Gadis Gendut Istri Sang CEO

Gadis Gendut Istri Sang CEO
Part 60 #Kabar Buruk?


__ADS_3

Clarissa dan Eveline pun kembali pulang ke rumah setelah tadi sudah menjenguk Kendrick sekaligus bertemu dengan Mesya. Bersyukurnya Clarissa saat sang mama mertua memahami keadaan Clarissa. Nyonya Mesya hanya berharap takdir bisa menyatukan putranya dengan Clarissa. Sebab hati Mesya sudah terlalu menyayangi Clarissa bahkan dia sudah tak memandang Clarissa itu menantunya atau orang lain. Nyonya Mesya sudah menganggap Clarissa adalah putrinya sendiri, sama seperti Lavina.


Ditengah perjalanan pulang Eveline minta sama Clarissa untuk menemaninya ke restoran yang dekat-dekat situ. Clarissa pun mengiyakan, kemudian Eveline membawa Clarissa ke resto yang memang dekat sekali dengan jalan yang mereka lewati. Sampai disana mereka turun dan masuk ke dalam berdua. Tapi baru saja sampai di depan pintu masuk, Eveline malah minta pulang saja. Hetan lah Clarissa, tadi minta ke restoran sekarang sudah sampai malah minta pulang.


"Issh, kau nih bagaimana sih Velin. Tadi ngajak makan sekarang malah minta pulang, udah sampai juga di depan pintu tinggal masuk." gerutu Clarissa bersendekap dada.


"Hehe maaf Clar, aku sudah gak mood makan. Ayo pulang, aku pengen makan dirumah saja" tanpa basa basi Eveline menarik tangan Clarissa menuju mobil tanpa persetujuan dari orangnya.


Makin kesal saja si Clarissa, sudah ngajak makan malah minta pulang. Nanggung banget sudah sampai di depan pintu. Terus main narik-narik saja tanpa izin. Clarissa sampai heran dan gak mengerti dengan kelakuan Eveline.


"Clar kamu yang nyetir ya. Kepalaku tiba-tiba pusing" Eveline menyodorkan kunci mobil kepada Clarissa sambil tangan kirinya memegang kepalanya.


"Kamu sakit Vel? Ke rumah sakit yuk kita periksa" Clarissa mengambil kunci mobil yanh disodorkan oleh Eveline dan memegang kening Eveline. "Gak panas, pusing banget ya?" tanya Clarissa setelah mengetes suhu Eveline.


"Iya, ayo pulang saja Clari. Aku pengen cepat-cepat istirahat, sepertinya aku kecapean" pinta Eveline menyandarkan tubuhnya kesandaran tempat duduk dengan tetap memegangi kepalanya.


"Baiklah kita pulang" Clarissa menyalakan mesin mobil dan melajuka menuju rumah.


Clarissa masih melihat Eveline yang sedang menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Clarissa begiru khawatir dengan keadaan Eveline. Sehingga tanpa meminta persetujuan Eveline, Clarissa langsung memutar balik mobil menuju rumah sakit. Eveline masih tidak sadar, mungkin karna dia merasakan pusing jadi tak menghiraukan keadaan sekitar.


Sampai di depan rumah sakit, Eveline baru menyadari kalau Clarissa tak membawanya pulang. Ia kaget dan melihat sekeliling, mereka sudah ada diparkiran rumah sakit. "Kok malah balik ke rumah sakit?" tanya Eveline heran.


"Kamu periksa dulu jangan membangkang lah nurut saja. Sepertinya kamu kecapean banget, biar tau kamu sakit apa. Udah ayo turun" paksa Clarissa membawa Eveline masuk ke dalam rumah sakit.


Mau tidak mau Eveline pun menuruti ucapan Clarissa untuk memeriksakan kesehatannya. Ia juga ingin tau tentang sakit yang dideritanya. Karna banyak pasien juga mereka pun mengantri dulu di ruang tunggu. Sebenarnya Clarissa bisa saja langsung menyela yang lain, sebab rumah sakit itu masih ada hak ayahnya. Namun ia tak mau, lebih baik mentaati peraturan dan gak semena-mena itu pikir Clarissa.


Disela menunggu itu tiba-tiba saja Eveline merasa sangat mual yang amat sangat. Sehingga ia langsung berlari menuju toilet diikuti Clarissa dari belakang yang kebingungan. Di dalam toilet Eveline terus mual, memuntahkan semua isi perutnya. Sambil dielus bagian belakang lehernya oleh Clarissa.


