
Jika luka sudah tertanam dalam hati, tak ada siapapun yang bisa menyembuhkan luka itu. Mungkin bisa saja luka itu sembuh, tapi disetiap pasti tetap membekas.
Luka memang sakit!
Luka mengajarkan agar ke depannya bisa lebih berpikir lagi sebelum bertindak, sebelum melakukan sesuatu yang dapat melukai perasaan, atau mengharapkan hati yang sama tapi faktanya malah berbalik yang membuat hati ini terluka.
Jadi disetiap luka pasti ada pelajaran yang berharga. Dan tak jarang luka itu membuat diri ini menjadi trauma. Maka berpikirlah seribu kali jika ingin melakukan sesuatu, menanam perasaan kepada orang lain dan bersiaplah atas jawaban yang nantinya tidak seperti ekspektasi.
•
•
•
•
•
Seminggu sudah, Kendrick terbaring dalam ranjang rumah sakit dengan banyaknya alat yang menempel ditubuhnya. Tak ada perubahan apapun atau memperlihatkan perkembangan, semua tetap sama saja. Dan dalam satu minggu itu juga Clarissa tak nampak datang ke rumah sakit, sekedar menengok saja tidak. Hatinya masih sangat sakit mendengar apa yang seharusnya tidak dia dengar. Kenyataan memang pahit dan lebih sakit jika orang lain yang menyampaikan bukan dari mulut seseorang yang dia cintai.
Clarissa hanya bisa mengurung diri dalam rumah, tidak keluar sama sekali. Kegiatannya hanya sibuk dirumah untuk membuat sketsa, merancang busana atau gaun, membaca dan menulis. Wajah yang awalnya ceria penuh kegembiraan, sekarang semua itu sirna tinggal kesedihan yang dipancarkan dari sosok Clarissa. Dia benar-benar seperti manusia yang kehilangan semangat hidupnya.
Berulang kali orang tua atau kakaknya bahkan Eveline memberi nasihat dan menemaninya. Tapi Clarissa hanya mengatakan "Gak apa-apa" atau "Aku baik-baik saja". Clarissa hanya tak mau orang-orang mengasihani nasibnya itu. Padahal sesakit apapun dan sebanyak apapun hinaan yang sering dia dengar, tak ada raut kesedihan yang diperlihatkan oleh Clarissa. Bahkan dia tak pernah menanggapi itu, malah semua hinaan dia jadikan motivasi.
Kali ini sangat berbeda, ini bukan sosok Clarissa yang sering mereka temui. Jika Clarissa suntuk, sedih, kehilangan moodnya. Yang selalu jadi pelampiasannya ya kalau gak makan, nyemil, dan Clarissa suka sekali makan coklat dan es cream. Dia bisa menghabiskan semua makanan itu dalam sehari. Clarissa juga jarang sekali olahraga yang membuat berat badannya makin hari makin naik. Tapi semua itu tak dipedulikan olehnya, yang Clari mau hanya sendiri dan menghilangkan rasa stress yang melanda.
Nyonya Cantika atau tuan Nevan tak memperdulikan itu asalkan bisa membuat Clarissa lega dan menghilangkan kesedihannya. Dan disisi lain mereka juga menyuruh Clarissa agar rutin olahraga, kalau dulu ada Faero yang selalu menemani Clarissa. Lah kalau sekarang mah Faero sudah menikah, waktunya tersita untuk bekerja juga. Sehingga Clarissa jadi jarang untuk berolahraga.
Seperti hari-hari kemarin Clarissa hanya mengurung dirinya dalam ruang rancangan. Sehari dia habiskan untuk membuat model-model baru miliknya dan membuatkan untuk customer sang mama dibutik. Tapu tidak semua Clarissa kerjakan, dia hanya meneruskan apa yang di mau oleh customer tersebut. Dia hanya meneruskan pekerjaan mamanya, karna setiap orang pasti mempunyai hasil sendiri-sendiri, begitu pun dengan Clarissa.
"Bi mana Clarissa, kok gak kelihatan" Eveline baru saja pulang dari bekerja, ia mencari keberadaan sahabatnya yang sudah menjadi adik ipar.
"Sepertinya di ruangannya non, bibi tadi liat non Clarisda masuk kesana. Sudah dari tadi sih dua jam yang lalu" jelas bi Asri art di rumah itu juga.
