Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 61 #Keinginan Lavina


__ADS_3

Perpisahan memang tak pernah di inginkan oleh semua orang. Tapi ada kalanya bertemu untuk berpisah. Tergantung takdir setiap orang, ada perpisahan dengan bahagia dan ada perpisahan dengan penuh kesedihan.


...òóòóòóòòó...


Faero dan Eveline sudah berada dibandara untuk mengantarkan Clarissa pergi. Ini adalah terakhir kali Eveline bisa melihat dan menjumpai sahabat sekaligus adik iparnya yang sebentar lagi akan pergi. Koper yang tadi di bawa oleh sang supir kini diserahkan kepada Clarissa. Beberapa kali Eveline memeluk erat Clarissa seolah tak menginginkan kepergiannya.


Clarissa berganti mengelus perut Eveline yang sudah ada nyawa disana. Ia tersenyum sembari berdoa agar kehamilan Eveline bisa berjalan dengan lancar sampai persalinan. Faero kala itu diberikan kejutan oleh Eveline mengenai kehamilannya tentu sangat senang sekali. Bahkan kedua orang tua mereka sama-sama memanjat puji syukur atas karunia Allah yang telah menitipkan amanah kepada Faero dan Eveline.


Sampai Faero tak berhenti mengecup dan mengelus perut Eveline yang masih rata. Sikap Faero sekarang jadi over protektif kepada Eveline. Semua selalu diperhatikan, mulai dari makanan, minuman, menjaga mood Eveline agar tidak stress, dan menuruti ngidamnya. Semua Faero lakukan dengan sabar demi buah hati yang ada dalam perut Eveline.


"Jaga keponakanku ini ya, jangan terlalu capek dan stress. Pola makannya dijaga, jangan sembarangan makan." pesan Clarissa sebelum pergi.


"Pasti dong, aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga dia" sembari mengusap perutnya yang masih rata. "Dia adalah malaikat kecil yang akan mewarnai hari-hari kami berdua" maksudnya dia dan Faero.


"Kamu jaga diri baik-baik disana ya dek. Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi kami, paman dan bibi sudah menunggumu disana" kata Faero sambil memeluk Clarissa.


"Iya kak pasti nanti aku hubungi kalau sudah sampai"


"Aku pamit ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Clarissa tak terlalu buru-buru karena dia menggunakan jet pribadi. Sehingga waktu mereka bisa sedikit longgar. Tapi Clarissa tipikal orang yang tak suka membuang waktu, jadi dia setelah selesai berpamitan langsung pergi dengan membawa satu koper besar ditambah tas sedang yang ditaruh diatas koper dan tas kecil yang dia selempangkan dibahunya. Dengan berat hati Clarissa melambaikan tangan ke arah Faero dan Eveline sebelum masuk. Mereka berdua membalas lambaian tangan Clarissa.


Hingga Clarissa sudah tak terlihat lagi barulah mereka berdua pergi dari sana. Sebelum mereka berdua sampai di mobil, Eveline tiba-tiba saja meminta dibelikan hot dog. Saat tak sengaja melihat toko hot dog, Faero pun membawa Eveline untuk membelinya. Jelas Eveline sangat senang dan ia pun membeli dua. Faero menyerngit, beli dua? Apa satu untuknya?.


"Sayang jangan belikan untukku. Aku masih kenyang" kata Faero.


"Ya sudah kalau gak mau buat aku saja dua-duanya" jawab Eveline dan tetap membeli dua hot dog. Faero melongo, lalu menghela nafas panjang. Memang hormon ibu hamil itu tidak bisa ditebak.


Setelah pesanan Eveline usai, mereka pun langsung pergi menuju mobil. Mereka menunggu dilobi bandara dan tak lama mobil mereka sampai. Memang hari itu Faero membawa supir untuk agar tidak ribet memarkirkan mobil dan mengambilnya. Di dalam mobil drama dua pasangan itu dimuli lagi, secara Eveline meminta Faero untuk memakan hot dog yang tadi di pesannya. Padahal sudah jelas tadi Faero mengatakan kalau dia tidka mau. Tapi seolah Eveline tak merasa Faero mengatakan hal tersebut.


"Ayolah yang dimakan. Aku tadi sudah membelikannya loh" Eveline memohon dengan harap.


"Tapi...!!"

__ADS_1


"Bukan aku yang minta tapi si dedek" Eveline memang selalu mengalihkan keinginannya itu kepada buah hatinya. Memang sih kala itu Eveline benar-benar ingin menikmati nya bersama dan ingin suaminya memakan hot dog yang dia beli.


