
Sepanjang jalan mereka terus bebincang dengan menaiki sepeda masing-masing. Tepat disamping aliran sungai disana ada tempat duduk yang biasa digunakan para pejalan untuk beristirahat. Malam itu begitu sunyi tidak seperti biasanya.
Clarissa dan Chera melewati jalanan disamping sungai tersebut. Hingga mata mereka berdua menangkap sesosok pria terpujur lemas di samping sungai. Clarissa dan Chera langsung mendekat dan melihat sipa pria tersebut.
Malang sekali lelaki yang ada dihadapannya itu sangat memprihatinkan. Dengan baju yang sudah berlumuran darah dan mata yang tertutup. Clarissa dan Chera sangat terkejut, mereka melihat sekeliling tapi tak ada siapapun hanya mereka berdualah yang ada disana.
"Bagaimana ini kak?" tanya Chera cemas lantaran hanya ada mereka berdua sedangkan pria didepannya harus segera dibawa ke rumah sakit.
"Sebentar, aku mau cari pertolongan dulu. Ck disini sepi sekali" dengus Clarissa merasa kesal disaat suatu gawat begini malah keadaan mendadak sepi.
Clarissa mengambil kain yang ada di tasnya, sebuah syal berwarna abu-abu ia lilitkan ke luka pria tadi yang ada diperutnya. Pria tadi terkena luka tusuk diperut. Clarissa berharap syalnya bisa menahan darah agar tidak keluar terlalu banyak. Lalu ia meminta Chera membantu untuk mengangkat pria tadi.
"Terus bawanya gimana?" tanya Chera bingung.
"Kita papah saja, diujung sana kan ada rumah sakit. Deket kan dari sini, sudah jangan banyak tanya dulu. Dia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah" sahut Clarissa lalu mengalungkan tangan kanan pria tadi ke pundaknya, begitu pun dengan Chera.
"Duh pria ini berat banget sih, lelah aku kak." ucap Chera merasa lelah harus jalan sembari menopang tubuh pri tersebut.
"Sabar lah sedikit lagi." sahut Clarissa hingga mereka tiba didepan rumah sakit.
Seorang perawat menarik brankar dan membantu Clarisda juga Chera untuk membaringkan pria tadi diatas brankar. Setelahnya dibawa ke IGD untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Clarissa dan Chera menunggu di depan ruangan dengan wajah cemas. Sampai pintu ruangan terbuka. Clarissa langsung bangkit dan menanyakan keadaan pria tadi.
"Bagaimana keadannya dok?" ucap Clarissa. (Menggunakan bahasa inggris, othor translite langsung saja pakai bahasa indonesia biar gak bingung ya).
"Tuan kekurangan banyak darah, beruntung anda segera memberi pertolongan pertama sehingga tuan bisa diselamatkan." jelas dokter tersebut.
"Alhamdulillah deh," ada kelegaan dihati Clarissa dan Chera mendengar penuturan sang dokter. Tapi sebentar, dokter tadi mengatakan apa? Tuan? Apa dokter itu mengenal pria tadi?. Clarissa jadi bingung.
"Apa kalian keluarganya?" tanya dokter tersebut.
Clarissa bingung harus jawab apa, ia pun mengatakan yang sejujurnya bahwa di bukan lah keluarga dari pasien.
"Bukan dok, kami menemukannya tergelak dipinggir sungai dekat jalan ujung rumah sakit ini. Lalu kami membawanya kesini." jelas Clarissa menerangkan. Ia juga gak tau siapa pria itu. Kalau memang dokter tersebut mengenal pria tadi kenapa masih tanya keluarga?.
"Apa anda mengenal pria tadi dok?" tanya Clarissa karna penasaran.
"Saya mengenalnya" jawab sang dokter yang masih dalam posisi berdiri.
__ADS_1
"Kenapa anda tadi menanyakan keluarga kalau amda sendiri mengenal pria tadi?" tanya Claridda lagi merasa aneh.