"Ya Allah betah banget itu anak mendekam disana. Lama-lama jadi khawatir aku bi sama keadaannya Clarissa" Eveline mengambik air minum dikulkas untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.
"Iya non, walau pun non Clarissa gak pernah sedih dihadapan semua orang. Tapi wajahnya gak bisa bohong" jawab bi Asri.
"Benar bi, dia memang selalu menyembunyikan kesedihannya. Ya sudah aku mau nyusul dia dulu" Eveline hendak pergi namun diurungkannya. "Eh aku buatin jus aja biar moodnya balik" gumamnya.
"Sini biar bibi kupasin buahnya" tawar bi Asri untuk membantu Eveline.
"Gak usah bi, aku bisa sendiri kok." Eveline mulai mengambil jambu merah segar untuk dibuat jus.
Setelah selesai Eveline membawa jus tersebut ke ruang Clarissa. Benar saja Clarissa masih ada disana, sampai didepan pintu. Ia mengetuknya beberapa kali, mendengar sahutan Clarissa dari dalam. Eveline pun membuka pintu, yang pertama kali dilihat oleh Eveline adalah senyum Clarissa. Dibalik senyum itu ada rasa sakit yang disembunyikan oleh Clarissa.
"Assalamu'alaikum" salam Eveline saat masuk ke dalam tak lupa dia menutup pintunya tapi tak seluruhnya hanya menyisakan cela sedikit.
"Wa'alaikumussalam" jawab Clarissa menyuruh Eveline untuk duduk di sampingnya.
"Nih buat kamu" Eveline menaruh jus tersebut diatas meja kecil yang terdapat sisa bungkus coklat disana.
"Makasih, tau aja kalau aku lagi haus" tak pikir lama Clarissa menyambar jus tersebut lalu meminumnya beberapa teguk.
"Wah bagus nih sketsa gaun yang ini" tunjuk Eveline pada salah satu sketsa gaun yang dibuat oleh Clarissa.
"Kamu mau dibuatin?" tanya Clarissa sembari meneruskan membuat sketsa yang belum selesai.
"Gak juga sih, tapi kalau kamu mau buatin juga gak pa-pa" ucap Eveline nyengir menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Kalau itu mah memang kamu yang mau, ya sudah nanti aku buatin untuk kamu" sindir Clarissa dengan bibir yang terus tersenyum.
"Hehe, bagus gitu mana bisa aku nolak" cengir Eveline.
__ADS_1
Clarissa masih fokus untuk menyelesaikan sketsanya dan Eveline terua memperhatikan Clarissa dengan wajah tak bisa ditebak. Kini Eveline memberanikan diri untuk membahas perihal tentang Kendrick atau perasaan Clarissa sekarang. Tak mungkin seterusnya akan seperti ini, yang ada sahabat sekaligus adik iparnya itu akan terpuruk gak nentu arah untuk bangkit.
"Clar?"
"Hmm!" tanpa menoleh ke sumber suara.
"Mau sampai kapan kamu begini Clari?" mensejajarkan posisinya di samping Clarissa.
"Begini bagaimana sih? Emang aku kenapa?" Clarissa menaruh alat tulisnya lalu berpaling menghadap ke arah Eveline.
"Jadilah Clarissa yang aku kenal, kenapa kamu malah jadi mengurung diri begini terus" cecar Eveline dengan tatapan yang sedih.
"Emang aku yang kamu kenal gimana? Aku ya tetap diriku tak ada yang beda." jawab Clarissa dengan lengkungan senyum yang tipis.
"Aku tau rasa sakit yang kamu rasakan, aku ngerti gak mudah bagi kamu untuk melupakan bahkan memaafkan Kendrick. Ingat lah Clar, dulu saja banyak cemo'oh yang kamu dapat tapi semua itu seperti biasa untukmu. Bahkan kamu pernah bilang kalau hinaan mereka adalah motivasi untukmu. Terus ini!" Eveline menatap wajah Clarissa penuh arti sembari menggenggam tangan Clarissa.
"Semua butuh proses Vel, gak semudah itu" Clarissa melepaskan genggaman tangan Eveline.
Belum juga Eveline menjawab tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mereka bersamaan menoleh ke arah pinth tersebut.
Tok.
Tok.
"Siapa?" tanya Eveline dari dalam.
