Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 80 #Kontraksi


__ADS_3

"Pulang lah nak, pasti keluarga mu juga rindu. Terutama kamu harus perjuangkan suamimu. Bibi doakan dia bisa bertahan sampai kamu tiba nanti" jawab Lucy sambil memegang bahu Clarissa. Clarissa hanya menanggapi dengan senyuman.


"Aku berharapnya juga begitu bi. Aku ingin dia bisa melihat anaknya nanti. Aku juga ingin membesarkan anak ini berdua. Tak ada cinta yang bisa membuka hatiku selain cintanya. Padahal aku tau sikapnya membuat hatiku terluka. Entah kenapa malah hatiku memilih dia" batin Clarissa sembari mengelus perutnya yang sudah besar.


"Bibi lihat kamu sukses besar disini, desainmu terkenal dimana-mana. Lalu kalau kamu tinggal pulang ke Indonesia bagaimana dengan butikmu disini?" tanya Lucy memperhatikan perkembangan yang luar biasa dari Clarissa.


"Aku akan membuka butikku di Indonesia bi. Aku sudah membeli tanah disana. Bahkan sekarang sekarang lagi dikerjakan. Kalau masalah yang disini aku tetap kontrol kok. Biar aku serahin sama Chera saja. Aku percaya sama kinerja Chera." jawab Clarissa sambil menonton televisi.


"Lah ditinggal lagi dong aku" sahut Chera dari arah tangga turun menuju Clarissa dan Lucy.


"Jangan ditinggal lagi dong. Aku sendiri disini loh, gak asyik aahh" ucapnya lagi duduk disebelah Clarissa.


Clarissa hanya menanggapi ocehan Chera dengan tertawa lirih. "Mau ikut ke Indonesia biar gak kesepian?" tanya Clarissa dan kawaban Chera tidak disangka oleh Clarissa.


"Maauuu!!" jawab Chera antusias dan gembira.


"Hah! Serius mau? Padahal tadi aku hanya bercanda loh" ucap Clarissa langsung diam mendengar jawaban Chera.


"Ma gak pa-pa kan aku temenin kak Clarissa pulang nanti. Sekalian lah liburan disana, jarang sekali aku bisa berlibur. Hihihi" ucap Chera dengan di iringj senyum cengir nya.


"Silahkan kalau Rissa mau bawa kamu kesana. Tadi kan Rissa mengatakan kalau hanya bercanda bukan serius" Lucy sengaja menggoda Chera dan benar saja perkataannya tadi membuat Chera cemberut.


"Issh mama gak asik aahh. Pasti boleh lah yaa kan kak?" tanya Chera beralih menatap Clarissa meminta jawaban.


"Silahkan terserah kamu saja." jawab Clarissa sambil tersenyum.


Ting.


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Clarissa. Ia melihatnya sekilas lalu tiba-tiba mengajak Chera ke kamar. Saat ditanya oleh Lucy, Clarissa beralasan mau membahas masalah butik dan ingin istirahat karna capek. Lucy pun mengiyakan, akhirnya Clarissa membawa Chera ke kamarnya.


Sampai dikamar Clarissa langsung mengunci pintu dari dalam membuat Chera heran dengan sikap Clarissa. Dan rasa heran serta penasaran terjawab sudah saat Clarissa memperlihat layar ponselnya dihadapan Chera. Seketika Chera langsung mengambil ponsel Clarissa dan menajamkan matanya untuk melihat isi pesan yang ditunjukkan Clarissa tadi.


"Waah hebat banget deh. Memang gak perlu aku ragukan lagi kinerja dia. Is the best, apakah kakak puas?" tanya Chera sambil mengembalikan ponsel Clarissa.


"Sangat puas, memang ini yangku mau dari dulu. Sudah aku kasih hati mintanya jantung, ya ini lah akibatnya." balas Clarissa duduk diranjangnya.


"Memang pantas mereka begitu. Biar bisa berubah, syukur-syukur sih kalau bisa. Tapi kalau hatinya sudah busuk mungkin sulit untuk dirubah. Terus kapan dia mau menemui kakak?" tanya Clarissa.


