
Akhirnya Eveline diantar oleh Faero pulang ke rumah orang tuanya. Bahkan terlihat Faero tidak mencegah Eveline sama sekali untuk pulang. Sudah jelas nanti dia akan ditanya oleh kedua mertuanya. Kenapa Eveline diantar pulang dan dia sendiri tidak ikut menginap disana. Biarkan Eveline sendiri yang menjelaskan kepada kedua mertuanya. Pikir Faero
"Memang lebih baik kamu disana agar tidak tersakiti dengan sikapku. Aku juga tidak mau begini, tapi hatiku tidak bisa dibohongi. Aku masih kecewa" batin Faero sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Ferry dan Garcia.
Selama dijalan mereka berdua hanya diam membisu. Tak ada suara sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Hanya hembusan angin dan suara kendaraan yang berlalu lalang. Eveline memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia sedang menangis tanpa suara, beberapa kali Eveline menyerka air matanya. Pun dia sudah memalingkan wajahnya ke arah lain Faero masih bisa melihat kalau istrinya sedang menangis.
Faero tak bergeming dan terus fokus ke arah depan. Hingga tiba di depan rumah Eveline, perlahan pintu gerbang terbuka. Faero memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan membuka handel pintu.
Mereka beriringan memasuki rumah, Kebetulan saat itu Garcia sedang menyirami bunga di halaman depan. Sehingga ia tau kalau ada Faero dan Eveline datang berkunjung. Garcia langsung menghampiri anak dan menantunya. Eveline dan Faero mencium punggung tangan Garcia dan mengajak mereka berdua masuk ke dalam.
Saat itu Ferry berada di ruang tamu sedang membaca koran dengan secangkir kopi dimeja. Melihat kedatangan Eveline dan Faero, Ferry langsung menyuruh mereka berdua duduk.
Terlihat jelas bahwa Faero dan Eveline terlihat tidak baik-baik saja. Garcia sudah menduga ada masalah diantara mereka. Mata Garcia tak sengaja bertatapan langsung dengan Eveline. Ia melihat mata putrinya terlihat sendu dan tidak bersahabat. Tanpa basa basi Faero langsung mengutarakan niatnya berkunjung ke rumah.
"Pa, ma, aku mau menitipkan Eveline disini dulu. Aku minta maaf kalau sudah membuat Eveline bersedih. Aku akan menjemputnya lagi, kalau perasaan kami sama-sama sudah tenang. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mau Eveline tinggal bersamaku dengan keadaan seperti ini. Itu malah menambah kesedihannya." ucap Faero tanpa ada rasa takut, kalau pun ayah mertuanya akan marah. Ia tidak akan menghindar, Faero sadar sikapnya pasti menyakiti hati istrinya.
"Apa maksudmu nak?" tanya Ferry bingung sambil melirik ke Eveline yang terua menunduk.
"Biar Eveline saja yang menjelaskan, aku minta maaf pa...ma... Aku harus pergi sekarang masih ada urusan yang harus aku kerjakan." Faero terlihat tak nyaman berada disana, ia malah akan bertambah sedih jika harus melihat Eveline menangis lagi. Oleh karna itu Faero memikih untuk segera pulang.
Ferry dan Garcia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi?. Melihat Eveline hanya diam saja tanpa suara dan Faero menjelaskan hanya seperti itu. Ferry memilih diam dulu dan membiarkan Faero pergi.
Setelah kepergian Faero barulah Ferry meminta penjelasan kepada putrinya. Kenapa bisa suaminya menitipkan dia ke rumah. Kalau memang tidak ada masalah diantara mereka berdua.
Akhirnya Eveline menceritakan semuanya kejadian semalam sampai pagi tadi. Ferry dan Garcia memang sudah tau masalah keluarga Clarissa sama keluarga Kendrick. Yang dalang masalahnya adalah Kendrick sendiri. Tapi mereka gak bakal terpikir kalau ayah Clarissa akan sangat membenci Kendrick sampai meminta Clarissa bercerai dengan suaminya. Garcia semakin terkejut saat Eveline mengatakan kalau Clarissa sudah tidak boleh menginjakkan kaki di rumah Danata.