"Saya memang mengenalnya tapi tidak dengan keluarganya. Hanya sebatas mengenal saja, saya pernah bertemu dengan tuan di sebuah acara. Dan tuan Yeo adalah penyumbang dana dirumah sakit ini bagi yang kurang mampu. Saya juga nelum lama kerja disini" terjawab sudah semua rasa penasaran Clarissa setelah mendengar penuturan sang dokter.
Jadi namanya Yeo. Batin Clarissa.
"Kak pulang yuk, pasti tante Tika khawatir." bisik Chera ditelinga Clarissa.
"Maaf dok saya harus pamit pulang, saya titipkan pasien kepada anda saja ya. Pasti direktur rumah sakit ini mengenal keluarga pasien. Ohh ya ini ponsel pasien tadi saya temukan tergeletak di sampingnya." Clarissa memberikan ponsel tersebut kepada sang dokter. Lalu dia pamit pulang sebab mamanya pasti khawatir dengan keadaannya.
Flassback Off Clarissa.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Clarissa bertemu kembali dengan Yeo saat dia balik ke London. Disana lah Clarissa bertemu dengan pria yang sempat ditolong olehnya. Selama ini Yeo sudah mencari Clarissa dan Chera. Hingga dia menemukan tempat tinggak Chera dan setelah diselidiki lagi ternyata Clarissa sudah pulang ke negaranya. Disitu Yeo masih berusaha untuk mencari Clarissa untuk berbalas budi atas kebaikannya. Jadi sekarang Clarissa berteman akrab dengan Yeo.
Hingga Yeo tau kalau Clarissa sedang ada masalah. Disitu Yeo menawarkan diri untuk membantu. Dia juga mengaku tentang jadi dirinya sebagai ketua mafia. Sejak itu Clarissa mempunyai ide untuk bisa membalaskan semuanya lewat Yeo. Dan Clarissa meminta Very untuk bergabung dengan Yeo. Sampai misi mereka selesai, Yeo tetap akran dengan Clarissa dan juga Chera.
Yeo tau kalau Clarissa begitu menyayangi suaminya. Sehingga ia berniat membalas budi dengan menawarkan bantuan yang dia bisa.
Berbeda dengan Chera yang merasa takuy kalau bertatapan langsung dengan Yeo. Lantaran dia sendiri juga sudah tau identitas Yeo sebenarnya sebagai seorang mafia yang ditakuti semua orang. Hanya saja identitas itu disamarkan agar tidak ada yang tau siapa ketua mafia yang sedang mereka cari.
"Gak perlu terima kasih, ini sudah hal biasa bagiku. Harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah membantuku" ucap Yeo mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"You are welcome, aku pamit. Very kalau sudah kembali lah ke Indonesia. Pastikan tidak ada yang curiga dengan semua ini. Balik dan bekerjalah seperti biasa. Terima kasih sudah membantuku" ucap Clarissa berganti mematap Very.
"Gak usah terima kasih padaku. Semua tidak akan tergantikan dengan perbuatanku dulu" Chera sudah tau kalau Very adalah salah satu orang yang menyiksa Clarissa. Bahkan hatinya masih diselimuti kekesalan kalau melihat wajah Very. Beruntung Clarissa selalu bisa meredam emosi Chera sehingga dia bisa memaafkan perbuatan Very.
"Oke lah terserah kau saja. Aku pamit dulu" Clarissa pun melenggang pergi bersama Chera yang mengekor dibelakang. Sebelum dia pergi pandangannya mengarah ke Yeo sekilas terua dipalingkan matanya ke atah lain.
Tanpa sadar Yeo menarik bibirnya sedikit terangkat melihat gelagat Chera yang tegang kalau berhadapan langsung dengannya.
...∩∇∩∇∩∇∩∇∩∇∩...
Seorang wanita sedang merengek meminta keinginannya tak dikabulkan oleh sang suami. Wajahnya cemberut, bibirnya mengerucut ke depan. Membuat sang suami merasa gemas. Lavina yang kala itu sedang hamil meminta untuk dibuatkan nasi goreng yang pedas. Gak tanggung-tanggung sampai Lavina meminta dua puluh cabai sekaligus di dalamnya.
