berdoalah agar Kendrick diberi keajaiban untuk bisa sadar kembali"
"Kami permisi dulu" Lavina hanya mengangguk pelan. Lalu Farghan dan dokter Ridwan pun pergi dari hadapan Lavina.
Lavina hendak melangkah untuk melihat keadaan Kendrick. Tapu tangan kekar menahan langkahnya dengan memegang pundaknya. Reflek Lavina langsung menoleh dan mendapati Michael dibelakannya. Lavina terkejut melihat keberadaan Michael disitu juga.
"Ikut aku ke kantin" kata Micha sembari menarik tangan Lavina untuk menjauh dari ruang ICU menuju kantin seperti ucapannya barusan. Lavina hanya bengong dan mengekor Michael. Ia menurut saja saat Michael menatik tangannya untuk pergi.
"Duduklah" Michael menyuruh Lavina duduk saat sudah sampai di kantin rumah sakit. Ia pun ikut duduk di depan Lavina.
__ADS_1
"Ke--kenapa kamu membawaku ke sini" Lavian terbata-bata karna terkejut. Ia baru sadar kalau sekarang dia sudah duduk di kantin.
"Jelaskan apa yang ingin kamu katakan, aku yakin ada yang ingin kamu sampaikan sampai memberi pesan untukku. Bicara saja disini, mumpung aku juga berada disini tak perlu ke kantor" Michael membeli sebotol air putih karna haus.
"Kamu sendirian kesini?" tanya Lavina heran dan gugup.
"Memang kamu melihat orang lain bersamaku? Lah dari tadi aku sendiri" Michael meneguk air yang tadi dia beli.
"Aku akan mengambil kuliah lagi" Michael langsung terdiam beberapa detik. Sampai akhirnya dia sadar dari lamunan.
"Kuliah?"
"Iya aku akan kuliah kedokteran" makin terkejut saja Michael sampai dia melongo mendengar ucapan Lavina.
"Hah! Gak salah denger gue, kamu bener-bener ingin mengambil kuliah jurusan itu" kata Michael sampai Lavina mendongak melihat wajah Michael yang keheranan. Dari tadi memang Lavina menunduk dan tak berani menatap wajah Michael, entah kenapa dia sendiri juga tidak tau.
"Aku hanya ingin bermanfaat untuk orang lain dan aku juga ingin membanggakan kedua orang tuaku. Menjadi diriku yang sekarang tak membawa manfaat apapun untuk orang disekitarku maupun orang yang ku sayangi." ucapan Lavina sungguh menyentuh hati Michael. Ia seolah tak percaya bahwa yanh didepannya itu Lavina. Michael tau betul sifat Lavina seperti apa. Sifatnya masih kekanak-kanakan, gak akan bisa berbicara sedewasa itu.
Lagian dari dulu bukan itu cita-cita Lavina. Tapi Lavina yang dulu sudah menghilang dan berubah menjadi Lavina yang sekarang. Michael lantas tersenyum bangga melihat perubahan Lavina. Hatinya berasa tersentuh dan ingin menggenggam tangan Lavina dengan erat, tapi gak bisa.
"Kamu benar-benar mewujudkan itu? Padahal waktu itu aku berbicara hanya bercanda sih" ucap Michael tersenyum simpul.
"Aku melakukan semua ini bukan karna ucapanmu, melainkan memang keinginanku sendiri." jelas Lavina.
"Ternyata kau sudah dewasa sekarang" terang Michael seolah mengejek Lavina.
"Kenapa dengan jantungku ini" batin Lavina.
Lavina benar-benar keringat dinhin saat Michael menggenggam tangannya. Jantung yang semula normal kini berdetak lebih cepat. Perasaannya sangat beda saat saling adu tatap. Begitu pula dengan Michael yang tak kalah gugupnya.
"Lepasin kak, aku mau pulang" pinta Lavina.
"Maaf, aku mau tanya kamu akan berkuliah dimana?" tangannya sudah terlepas dari tangan Lavina.
"Disini saja, maunya diluar negri. Tapi aku gak mungkin ninggalin mama dan papa sendirian dengan kondisi kak Kendrick masih koma" papar Lavina menunduk, merasa sedih dan inhin menangis. Bersusah payah Lavina menahan agar air matanya tidak menetes, tapi percuma air mata itu sudah terlanjur lolos mengenai tangan Lavina.
Ada tangan yang menyentuh pipi Lavina dan menghapus air matanya. Sontak Lavina mendongak dan melihat dari mana tangan itu berasal. Ternyata Michael sudah berdiri tepat disampingnya.
"Menangislah semaumu, tapi jangan lama-lama. Setelah itu bangkitlah dan tunaikan apa yang menjadi keinginanmu" ucapan Michael begitu bermakna bagi Lavina, sampai tak terasa bibir itu mengukir senyum yang manis.
"Ikut aku sebentar yuk" ajak Michael.
"Kemana? Mobilku gimana? "
"Sudah lah ikut saja, mobilmu taruh sini gak akan dicuri. Ayo!" michael kembali menggenggam tangan Lavina dan membawanya pergi menjauh dari rumah sakit. Entah akan kemana arahnya membawa Lavina.