Karna Clarissa lebih memilih suaminya. Kalau dipikir memang susah berada di posisi Clarissa. Garcia yakin kalau semua ini pasti akan berakhir, sekarang mungkin Allah sedang menguji rumah tangga Clarissa dengan Kendrick.
"Ini bukan murni kesalahanmu. Memang sudah tugas istri melayani suaminya. Jangan salahkan dirimu sendiri nak. Suamimu biarkan tenang dulu, pasti dia akan kembali untuk menjemputmu." ucap Garcia dengan lembut sambil memeluk Eveline.
__ADS_1
"Sudah tepat kamu disini nak, suamimu masih marah. Kalau sudah tenang pasti dia akan menjemput kamu lagi" tambah Ferry tanpa marah sedikit pun, yaa kesal memang ada. Tapi gak sampai meluap-luap.
"Iya pa, aku mau ke kamar dulu." balas Eveline.
Sampai dikamar Eveline langsung merebahkan tubuhnya dikasur. Ia masih sedih sampai air matanya tak bisa keluar lagi. Mungkin sudah habis karna kebanyaka nangis. Diambil ponsel yang ada di tasnya dan memberi pesan pada Clarissa.
...。・♡・。灬。・♡・。灬。・♡・。...
London.
Dibutik sedang ramai pembeli, Clarissa sedang mengecek penghasilan yang masuk. Ia tidak diperbolehkan kecapean oleh Chera. Butiknya juga sudah mempunyai pegawai jadi Clarissa tidak perlu mondar-mandir untuk melayani.
Clarissa diam termenung di dalam ruangannya. Ia masih memikirkan kejadian semalam yang masih membuatnya terkejut. Menentukan pilihan diwaktu itu juga, buat nya tidak muda. Entah jawaban dari mana yanh dilontarkam Clarissa semalam. Hatinya mendorong dia untuk menjawab yaitu mempertahankan rumah tangganya.
Disela lamunanny terdengar suara Chera memanggil Clarissa dari luar. Dan tal selang berapa lama Chera masuk ke ruangan Clarissa. Ia mengatakan kalau ada customer yang meminta dibuatkan gaun pengantin. Akhirnya Clarissa bangkit dari duduknya dan pergi keluar.
"Ini orangnya kak" tunjuk Chera.
"Silahkan mari ikut saya" ucap Clarissa menggunakan bahasa inggris.
Sepasang perempuan dan laki-laki mengikuti Clarissa ke ruang desainnya. Ia menanyakan konsep model yang di inginkan sang wanita. Wanita itu pun menjelaskan desain yang diinginkan. Clarissa paham dengan konsep desainnya, ia pergi sebentr mengambil ipad nya dan mulai menyusun gambar desain. Lalu dia tunjukkan ke sepasang kekasih tersebut.
"Wah bagus" puji wanita tersebut sambil bertanya pada kekasihnya.
Clarissa kembali menjelaskan konsep warna dan tatanan aksesoris. Wanita itu meminta gaun yang tidak terlalu lebar tapi kalau dipandang tetap elegan dan menarik mata. Dengan lengan pendek diatas siku. Clarissa mendengarkan sambil menyusun setiap konsepnya.
Selesai berbincang akhirnya sepasang kekasih tersebut pergi. Clarissa kembali terlihat murung dan lebih berdim diri. Tangannya meraih ponsel yang ada diatas meja dan dilihat ada notifikasi masuk dari Eveline. Memang ponselnya nada deringnya dinonaktifkan oleh Clarissa agar tidak mengganggu pekerjaannya.
📩"Clari maafkan aku ya. Aku gak nyangka papa dan mama akan marah besar seperti ini. Kamu jadi diusir dan gak boleh kembali lagi ke rumah. Aku kangen sama kamu Clarissa, kapan kamu kembali ke Indonesia?" pesan Eveline.
