Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 84 #Tak Pernah Ada Untukmu


__ADS_3

London.


Clarissa sedang makan ditemani dengan Lucy yang sedang menimang putranya. Besok adalah hari terakhirnya dirumah sakit. Karna dia sudah diperbolehkan pulang setelah diperiksa keadaan Clarissa sudah membaik.


Lucy yang sedang menimang baby tampan tersebut masih bingung harus memanggil si tampan itu dengan nama siapa. Lantaran Clarissa belum juga memberi tau nama si baby. Sampai rasa penasarannya Lucy tak tertahankan lagi ia meminta Clarissa mengatakan nama kedua anaknya. Setiap Lucy ingin mengajak bercanda bayi yang masih berumur empat hari itu bingung harus memanggil siapa.


Selesai makan Clarissa menyusui putranya bergantian. Merasa kenyang si tampan pun tertidur pulas. Disini lah Lucy mengambil kursi dan duduk disamping Clarissa.


"Ayo katakan Rissa siapa nama mereka berdua" tunjuk Lucy ke arah bok bayi.


"Nanti bi dirumah........Besokkan Rissa pulang" balas Clarissa dengan senyum cengirnya membuat Lucy berdecak kesal.


"Halah ayolah, bibi penasaran sekali. Setiap manggil mereka tak tau namanya. Jadi terlihat aneh, kalau sudah tau namanya kan mudah untuk memanggil." Lucy tetap memaksa Clarissa untuk mengatakan sekarang juga. Ia sudah sangat penasaran dengan pandangan yang dibuat sendu.


"Aiih bibi ni mah, panggil baby atau yang lain kan bisa. Mereka masih bayi belum bisa menyahuti ucapan bibi" ujar Clarissa membuat Lucy akhirnya mengalah dan memilih diam.


"Terserah lah, setelah sampai rumah janji lah untuk langsung memberi tau bibi" bisik Lucy mencodongkan wajahnya ke arah Clarissa dengan mata menyipit.


"Hahah ya ampun bi, hanya nama loh sampai seperti itu. Tenanglah aku janji kok" balas Clarissa dengan tawa pelan agar baby nya tidak bangun.


"Ck, baguslah" Lucy bangkit dan berjalan mengarah ke sofa. Ia menyandarkan tubuhnya disana sembari membaca artikel di ponselnya.


'Bagaimana nanti kalau pulang membawa dua anakku, pasti mereka terkejut tiba-tiba aku punya anak. Sedangkan yang mereka tau Kendrick membenciku dan tak pernah menyentuhku. Aku harus menceritakan semuanya, agar mereka tak salah paham'. Batin Clarissa


Clarissa begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya. Rasanya hari itu juga ia ingin pergi pulang. Rindunya yang sudah dia pendam lama mencuak muncul. Ia ingin memeluk tubuh suaminya. Dalam hati Clarissa terus berdoa agar suaminya bisa menunggu dia pulang nanti.


Setelah ini Clarissa memilih hidup dengan suaminya lagi. Ia tak mau memikirkan kejadian sebelumnya dan ingin membuka lembaran baru. Lagi pula dia sudah tau perasaan Kendrick terhadapnya. Dan hatinya pun mempunyai rasa yang sama. Rasa dendam dihatinya juga sudah dituntaskan. Lalu apalagi yang akan terjadi selanjutnya? Selain hidup bahagia.

__ADS_1


Untuk sekarang yang dipentingkan Clarissa adalah anaknya. Kalau pun keluarganya masih tak menerima mereka bertiga. Tak masalah buat Clarissa selama suaminya ada disisinya. Maka dari itu Clarissa ingin segera pulih dan pulang untuk menemui Kendrick. Sudah lama rasa rindunya dipendam, ia tak pernah menyesali keadannya sekarang. Buat Clarissa semua ini takdir yang memang diteyapkan oleh Tuhan dan keluarganya.


Kalau pun nanti akhirnya ceritanya akan tetap sama, Clarissa mencoba akan ikhlas dan menerima. Namun dihati yang paling dalam Clarissa berharap Tuhan berbaik hati dan merubah sehala rasa skait menjadi kebahagiaan diakhir nanti.


...--...


...♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡...


...--...


Sementara disisi lain Eveline sedang menggendong putrinya yang dia beri nama Yely Versya Danata. Bayi itu sedang menggeliat dipangkuan ibunya. Semenjak Eveline melahirkan ia sudah keluar dari kerjanya. Ia mau fokus untuk membesarkan putri tercintanya. Agar anaknya tidak kurang kasih sayang dari orang tua.


Yely terlihat sangat cantik dan imut. Siapapun yang melihatnya pasti merasa gemas dan ingin mecubit pipi Yely. Kedua orang tua Eveline berkunjung ke rumah untuk melihat cucu mereka. Gercia sangat suka kalau melihat Yely saat sedang tersenyum.


Banyak boneka yang dibelikan Gercia untuk sang cucu. Sampai numpuk dilemari, banyak macam yang dia beli. Ada juga yang sebesar manusia dewasa. Haduh Yely masih kecil belum bisa bermain dengan boneka itu. Tapi tetap saja dibelikan, kalau ini mah balik buat Eveline yang suka.


"Iya dong oma, aku mau terlihat cantik" sahut Eveline menirukan suara anaknya kecil, lalu mengalihkan Yely kepangkuan Gercia.


"Velin, apa Clarissa belum pulang?" tiba-tiba Ferry menanyakan tentang Clarissa. Eveline sedikit menengok kanan dan kiri takut ada yang dengar.