"Kamu tadi makan apa sampai muntah gini, masuk angin kah?" Clarissa mengambil minyak angin di tasnya berniat untuk memberikannya pada Eveline agar meredakan mualnya.


"Clar jauhkan benda itu dariku, tambah mual aku nyium baunya......huek.....huek" Eveline kembali memuntahkan isi perutnya.


"Lah ini minyak angin biar mualmu reda. Kok bisa tambah mual" Clarissa menyimpan kembali minyak angin tersebut ke tasnya.


"Sudah reda mual nya?" tanya Clarissa saat melihat Eveline sudah tak muntah lagi dan berkumur.


"Uda agak reda tapi masih terasa mualnya" jawab Eveline sembari mengelap bibir nya yang badah dengan tisu.


Mereka pun kembali ruang tunggu dan ternyata nomer antrian mereka sudah dipanggil sejak tadi. Langsung saja mereka berdua masuk ke dalam. Tak lupa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan.


"Siapa yang sakit?" tanya sang dokter.


"Ini dok kakak saya yang sakit" Clarissa menunjuk Eveline.


"Loh anda Eveline bukan model papan atas itu istri dari tuan Faero?" dokter itu pun kaget saat melihat Eveline, ia tau siapa perempuan yang ada di depannya. Bahkan saat hari pernikahan Eveline saja dia datang. Tapi tidak dengan Clarissa yang memang anaknya tertutup jadi gak banyak yang kenal dengan dia.

__ADS_1


"Iya dok, apa bisa periksa saya sekarang" Eveline memaksa agar secepatnya diperiksa karna ia sudah tak tahan dengan tubuhnya yang kurang tenaga.


"Baiklah, keluhannya apa?" tanya dokter kepada Eveline, ia tak menghiraukan Clarissa yang ada disitu karna memang dia tak mengenalnya.


"Awalnya tadi pusing, terus ini barusan mual. Padahal sebelumnya tidak apa-apa, memang akhir-akhir ini saya merasa capek" jelas Eveline dengan wajah yang sedikit pucat.


"Apakah bulan ini anda sudah kedatangan tamu bulanan?" tanya dokter Arin.


"Seinget saya belum sih dok, biasanya awal bulan tapi ini sampai akhir bulan belum" jawab Eveline sambil mengingat-ingat. "Kenapa ya dok, kok tanya begitu?" tanya Eveline keheranan.


Dokter Arin pun tersenyum menanggapi pertanyaan Eveline. "Sepertinya anda tidak sakit bu, kalau saya lihat dari gejalanya dan apalagi anda belum juga kedatangan tamu bulanan. Bisa jadi anda sedang mengandung sekarang" jelas dokter Arin membuat Eveline dan Clarissa melongo sebab terkejut.


"Serius dok?" Eveline masih tak percaya dengan hal itu.


"Iya bu" jawab dokter Arin meyakinkan Eveline.


"Saya akan membuatkan surat untuk anda ke spesialis kandungan. Kebetulan anda disini sekalian bisa mengontrol apa benar dugaan saya" Eveline hanya mengangguk sembari tersenyum lebar.


Setelah surat rujukannya selesai, mereka kembali menuju ruang spesialis kandungan. Makin mendekat, jantung Eveline berdegup dengan kenjang. Ia masih tak percaya dan berharap bahwa apa yang dikataokan dokter Arin tadi benar. Hingga sampai di depan pintu, Clarissa mengetuknya dan mereka pun masuk ke dalam. Eveline begitu erat menggenggam tangan Clarissa seolah tak mau melepaskannya.


Tok......Tok.........


"Permisi dok?"


"Iya" dokter itu pun mendongak. "Loh Clarissa, Eveline." Alifa saat melihat kedua sahabatnya langsung bangkit dan menyuruh mereka untuk duduk.


"Kamu hamil Vel?" Alifa tampak terkejut saat membaca surat yang dibawa oleh Eveline.


"Aku berharapnya itu benar" Eveline tampak tersenyum senang.


"Baiklah, ayo ikut aku. Biarku periksa dulu, kamu berbaring disini" perawat yang menemani Alifa membuka tirai yang sedikit ketutup untuk memberi jalan pada Eveline.


Kemudian Alifa mengoleskan gel khusus ke perut Eveline setelah dia berbaring. Dan mulai meletakkan alat USG ke perut Eveline sembari mencari titik letak janin Eveline.


"Lihat Velin, yang kecil itu adalah janin kamu" Alifa menunjukkan ke arah monitor posisi letak janin Eveline berada.


"Masya Allah masih kecil banget" Clarissa merasa takjub sekaligus bahagia.