"Ini bi Heti non" jawab bi Heti dari luar.
"Masuk bi!" teriak Eveline yang masih berada diluar.
Ceklek.
"Ada apa bi?" tanya Clarissa.
Clarissa dan Eveline bingung kenapa tiba-tiba Farghan dan Alifa ke rumah. Sebelumnya juga gak ada janji apapun atau memberi kabar kalau mereka akan berkunjung. Tanpa banyak tanya Clarissa langsung keluar untuk menghampiri mereka berdua. Bersamaan dengan Eveline yang mengikuti dari belakang. Bi Heti pun lantas menutup pintu ruang tersebut, sebab Eveline lupa menutupnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Clarissa menyapa mereka berdua. Ia pun duduk disofa bersebelahan dengan Eveline.
"Ada apa kok kalian kesini gak ngabarin?" tanya Clarissa bingung.
"Ada hal yang ingin aku bicaran sama kamu Clar, ini mengenai suamimu" tanpa ba bi bu Farghan langsung membuka omongan.
"Kenapa dengan dia?" yang ada dalam benak Clarissa.
"Kenapa?" tanya Clarissa singkat dengan ekspresi datar.
"Ada yang harus kamu tau Clarissa, sebelum pesta kejutan itu dimulai tepat hari sebelumnya. Kendrick pernah menitipkan sesuatu kepadaku, dia memintaku untuk menyimpannya dan memberikan padamu. Katanya itu untuk hadiah ulang tahunmu" jelas Farghan membuat Clarissa sekaligua Eveline bingung dengan maksud perkataan Farghan.
Terus apa hubungannya denganku?
Hadiah apa?
Kenapa di titipkan ke Farghan?
Kenapa diberikan langsung kepadaku?
Dan masih banyak perkataan dipikiran Clarissa. Dia terua bertanya-tanya apa maksud perkataan Farghan tadi. Dan kali ini terjawab dengan penuturan dari Farghan.
Melihat Clarissa dengan ekspreai bingung. Farghan pun kembali melanjutkan perkataannya lagi. Clarissa tak menjawab apapun tapi raut wajahnya sudah menunjukkan kebingungan.
"Kendrick menitipkan ini kepadaku untuk diberikan padamu. Maaf aku baru bisa kesini untuk memberikannya, amanah dari Ken sudah tersampaikan." pasien yang banyak membuat Farghan tidak bisa menyempatkan diri untuk ke rumah atau sekedar berbincang ke luar bersama Clarissa untuk memberikan amanah tersebut.
__ADS_1
"Kenapa gak dia sendiri yang memberikannya?" tanya Clarissa merasa heran.
"Aku juga gak tau, intinya waktu itu Ken mengatakan kalau aku disuruh memberikannya padamu. Karna dia gak tau bisa memberikannya langsung padamu atau tidak dan dia juga tidak yakin kamu akan mau menerimanya." Farghan juga bingung kenapa gak Ken sendiri saja yang memberikan hadiah itu. Dan kini terjawab sudah pertanyaannya dengan terbaringnya Kendrick diranjang rumah sakit
"Mungkin ini lah jawabannya Clarissa kenapa tidak dia sendiri yang memberikannya secara langsung. Kalau pun saat itu Kendrick langsung memberikannya padamu, aku juga gak yakin kamu mau membuka nya atau hanya sekedar melihat. Jadi aku minta setidaknya buka dulu isinya jangan karna rasa marah atau kecewamu sehingga membuatmu langsung menolaknya dan tidak tau isinya apa" tutur Farghan.
"Iya, makasih kalian sudah menyempatkan datang kesini. Padahal aku tau waktu kalian pasti sangat minim" ucap Clarissa dengan tulus sambil memaksakan tersenyum.
"Gak apa-apa Clarissa, amanah ini harus di dahulukan untuk disampaikan kepada orang yang tepat. Agar kami juga tidak memiliki tanggungan lagi." sahut Alifa yang berada disamping kanan Farghan.
"Terima kasih banyak" ucap Clarissa kedua kali.
"Sama-sama" Jawab mereka serempak.
"Clarissa ada satu lagi yang ingin aku jelaskan sama kamu. Tentang Kendrick sama Jennie"
"Gak perlu bahas mereka didepanku lagi" sahut Clarissa tanpa ba bi bu, ia masih sangat kecewa dan marah bahkan kabar kondisi Kendrick saja enggan untuk dia tanyakan padahal ada Farghan disana.