"Belum pa, jangan bahas Clarissa kalau disini. Nanti didengar sama papa Nevan." ucap Eveline segera menghentikan perkataan ayahnya dan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Ferry.


Ferry hanya bisa membuang nafasnya panjang. Ia sebagai orang tua bisa merasakan bagaimana kehilangan seorang anak. Ferry memang bukan orang tua Clarissa, tapi mereka sudah dekat dati Clarissa masih kecil. Gak jarang Clarissa bermain ke rumah nya. Ia hanya bisa berdoa agar Clarissa selalu terlindungi dimana pun dia berada.


"Suamimu masih kerja nak?" Ferry mengubah pembicaraannya dengan menanyakan keberadaan Faero.


"Iya pa, biasanya sebelum sore sudah pulang kalau gak banyak pekerjaannya. Papa sama mama kesini gak ngabarin dulu pasti mas Faero akan dirumah tadi gak berangkat kerja." ucap Eveline yang pasti kalau tadi kedua orang tuanya memberi kabar, Faero tidak akan berangkat kerja.

__ADS_1


"Biarkan suamimu bekerja, lagian kami kesini ingin melihat cucu mama" sahut Garcia sambil mengajak bercanda Yely yang masih ada dipangkuannya.


"Ya sudah......." tak ada pilihan selain mengiyakan ucapan orang tuanya. Ingin memberi pesan kepada suaminya tapi ia baru ingat kalau tadi Faero sempat bilang ada rapat penting diperusahaan. Akhirnya Eveline mengurungkan niatnya untuk menelfon sang suami.


Eveline pergi ke belakang sebentar kamarnya untuk mengambil ponsel yang ketinggalan. Sementara Garcia dan Ferry masih asyik bermain dengan cucu mereka.


Dikamar Eveline sudah menemukan ponselnya diatas meja damping tempat tidurnya. Ia sempat melihat layar ponsel tersebut. Dan terdapat sebuah notifikasi dari Clarissa. Merasakan kerinduan yang sangat dalam, Eveline buru-buru melihat pesan yang dikirim Clarissa. Tak ada pesan kata-kata apapun. Clarissa hanya mengirim sebuah foto saja.


Dibukalah oleh Eveline foto tersebut. Betapa terkejutnya Eveline melihat foto tersebut. Ia sampai memandanginya dengan sangat dalam. Sambil menerka-nerka siapa yang ada didalam foto tersebut.


Sebuah pemandangan dua bayi yang sangat tampan. Sampai Eveline terbengong saat menyadari maksud Clarissa mengirim foto tersebut. Walau tanpa pesan apapun Eveline sudah bisa menebak siapa yang ada dalam foto tersebut.


"Apa mereka anaknya Clarissa? Kalau iya, artinya Clarissa sudah melahirkan dong. Bayinya kembar? Ya ampun imut sekali." gumam Eveline mengagumi ketampanan anaknya Clarissa.


"Ini cowok apa cewek, Clarissa gak beri pesan apapun gitu. Biarku tanyain sekalian." Eveline langsung mengetik suatu pesan untuk Clarissa. Sebuah pertanyaan bertubi-tubi dari Eveline. Ia menyepam Clarissa dengan sebuah pertanyaan.


"Ya ampun Clari, kau harus berjuang sendiri. Sementara mereka disini senyum bahagia, tapi aku juga gak tau dalam hati mereka. Maafkan aku ya Clar tak pernah ada disampingmu." gumam Eveline menyesali dirinya sendiri yang tidak bisa menemani sahabatnya dikala Clarissa membutuhkannya.


Sebelum Eveline pergi keluar dari kamarnya, Clarissa membalas pesan Eveline. Seketika Eveline menahan diri untuk keluar dan terlebih dahulu membuka pesan Clarissa.


📩 'Iya itu anakku Vel, mereka kembar laki-laki. Kamu gak perlu mengkhawatirkan aku disini. Setelah pulih nanti aku akan kembali pulang, tapi tolong ya rahasiakan dari semua orang tentang aku yang sudah melahirkan dan mengenai kepulanganku nanti. Aku belum tau pasti akan pulang kapan, yang pasti setelah aku pulih.'


📩 'Ohh iya kamu sudah melahirkan? Boleh kirimkan foto anakmu? Katamu perempuan pasti cantik ya. Jangan lupa kirim Fotonya nanti ya. See you Velin.'


Tak terasa air bening menetes dipelopak mata Eveline. Ia merasa terharu melihat kemandirian Clarissa dan juga ketegaran hatinya. Sampai hamil dan melahirkan saja sendirian. Tanpa suami dan keluarganya. Andai jika dibayangkan apakah Eveline sendiri akan sekuat Clarissa?. Mungkin saja tidak, jelas dirinya kalah dengan ketegaran Clarissa.


Ia menyerka air matanya dan mencari foto Yely. Setelah menemukannya ia kirim ke nomor Clarissa. Sebelum ia menutup ponselnya, Eveline tak lupa menghapus pesan terakhir Clarissa agar tak diketahui suaminya. Terkadang Faero membuka ponsel Eveline tanpa izin, mereka memang tak pernah menyembunyikan apapun satu sama lain.

__ADS_1


Tak lupa juga Eveline memindahkan foto anak Clarissa agar tak hilang dari ponselnya. Sayang sekali kalau hilang, tak ada kenang-kenangan lagi entar. Setelah itu Eveline pergi keluat menemui orang tuanya. Dan ternyata di ruang tamu sudah ada Cantika yang sedang duduk disamping Garcia.


__ADS_2