Mendengar hal itu langsung dilarang oleh Michael. Bukannya menurut Lavina malah ngambek dan mengurung diri dalam kamarnya. Bahkan dia melewatkan makan siang hanya gara-gara meminta nasi goreng pedas gak diturutin sama Michael.
"Haduh ma, dia malah ngambek padahal itu juga demi kebaikannya. Makan cabai sebanyak itu bisa kepedesan anakku di dalam sana." ujar Michael mengadu ke Rita yang kala itu sedang bersantai di ruang keluarga sembari menonton televisi.
__ADS_1
Tak.
Rita malah menyentil kepala putranya, membuat Michael mengadu sakit dan mengelus kening yang tadi di sentil oleh sang mama.
"Istrimu itu sedang hamil wajar kalau keinginannya aneh-aneh. Bahkan apa yang tidak dia sukai pasti akan menyukainya. Yang menurutmu pedas belum tentu rasanya akan sama. Mangga yang rasanya masam saja dia memakannya biasa kok. Wajar lah......Sudah bujuk sana turuti saja, jaga suasana hatinya agar tidak stress." marah Rita melihat kelakuan putranya yang tidak mengerti juga.
Iya juga waktu mangga masam saja dimakan. Ck padahal dia gak suka pedas. Batin Michaelberdecak kesal.
Awal kehamilannya Lavina memang meminta mangga muda. Dan kala itu dia meminta Michael untuk mencobanya. Lavina memakannya dengan biasa saja, tapi waktu Michael yang makan malah wajahnya berubah dan tidak meneruskan makan mangga tersebut.
Dalam kamar Michael mencoba untuk membujuk Lavina agar tidak ngambek lagi. Dalam selimut tebal Lavina bersembunyi. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia merasakan seseorang membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan Lavina berpura-pura tidur. Michael tau kalau Lavina hanya berpura-pura saja.
"Aku minta maaf, jangan berpura-pura. Aku tau kamu gak tidur. Yuk aku temani kamu untuk makan seperti keinginanmu tadi. Ayo" bujuk Michael, satu tangannya mengelus pipi Lavina.
Dengan hati gembira Lavina langsung membuka mata dan pertama yang dia lihat adalah wajah Michael yang sangat dekat dengannya.
Cup.
Michael mengecup bibir Lavina sekilas. Membuat rona merah dipipi Lavina. "Ayo aku temani, tapi jangan dua puluh cabai kasihan anak kita nanti kepedesan." konyol memang didengar, membuat Lavina tertawa mendengar ucapan suaminya yang tidak masuk akal.
"Mana ada dia kepedesan, lah anak kita sendiri yang minta. Lima belas deh kalau gak boleh dua puluh." tawar Lavina tapi langsung diberi gelengan oleh Michael tanda bahwa suaminya tidak setuju.
"Sepuluh saja ya, itu sudah peda. Bukannya kamu gak suka pedas? Nanti nangis pula." ujar Michael berharap Lavina mau menuruti ucapannya.
"Gak aku tetap mau lima belas. Kalau gak di izinin ya sudah aku gak mau makan sampai besok." ancamnya yang berhasil membuat Michael mau tidak mau kemauan istrinya.
"Ya sudah ayo" dengan senang hati Lavina bangkit dari ranjang dan menggandeng tangan Michael ke bawah mengarah ke dapur. Lavina ingin memakan nasi goreng buatan suaminya sendiri.
Michael langsung mengangguk dan menyuruh art untuk pergi saja dari dapur. Agar dia bisa leluasa bersama istrinya. Tanpa membantah dua art yang ada didapur langsung pergi entah kemana. Tinggal Michael dan Lavina saja. Michael jago kalau memasak, sampai Lavina menyukai masakan suaminya.
...🍀...
...🍀...
...🍀...
...Assalamu'alaikum readers Melda tersayang. 😉👋...
...Hari senin nih punya vote, sini-sini bagi ke othor. ...
__ADS_1
...Jempol dong Jempol 🤭....