__ADS_1
Clarissa menghembuskan nafas panjang sebelum membalas pesan Eveline.
✉️"Sudah lah Vel, ini bukan salahmu. Aku gak pa-pa, maaf aku belum bisa pulang ke Indonesia sekarang. Mungkin kalau mas Kendrick sudah membaik." balas Clarissa.
"Mas kamu kapan sih sadarnya, sudah berbulan-bulan kamu koma tapi belum ada perkembangan apapun. Kami menunggumu mas, sadarlah sebelum anak kita lahir. Kembali lah pada kami, aku akan selalu menunggumu disini" gumam Clarissa sambil mengelus perutnya yang terlihat semakin buncit.
🥀
🥀
🥀
Pengelidikan polisi masih berlanjut tentang kasus kecelakaan yang menimpa Kendrick. Mereka masih tetao mencari otak dibalik semuanya. Sebab pihak polisi atau pun keluarga Kendrick meyakini kalau masih ada dalangnya dan dia belum tertangkap. Rekaman CCTV dijalan sudah dipantau dan diamankan pihak kepolisian. Bahkan sang supir masih terus ditanya tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya menyebutkan bos yang menyuruhnya.
Sang supir masih tetap kekeh kalau dirinya memang tidak sengaja menabrak Kendrick saat berkendara. Padahal sudah jelas kalau mobil itu bukanlah miliknya dan dia sendiri seorang pengangguran. Entah apa yang dijanjikan pelaku tersebut kepada sang supir sampai supir itu bungkam.
Tuan Alvero sedang menemui suruhannya untuk mencari bukti lain yang bisa menunjukkan pelaku sebenarnya. Suruhannya sudah menduga siapa pelaku yang sesungguhnya. Oleh karna itu dia mengajak bertemu dengan tuan Alvero, digedung Raymond grup. Diperusahaan tuan Alvero sendiri.
"Cepat katakan apa yang kamu dapat?" tanya tuan Alvero duduk disofa bersama dua pria yang dia suruh.
"Begini, saya mencurigai dua perempuan yang terlibat. Saat di TKP satu perempuan ini sempat beradu cekcok dengan tuan Kendrick dan nona Clarissa. Tapi waktu kejadian itu berlangsung perempuan itu tidak langsung pergi, dia sempat melihat kejadian itu hanya sebentar. Lalu dia pergi menaiko mobil. Dan didalam mobil itu tidak hanya dia sendiri tapi ada dua perempuan lagi." jelas salah satu dari mereka.
"Siapa perempuan itu?" tanya tuan Alvero.
"Namanya Jennie, Lanni, dan satu temannya lagi Nesya" jawaban dari mereka sangat membuat tuan Alvero terkejut. Ia tak menyangka kalau Jennie juga terlibat.
"Lalu apa bukti dugaan kalian itu" salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah flasdisk dan memberikannya pada tuan Alvero.
"Di dalam sini ada rekaman video yang saya dapat dari toko dekat resto tersebut. Memang tersembunyi tapu disitu nampak perempuan tadi seperti orang yang ketakutan. Dan selama ini kami juga menyelidiki perempuan yang bernama Jennie ini juga pelaku yang menabrak." paparnya.
__ADS_1
Tanpa basa basi tuan Alvero langsung mencolokkan flasdisk tersebut ke laptopnya. Ia memutas rekaman CCTV yang dikatakan oleh kedua suruhannya. Dan benar saja terlihat jelas di rekaman bahwa Jennie sedang melihat dibalik dinding dan langsung pergi begitu saja seperti orang ketakutan. Ia menaiki mobil yang diparkir disisi lain resto tersebut.
Ini sangat membuat tuan Alvero juga curiga. Dan ia menanyakan kembali perkembangan sejauh mana kedua orangnya mencari bukti.