
.
.
.
"dimana hantu itu mbak?". tanya Sean dengan serius.
"sudah mbak bilang dia bukan hantu". ralat Lina dengan serius juga.
"iya.. dimana Kakak bodoh itu?". tanya Sean lagi.
"ya dia pulang lah, dia punya Ayah dan Ibunda, dia juga ada keluarga tentu saja di rumahnya". jawab Lina sambil meletakkan perlengkapan nya selesai membersihkan kolam.
"dimana Rumahnya?". tanya Sean yang manggut-manggut saat Lina bilang Crystal punya Ayah dan Ibunda.
"Sean? asal kamu tau ya? tidak ada yang tau tempat tinggal Kakak cantik itu, dia bisa menghilang kesana-kemari karna dia sakti mana mungkin orangtuanya mengizinkan dia membawa kita ke Rumahnya". jelas Lina.
"anak ini kenapa kesini lagi sih?". batin Lina dengan kesal sebab Ia tidak suka pada Sean yang nakal bukan benci hanya tidak suka saja.
"kalau begitu suruh Kakak bodoh itu menemuiku kalau kesini". pinta Sean dengan serius.
"kenapa dia harus menemuimu memangnya kamu siapa?". ledek Lina.
"bukankah dia teman Mbak?". sambar Sean.
"iya, tapi kenapa dia harus menemuimu?". tanya Lina tertawa pelan.
"karna Mbak itu Pengasuhku". jawab Sean.
Lina tertawa terbahak-bahak lalu menjelaskan pada Sean bahwa dirinya bukan Pengasuh Sean lagi dan meminta Sean mencari Pengasuh lain saja sementara Lina sudah bekerja sebagai Pelayan di Mansion Asiantama tanpa memikirkan tekanan dari anak nakal seperti Sean, orang di Mansion ini tidak jahat seperti Sean hingga Sean terdiam beberapa saat.
"kalau begitu pulanglah Sean..! cari pelayan yang sangaaaaattt sabaaaarr menghadapimu ya? maaf Mbak tidak bisa bersabar menghadapimu, lebih baik Mbak disuruh mengurus Mansion sebesar ini daripada bekerja menjadi Pengasuhmu". kata Lina lagi.
"apa Mbak bodoh? bukankah Mbak butuh uang?". tanya Sean dengan santai.
"Mbak bekerja disini dapat gaji 2 kali lipat, Mbak bahagia disini, bukankah ini yang kamu mau hmm? Mbak tidak menggoda Papamu juga tidak mengharapkan uang Papamu". senyum manis Lina.
Lina sudah terlanjur kesal dengan sikap Sean yang suka-suka, andai saja Sean adalah anaknya pasti Sean sudah Lina gantung di tali jemuran.
"kalau begitu minta kakak bodoh itu jadi pengasuhku". ujar Sean lagi.
Lina menyemburkan tawanya membuat Sean menatap kesal Lina yang meremehkannya, padahal sebelumnya Lina sangat sopan dan sabar padanya walau Sean sering mengerjainya tapi demi uang kata Lina tahan dengan semua siksaan Sean.
__ADS_1
"kamu tidak akan bisa membuat teman Mbak itu bekerja padamu, dia tidak butuh uang dan Papamu itu". jawab Lina dengan santai.
"lalu apa yang Kakak bodoh itu inginkan?". tanya Sean dengan muka memerah.
"tidak ada..!". jawab Lina.
"Mbaaaakkkk?". geram Sean.
"iyaaaaaaaaa". sahut Lina juga,
Sean marah menggebu-gebu, "Mbak kenapa tidak sopan padaku?".
"kenapa mbak harus sopan sama anak kecil? seharusnya anak kecil yang sopan sama mbak, saat Mbak sudah bisa membaca, main sepeda, lompat tali, kamu belum ada di muka bumi ini Sean". kata Lina tidak nyambung.
Sean menautkan kedua alisnya tidak mengerti, "maksudnya?".
"itu artinya, mbak lebih lama hidup darimu, kamu harus menghormati Mbak karna Mbak tidak bekerja padamu lagi". jelas Lina.