Akhirnya Faero mengalah dan memilih untuk memakannya. Walau pun perutnya masih kenyang, demi calon anaknya apapun akan dilakukan. Untuk menjaga mood istrinya juga agar tidak stress. Faero benar-benar menjaga Eveline bak seorang ratu. Istri mana yang gak senang diperlakukan bak seorang ratu oleh suaminya. Sungguh impian semua istri disunia ini (termasuk author 🤭. Ya Allah masih bocil, halu mulu nih othor 🙈)


🥀


🥀


🥀


🥀


^^^POV Clarissa. ^^^


Saat diriku sudah berjalan menjauh dari kak Faero dan Eveline. Disitu aku merelakan semua orang yangku sayangi. Langkahku semakin menjauh dan menjauh sampai aku tak bisa lagi melihat mereka. Pilihanku untuk pergi sudah tepat, demi diriku dan kamu mas. Maafkan aku harus pergi saat kamu masih terpuruk melawan rasa sakit dan aku tak ada disisimu. Terima kasih sudah berkorban nyawa demi aku. Deritamu saat ini harus dibalas dengan penderitaan juga yang lebih sakit.


Selamat tinggal mas, aku akan kembali saat kamu sudah membuka mata lagi. Aku akan selalu memegang hatimu di dalam hatiku. Tak ada yang boleh memisahkan kita berdua kecuali maut. Aku pergi ya mas, sampai jumpa dilain hari. Walau pun aku jauh darimu, semoga kamu bisa merasakan cintaku yang besar untukmu.


Kini aku sudah duduk manis, tinggal menunggu penerbangan saja untuk aku bisa pergi dari negeriku. Entah sampai kapan aku disana dan aku juga tak tau kapan bisa kembali. Mungkin aku akan pulang jika kamu sudah sadar mas. Tapi aku gak tau apakah kamu nanti masih mengingatku atau tidak. Kabar tentangmu dari Lavina, sangat menusuk hatiku. Kehilangan ingatan artinya kamu tidak akan bisa mengingat tentangku atau jalan hidupmu sebelumnya. Semoga saja masih tersisa memori sedikit tentang aku dan orang-orang terdekatmu.


Sekarang aku sudah terbang menjauh dari negeriku menuju negeri orang. Awan yang biru cerah sangat indah aku pandang. Putih dan biru berpadu menjadi satu, tapi tak bisa menyatu. Karena itu awan bukan warna, maka itu aku ingin menjadi pelangi yang bisa memadukan berbagai warna menjadi satu. Untuk memberi hiasan cantik didalam hidupmu. Burung-burung yang indah berterbangan disisi lain, mereka bergerombong terbang bersama. Seolah mereka tidak akan terpisahkan, asalkan salah satu dari mereka tidak memilih untuk berpisah.


Terima kasih atas pengorbananmu mas Kendrick. Do'aku selalu untukmu.


...∞∞∞≧∇≦∞∞∞...


Lavina sedang berhadapan dengan tuan Alvero dan nyonya Mesya di ruang tamu. Ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh tuan Alvero kepada Lavina. Entah apa itu Lavina juga tidak tau, yang jelas sekarang hatinya gugup tanpa sebab. Semenjak masa hukuman Lavina berjalan, tuan Alvero jarang sekali berbicar dengan Lavina. Bahkan jarak mereka sedikit renggang dan Lavina sebenarnya ingin memperbaiki itu semua.


Lavina hanya bisa menunduk dan meremas tangannya. Ia terlalu gugup untuk mendengar perkataan sang ayah. Apakah dia akan mendapat amarah lagi? Atau menyangkut hal yang lain? Lavina juga tak mengetahui itu semua. Wajah tuan Alvero juga tidak bisa ditebak, hanya datar tak berekspresi sama sekali.


"Kenapa kamu pulang sebelum masa hukumanmu selesai?" tuan Alvero membuka suara yang langsunh membuat Lavina ketakutan.


"Itu karna permintaan kak Michael sendiri pa" jawab Lavina apa adanya, sebab Michael memang menyuruh Lavina untuk berhenti dan memberi kebebasan buat Lavina.


"Permintaan Michael atau kau yang membuat dia akhirnya memutuskma untuk membuatmu selesai dari hukuman?" pertanyaan yang sangat menohok didengar oleh Lavina.

__ADS_1


Apakah papa tau soal keinginanku? Apakah kak Michael memberi tau papa?. Semua pertanyaan itu hanya terlintas dipikiran Lavina tanpa dia ketahui jawabannya. "Dia sendiri pa yang meminta" jawab Lavina sambil menunduk tak berani menatap wajah ayahnya secara langsung.