"Katanya sih sekitar lima hari lagi dia mau kesini. Kan tugasnya disana sudah selesai. Bersyukur bisa ketemu dia untuk membantuku" jawab Clarissa.


"Iya keberuntungan berpihak kepada kita. Berarti musuhnya banyak dong" ujar Chera khawatir.

__ADS_1


"Tenanglah Chera, gak ada yang tau soal dia. Selama ini yang bertugas bawahannya, dia mah santai." balas Clarissa menengkan Chera.


"Iya juga sih" ujarnya lalu merebahkan tubuhnya diranjang Clarissa.


...🥀🥀🥀🥀...


"Saudara Jennie?" panggil penjaga lapas.


"Iya pak?" jawab Jennie sedang duduk dipojok ruangan sendirian. Memang sel nya dia dipisah dengan yang lain. Sebab Jennie terus memberontak dan mengganggu tahanan lain. Sehingga dia harus mendekam sendiri disel yang terpisah. Sementara Lanni dan Nesya ada disel yang sama.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda" jawab nya.


Penjaga lapas itu pun membuka pintu sel dan mengantarkan Jennie ke ruang pengunjung. Dalam hati Jennie terus menerka-nerka siapa yang datang menjenguk. Lantaran selama dia berada di sel tahanan tak ada seorang pun yang mengunjunginya. Bahkan kedua orang tuanya tidak sekali pun datang kesana.


Setelah melihat siapa yang datang Jennie langsung tersenyum dan langsung menghampirinya. Yang datang adalah kedua orang tuanya. Tapi wajah Jennie langsung berubah saat melihat ayahnya diatas kursi roda.


"Papa kenapa ma?" tanya Jennie setelah duduk.


"Papamu kenapa struk ringan. Ini semua gara-gara ulahmu, kalian semua itu sama. Kenapa sih harus melakukan ini? Sekarang kita sudah tidak punya apapun lagi. Rumah sudah gak ada, perusahaan papa bangkrut. Puas kamu? Puas!!" bentak Raina meluapkan emosi yang selama ini ditahannya.


"A-apa maksud mama? Perusahaan papa bangkrut?" ucap Jennie terkejut.


"Kok mama malah nyalahin kita sih. Harusnya salahin itu perempuan. Bukan aku" sahut Jennie tak terima disalahkan.


"Harusnya kamu itu sadar bukan malah menjadi-jadi seperti ini. Apa kamu gak sadar dengan perbuatanmu? Sadar Jennie!!" tegas Raina heran melihat tingkah laku anaknya, entah menirukan siapa.


"Kalau mama kesini cuma mau nyalahin aku. Mending pergi saja, aku sudah pusinh disini ditambah lagi ocehan mama." ucap Jennie membuat kemarahan Raina memuncak.


"Ohh baik. Mulai detik ini jangan cari mama, kalau pun kamu sudah keluar dari sini jangan pernah temui mama. Kamu sudah mempermalukan keluarga kita, bukannya merasa bersalah malah sikapmu seperti ini. Harusnya kamu sadar Jennie!! Hatimu itu terbuat dari apa sih, menyesal aku melahirkanmu." marah Raina lalu dia mengajak pergi Mahendra dari sana tanpa mau mendengarkan ucapan Jennie lagi. Ia sudah terlanjur kecewa dengan Jennie. Padahal Jennie anak kandungnya tapi tega berkata seperti itu dengannya. Ia sudah tidak mengharapkan anak-anaknya lagi. Raina memilih hidup sendiri bersama suaminya.


Jennie langsung dikembalikan ke dalam sel. Ia bahkan tidak menyesali perkataannya tadi. Buat dia semua ini karna kesalahan Clarissa. Ia tak merasa bersalah sekali pun, hatinya memang sudah tertutupi oleh keburukan dan rasa benci. Itulah kepribadian yang membuat dirinya terjerumus dan berakhir dipenjara.


...∞∞∞ʕ•ε•ʔ∞∞∞...


Dirumah keluarga Danata, Eveline sedang berada dihalaman samping untuk melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Disana juga terdapat pohon bunga...........jika berguguran mengalahi bunga sakura indah sekali. Ada yang berwarna merah muda, kuning, dan putih. Eveline sangat menyukainya.