"Dengarkan dulu Clari, aku belum selesai berbicara" Farghan mengerti tentang perasaan Clarissa sekarang yang masih kecewa dan marah.
"Apa?" walau pun malas Clarissa masih mau untuk mendengarnya.
"Kendrick menjalin hubungan lagi sama Jennie bukan semata-mata karna rasa cinta atau dia ingin mengkhianati kamu. Tapi dia mengetahui sesuatu yang tak seharusnya dia dengar perihal masa lalumu" seketika Clarissa melotot tak percaya bahwa suaminya sudah mengetahui masa lalunya.
"Lalu?"
"Ini yang aku dengar dari Michael, waktu itu Jennie datang ke kantor Kendrick tiba-tiba dan dia mengancam Kendrick untuk melukai kamu. Karna Jennie tau bahwa kamu adalah perempuan yang pernah dilukainya dimasa lalu. Saat itu Kendrick terkejut saat mendengar penjelasan Jennie. Kendrick tidak mau kamu disakiti lagi atau bahkan mengganggu mental kamu. Sehingga Jennie meminta menjalin hubungan lagi sama Kendrick, walau dengan susah Ken berpikir akhirnya dia mengiyakan saja. Tapi selama mereka berpacaran, tak ada sedikit Pun Kendrick menggubris, Jennie hanya meminta uang atau mengajak Ken jalan tapi ditolak. Begitu seterusnya sampai genap satu bulan Kendrick mengakhiri hubungan itu dan memilih untuk melindungi kamu saja. Dia tau caranya salah dan tau apa konsekuensinya." jelas Farghan panjang lebas dengan tunta.
Clarissa dan Eveline tak percaya mendengar penjelasan Farghan tadi. Akhirnya mereka tau yang sebenarnya alasan Kendrick menjalin hubungan kembali sama Jennke hanya untuk melindungi Clarissa.
"Aku hanya ingin kamu tau agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Walau cara dia salah, Kendrick sudah menyadari itu dan ingin merubah semuanya" tambah Farghan lagi.
Clarissa masih diam membisu tak satu pun ucapan Farghan didengarnya. Seolah telinganya itu tertutupi. Eveline sampai menyenggol lengan tangan Clarissa agar dia tersadar dari lamunannya.
Clarissa sampai tersentak kaget dan kembali mengayunkan senyum ke arah Farghan dan Alifa. "Iya makasih" hanya kata makasih yang selalu terucap dalam bibir Clarissa. Sebab entah kata apa lagi yang harus diucapkan.
"Iya, Kalau gitu kami pamit pulang dulu, semoga Allah lekas memberi jalan atas permasalahanmu" ucap Farghan sebelum beranjak pulang.
"Aamiin, makasih Farghan Alifa"
Farghan dan Alifa hanya tersenyum sambil mengangguk. Clarissa dan Eveline pun mengantarkan keduanya keluar untuk pulang. Selepas kepergian merrka berdua Clarissa kembali masuk dan melihat kotak persegi tidak terlalu besar berbungkus kertas kado yang penuh dengan bentuk hati ditambah ada hiasan pita diatasnya. Clarissa sebenarnya masih marah dan kecewa, bahkan enggan untuk menyentuh kado yang diberikan oleh Farghan tadi.
Tapi lagi-lagi Eveline yang masih setia berada disampingnya mengingatkan tentang pesan Farghan sebelumnya.
"Jangan gara-gara amarah itu kamu mengabaikan pesan didalamnya. Kamu belum tau kan apa isinya, tidak semuanya hadiah mewah bisa saja di dalamnya beriai pesan atau entah aku juga gak ta." Eveline sembari mengusap lembut pundak Clarissa.
Clarissa hanya tersenyum lalu mengambil kotak dari Farghan tadi dan membawanya ke kamarnya. Eveline bernafas lega pada akhirnua Clarissa mau membawa kotak hadiah tersebut.
*
*
*
*
Assalamu'alaikum
Hari senin nih sedekah Vote nya buat othor tersaaaayaang nih 🤭
Part ini lumayan panjang sampai 2000 kata lebih. Gak papa ya bonus 😁.
Part selanjutnya khusus Clarissa aja, siapkan tisu.
__ADS_1
By By 👋