"Iya memang masih berupa embrio. Selamat ya Velin sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu" Alifa meletakkan kembali alat USG ke tempatnya, sebelum itu dibersihkan dulu oleh perawat yang bertugas diruangan tersebut.


Tak terasa air mata Eveline tumpah, ia menangis karena merasa bahagia. Sampai Clarissa menyerka air mata itu dan memberi ucapan selamat juga untuk Eveline.


Pemeriksaan sudah selesai, kini mereka kembali ke tempat duduk. "Aku akan resepkan vitamin dan untuj meredakan rasa mual kamu. Diminum rutin ya dan setiap satu bulan sekali kamu kesini untuk cek up." jelas Alifa sambil memberikan buku panduan ibu.


"Terima kasih Alifa" ucap Eveline.

__ADS_1


"Sama-sama" Alifa ikut senang.


"Aku baru tau kalau kamu tugas disini, kirain beda rumah sakit dengan suamimu." Eveline baru mengetahui jika Alifa bertugas di rumah sakit yang sama dengan Farghan dan dia juga baru tau kalau Alifa adalah seorang dokter kandungan.


"Kebetulan dulu aku diterima disini dan mas Farghan juga tugas disini. Jadi sebelum kami menikah pun sudah tau satu sama lain karna kita tugas ditempat yang sama" papar Alifa.


"Enak lah setiap hari bisa bertemu dan pulang pergi barengan" sahut Clarissa.


"Eh ya sudah kami pulang dulu, diluar pasti pasienmu juga banyak. Kami pamit, lain waktu main ke rumah ya" kata Eveline sambil bangkit dari duduknya.


"Iya, hati-hati di jalan dan semoga dilancarkan kehamilanmu sampai persalinan nanti"


"Aamiin"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"







"Bagaimana keadaan Kendrick?" Mesya sedang berada diruang pribadi Farghan bersama tuan Alvero. Tadi mereka dipanggil oleh seorang perawat untuk menemui Farghan diruangannya.


Kebetulan tuan Alvero sedang berkunjung ke rumah sakit setelah dari perusahaan. Selama Kendrick koma, tuan Alvero yang harus mengurus perusahaan dibantu oleh asisten pribadinya dan juga dibantu oleh Roy untuk menghandel perusahaan sementara.


Farghan benar-benar tampak serius untuk menjelaskan perihal sesuatu, sepertinya tak jauh mengenai keadaan Kendrick. Ia pun menjawab pertanyaan Mesya dengan serius.


"Tante dan om yang sabar dan tabah, semua hasil diagnosa Kendrick sudah selesai dan terkumpul. Kendrick keadaannya sama sekali tak ada perubahan dan dia juga gak memunculkan tanda-tanda akan sadar kembali. Om dan tante harus tau kalau......." Farghan tampak menunduk dan menarik nafas berat saat akan mengatakam sesuatu kepada kedua orang tua Kendrick.


"Apa Gha?" serobot nyonya Mesya yang sudah gak sabar ingin mendengar kabar negatif atau positif dari Farghan. Yang jelas dalam hatinya ia berharap bahwa adapun yang disampaikan oleh Ganggang nanti bukanlah kabar buruk.


"Kemungkinan besar kalau Kendrick sadar, dia akan mengalami amesia akibat benturan keras dikepalanya saat kecelakaan tersebut"


Deg.


Hati Mesya sangat hancur sekali mendengar penjelasan dari Farghan. Belum reda kekhawatirannya karena Kendrick belum sadar juga, sekarang ditambah kabar bahwa Kendrick kemungkinan besar jika dia sadar akan kehilangan ingatannya. Nyonya Masya langsung memeluk suaminya dan nangis sesegukan. Ia rapuh seolah tak kuat untuk berjalan lagi, badannya lemas, penglihatannya kabur dan nyonya Masya pun pingsan di pelukan tuan Alvero.


Segera tuan Alvero dan Farghan membawa nyonya Mesya ke IGD untuk memeriksa keadaannya. Setelah pemeriksaan selesai, ternyata nyonya Mesya mengalami darah tinggi. Sehingga ia harus dirawat untuk beberapa hari ke depan sampai kedaannya benar-benar kembali normal.

__ADS_1


Namun saat nyonya Mesya tersadar, ia tak mau dirawat dan ingin menjaga Kendrick. Sesabar mungkin tuan Alvero memberi pengertian agar istrinya tetap dirawat sampai pulih. Pada akhirnya setelah dibujuk keras, nyonya Mesya mau dirawat dan ia pun dipindahkan ke ruang rawat VIP 08.


__ADS_2