__ADS_1
🥀
🥀
🥀
🥀
🥀
"Bagaimana kabar lelaki itu? Apa sudah sekarat?" tuan Mahendra bersama dengan Jennie dan Lanni sedang berada di ruang tamu mengobrol bertiga.
"Papa ngomong apa sih, kok malah doa yang jelek" marah Jennie yang gak terima tuan Mahendra selalu berbicara buruk mengenai Kendrick.
"Gak usah kamu membela lelaki itu. Sudah benar dia yang sekarat" bentak tuan Mahendra, ia tak suka Jennie selalu membela Kendrick. Selama ini berbagai cara dilakukan oleh tuan Mahendra agar bisa melenyapkan Kendrick atau pun kekuasaannya. Namun semua itu nihil dan saat mendengar kabar tentang keadaan Kendrick barulah tuan Mahendra sangat puas.
"Lupakan lelaki itu, masih banyak lelaki lain didunia ini yang bisa mencintaimu dengan tulus. Kendrick sudah mengakui bahwa dia hanya mencintai istrinya bukan kamu!" Lanni menekankan kata kamu agar Jennie sadar bahwa Kendrick benar-benar tak mencintainya.
"Lebih baik sekarang kamu pikirkan bagaimana caranya agar polisi tidak mengetahui bahwa otak dari kecelakaan itu adalah kamu. Singkirkan dulu cinta fana mu itu, sekarang polisi sudah menyelediki kasus kecelakaan Kendrick. Orang tuanya pasti tidak akan berhenti untuk mencari otak sebenarnya"
Polisi sudah menyelidiki kasus yang menimpa Kendrick. Bahkan Clarissa juga sudah memberikan kesaksian sebelum kepergiannya ke luar negri. Clarisda masih ingat betul plat nomor mobil tersebut, sehingga polisi dengan mudah mengenali plat nomor tersebut. Dan supir yang mengemudikan mobil itu juga sudah ditangkap. Ia sudah mengaku kalau kejadian kecelakaan itu murni karna keteledorannya bukan direncanakan.
Bukan tuan Alvero namanya kalau dia tidak menyelidiki dengan tuntas. Ia sudah menyewa detektif handal untuk mencari tau yang sebenarnya. Dan bukti awal sudah ditemukan, kalau si pria yang menjadi supir itu hanya pengangguran bukan pekerja. Lantas dari mana mobil pick up yang dibawanya?. Setelah diselidiki ternyata mobil itu bukan milik pria tersebut, melainkan hanya menyewa dari orang lain.
Disini sudah jelas bahwa memang pria tersebut berniat mencelakai Clarissa awalnya, tapi malah Kendrick yang menjadi korban. Sampai sekarang si pria itu masih tak mau mengakui dan hanya mengatakan bahwa memang dia menyewa mobil itu untuk mengangkut barang untuk kepindahannya.
Jadi sampai sekarang kasus Kendrick masih berjalan untuk mencari otak sebenarnya. Dari sini lah Jennie dan Lanni mulai khawatir. Bagaimana nanti kalau polisi tau? Pasti mereka akan ikut dijerat hukum. Lantaran mereka juga tau siapa ayah Kendrick itu. Yang bisa menyewa ribuan mata-mata untuk bisa menuntaskan kasus anaknya.
"Kamu tenang saja selagi kalian tidak menampakkan gelagat mencurigakan. Polisi tidak akan tau semuanya." tangannya mengambil secangkir kopi yang ada siaran meja.
"Tenang kata papa? Bagaimana aku bisa tenang pa, kalau kasus ini saja masih berjalan. Ini memang salahmu, siapa suruh menyewa orang untuk mencelakai perempuan gudik itu" marah Lanni kepada Jennie. Tidak mau disalahkan Jennie pun ikut marah dengan menyalahkan Lanni.
"Halah, kakak juga senang kan kalau melihat perempuan itu m*ti. Gak usah naif Kak, semua sudah terjadi." marah Jennie yang tak terima.
"Intinya semua ini salahmu dan jangan libat kan aku dalam masalahmu. Kau yang menyewa orang untuk mencelakai perempuan itu, jadi kalau ada yang disalahkan itu semua karnamu" Lanni langsung pergi dari hadapan ayahnya maupun Kencur. Ia pergi ke luar menggunakan mobilnya, entah melesat kemana arahnya.
Jennie sangat kesal dan marah, lantaran dirinya yang jadi disudutkan oleh semua orang. Kalau yang ada dalam otaknya smeua ini bukan murni kesalahannya. Melainkan banyak tangan yang terlibat terutama kakaknya sendiri. Bahkan snag ayah saja tak ada memberi masukan, malah memarahinya karna membela Kendrick.
...🌷🌷🌷...
Assalamu'alaikum readers 🙏
Pasti nungguin lanjutan GGISC, maaf ya telat.
Author bener-bener sibuk, harap maklum ya 🙏 othor kasih doble part untuk hari senin 😊. Makasih yang sudah setia nungguin, kasih jempolnya dong biar othor lebih semangat 🤭 ditambahi kopi sama vote nya juga Gak papa.
__ADS_1
hihihi see you next time 👋👋