"Lalu kamu setuju? Padahal dia baru saja membaik" Lavina sudah bungkam tak bisa berbicara apapun. Ia hanya bisa menunduk takut.


"Sudahlah pa, Lavina juga perlu kebebasan tidak harus setiap pagi datang ke rumah Michael dan pulang malam setiap hari. Kasihan Lavina pa" nyonya Mesya berharap iba agar suaminya tidak terlalu menekan Lavina, sehingga putri bungsunya bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala.


"Huufh, papa akan kembalikan semua milikmu. Tapi dengan syarat kami tidak akan berpacaran lagi" tekan tuan Alvero.


Lavina akhirnya mendongak untuk melihat wajah sang ayah yang sejak tadi membuatnya ketakutan. Ia tak percaya papa nya mau memberikan semua aksesnya. Tapi syaratnya dia tidak boleh berpacaran, bukan hal yang sulit bagi Lavina. Dirinya sendiri saja sudah tak mau untuk mengenl yang namanya menjalin kasih dengan lelaki. Sekarang prinsipnya berubah, bertemu dan menikah. Bukan bertemu untuk berpacaran, ternyata kejadian tersebut bisa merubah pola berpikir Lavina menjadi dewasa.


Lavina lantas mengangguk dan menyanggupi ucapan tuan Alvero dengan senyum yang menyerta lebar. "Aku sanggupi syarat dari papa, aku janji tidak akan berpacaran lagi" ucap Lavina mantap.


"Bagus, ini papa kembalikan semua kartu kreditmu dan kunci mobil. Sekarang kamu bebas memakai aksea itu" tuan Alvero tersenyum membuat Lavina membalas senyuman itu lalu berjalan berganti duduk disamping tuan Alvero.


Ia lantas memeluk tuan Alvero dengan erat dan mengucap beribu maaf juga terima kasih. Sampai akhirnya dia merenggangkan pelukannya. Dengan tatapan yang serius, kini giliran Lavina yang ingin berbicara.


"Bicaralah apa yang ingin kamu sampaikan" tuan Alvero memposisikan tubuhnya menghadap Lavina.


"Aku ingin berkuliah lagi pa, apa boleh?" ucapan Lavina membuat kedua orang tuanya menyerngit bingung.


"Kuliah lagi? Kenapa tiba-tiba kamu ingin berkuliah lagi? Bukannya papa gak ngijinin tapi dunia yang kamu geluti sudah cukup ngapain kuliah lagi?" tampaknya tuan Alvero bingung dengan keinginan Lavina.


"Lavina ingin berganti profesi pa. Bukan dunia permodelan atau fashion yang ingin Lavina geluti sekarang. Tapi Lavina ingin berkuliah kedokteran pa ma" sontak kedua orang tua Lavina saling beradu tatap. Mereka sangat terkejut mendengar keputusan Lavina secara mendadak.


Padahal dari dulu Lavina lebih suka terjun ke dunia fashion dan make up. Sekarang malah berbalik 180 derajat. Mereka tau kalau dulu Lavina sempat masuk ke sekolah kesehatan saat SMA, sebab coba-coba saja bukan karena minat. Dan saat lulus pun Lavina sendiri yang menentukan jurusan kuliah yang cocok dihatinya.


"Kamu serius nak?' tanya nyonya Masya tak percaya.


"Iya ma, Lavina serius. Bukan tanpa alasan kok Laguna ingin kuliah kedokteran. Lavina ingin bermanfaat saja untuk orang lain, dengan Lavina menjadi dokter banyak orang yang terbantu. Dan keahlian yang Lavina miliki saat SMA dulu ingin aku kembangkan. Kalau aku menggerutu bidang yang sekarang tidak ada manfaatnya, maka dari itu aku ingin kuliah lagi tapi jurusan yang berbeda." jelas Lavina.


Tuan Alvero langsung mengusap bahu Lavina dengan lembut sambil mengatakan hal yang membuat Lavina tersenyum senang. "Jika itu pilihanmu, maka wujudkan dengan sebaik mungkin. Papa akan selalu mendukung apapun keinginanmu asalkan hal yang positif" ujar tuan Alvero tersenyum sumringah.


"Mama juga akan selalu mendukung apapun yang ingin kamu raih" kini Lavina memeluk kedua orang tuanya dengan hati yang teramat sangat senang.


Ternyata setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Lavina menjadi lebih dewasa dan berpikir lebih jernih. Ia tak lagi mementingkan egonya dan ingin menjadikan dirinya berguna bagi orang lain. Ia juga ingin membuat kakaknya sembuh, walau pun dia sendiri tak tau kapan kakaknya akan membaik.

__ADS_1


__ADS_2