Dari arah belakang bi Heti membawakan Eveline jus dan kue. Ia letakkan diatas meja disamping Eveline. "Makasih bi" ucap Eveline tersenyum.


"Sama-sama non, bibi tinggal dulu ke belakang dulu ya" balas bi Heti izin ke belakang.


"Iya bi" lalu Eveline meminum jus yang tadi dibawakan oleh bi Heti.

__ADS_1


"Duh kenapa perutku jadi terasa gak enak gini ya." gumam Eveline merasakan perutnya tidak enak. Ia pun pergi ke kamar mandi.


Tapi setelah keluar dari kamar mandi rasa tidak nyamannya tetap sama. Eveline jadi heran, ia pun memutuskan untuk beristirahat dikamarnya. Saat hendak berbaring ditempat tidur Eveline merasakan perutnya sakit. Nyeri sekali setelah itu hilang. Dipikiran Eveline pasti seperti biasa kontraksi palsu. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya dikasur.


Belum juga terlelap rasa sakit diperutnya muncul kembali. Eveline menghembuskan nafasnya perlahan seperti diajarkan Alifa padanya. Tapi bukannya menghilang kali ini rasa sakitnya makin kuat. Ia berjalan keluar mencari Cantika.


"Ya Allah kenapa sakit sekali, padahal ini kan belum waktunya lahiran. Masih kurang beberapa minggu lagi. Mama dimana sih" gumam Eveline mengelus perutnya sembari mondar mandir.


"Duh nak sabar ya" ucap Eveline berbicara pada anak yang ada di dalam perutnya.


"Auww sssstt. Sakit" ringis Eveline rasa sakitnya makin kuat. Kali ini Eveline berteriak memanggil siapapun yang ada didalam rumah. Ia sudah gak tahan dengan rasa sakitnya.


"Bi, bibii!!" teriak Eveline. Ia masih ada dilantai atas belum juga turun. Eveline merasakan sesuatu yang basah dibagian bawahnya padahal dia tidak merasa pipis dicelana. Eveline sedikit menyingkap bajunya untuk melihat.


"Air apa ini" pikirnya sebentar. "Astagfirullah apa ini air ketuban" gumam Eveline semakin ketakutan. Ia mengerti sekarang bahwa memang ini sudah waktunya dia lahiran.


"Ya Allah nona!" teriak bi Asri melihat Eveline duduk bersandar disofa yang tak jauh dari kamarnya. Ia langsung berlari menghampiri Eveline.


"Bi perutku sakit, sepertinya aku sudah mau lahiran. Air ketubanku sudah pecah." ucap Eveline sembari menahan sakit yang semakin kuat.


"Sabar non saya panggil yang lain dulu ya untuk bawah non ke rumah sakit. Sebentar non saya telfon bi Heti dulu." lalu bi Asri menelfon art lain untuk naik ke atas.


Dibawah bi Heti cemas, wajahnya berubah saat mendengar telefon dari bi Asri barusan. Ia pergi keluar untuk meminta supir menyiapkan mobil. Kebetulan sekali saat bi Heti sudah sampai diluar ia melihat mobil Faero masuk ke pekarangan rumah. Saat Faero sudah turun dari mobil, bi Heti dengan tergesa-gesa menghampiri Faero.


"Tuan tolong nona tuan...." ucap bi Heti drngan raut wajah cemas membuat Faero jadi ikut khawatir.


"Ada apa dengan istri saya bi?" tanya Faero.


"Non mau melahirkan, cepat tuan air ketuban nona sudah pecah." mendengar perkataan bi Heti, Faero langsung berlari ke lantai atas. Ia sangat mengkhawatirkan istrinya. Disusul bi Heti dibelakang Faero.


Sampai diatas Faero melihat istrinya sedang duduk disofa dan ada bi Asri yang menemani. Tanpa pikir panjang Faero langsung menggendong Eveline untuk dibawa ke rumah sakit.


...🍀...


...🍀...


...🍀...


...Gantung dulu bentar ya 🤭🙏...


...Jangan lupa like, komen, and rate...

__ADS_1


__ADS_2