"ya sudah kenapa aku jadi ngawur padamu hah? sana pulang.! belajar yang rajin dan cari pengasuhmu sendiri". omel Lina mendorong Sean pergi.
Sean berusaha menolak tapi tidak bisa ternyata Lina juga kuat dibanding Sean, sampai tiba di Ruang Tamu terlihatlah Al tengah berbincang dengan Dewi Par dan Endang.
"Papa? Papa ngapain kesini?". tanya Sean dengan datar.
"pakai nanya lagi, kenapa kamu datang ke Rumah Orang lain nak? ayo pulang..!". Al menarik lengan Sean yang membuatnya malu.
"Papa tunggu..!". protes Sean melepaskan diri dari Al mendekati Endang dan Dewi Par.
"nenek? Tante? kalau aku minta maaf apa Tante akan mengizinkan dia keluar? aku mau dia menjadi Pengasuhku lagi". Sean menatap Endang dan Dewi Par bergantian menunjuk Lina.
Lina melototkan matanya, "tidak Nyonya..! saya tidak mau bekerja dengan anak nakal ini Nyonya, saya bisa gila Nyonya". elak Lina menggeleng-geleng kepalanya.
"dia tidak mau bekerja denganmu". kata Dewi Par.
Sean menatap Lina dengan serius, "jadi pengasuhku lagi Mbak!".
"tidak mau..! Mbak butuh uang dan disini pekerjaan Mbak sangat enak dapat gaji 2 kali lipat, kan Mbak sudah bilang bekerja untuk mencari uang". jawab Lina.
"yuhuuuuu!! ". Crystal tiba-tiba muncul terbang seperti mbak kunti lalu memeluk Lina dan membawanya terbang sampai duduk diketinggian.
"Crystal sayang?". dewi Par tersenyum lebar.
Endang mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"lihat Lina? aku bawa ini". Crystal memberikan rumah keong cantik yang tidak ada isinya.
Lina awalnya takut ketinggian tapi melihat hadiah Crystal membuatnya tersenyum meraba keong cantik itu.
"Kakak Bodohhh!! ". teriak Sean dengan cerah.
Sean mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti minta di gendong dan dibawa terbang juga.
Crystal mendengar suara Sean pun menoleh kebawah melihat Sean yang tampak semangat melihatnya sementara Al celingukan ke segala arah demi memastikan bukan dirinya saja yang melihat Crystal.
"N..Nyonya apa Nyonya bisa melihat hantu itu?". bisik Al.
"bukan hantu tapi dewi kami yang mengutusnya untuk keluarga kami, dia manusia yang istimewa". jawaban Endang membuat Al merasa lega karna Crystal manusia, namun Ia heran mengapa Crystal bisa terbang seperti hantu.
Crystal melihat ke arah Lina, "kenapa dia bisa ada disini?". tanya Crystal dengan heran.
"dia ingin bertemu denganmu, aku menyesal meminta maaf padanya, lihatlah kelakuannya itu yang tidak tau sopan santun". oceh Lina.
Lina berbalik dan berdiri memegang pagar besi Lantai 2 Mansion itu lalu melompat ke baliknya dan menghela nafas lega, Crystal benar-benar hebat bisa terbang sesuka hati tapi yang dibawa terbang belum tentu senang.
"Kakak bodoh bawa aku terbang!!". pinta Sean melompat-lompat semangat.
Al terperangah, Sean tidak pernah bersemangat seperti saat diberi mainan Spiderman harga puluhan juta sebab Sean bisa mempertahankan raut wajah bahagia nya, berbeda sekarang malah tidak ada yang bisa di tutupi oleh Sean.
"Mommy? Aku lapar Mom!". rengek Crystal ke Dewi Par.
"iya sayang..! iya..! ayo nak ! Mommy buatkan makanan! ". Dewi Par mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar,
Crystal segera terbang ke arah Dewi Par dan menyambut tangan Dewi Par, Crystal mengabaikan Sean yang memanggilnya Bodoh dan Oma Endang mengelus lembut kepala Crystal yang berambut perak.
"haisshh". Sean hendak menyusul Crystal tapi ditahan oleh Al.
"ayo kita pulang!". ajak Al
"kalau Papa mau pulang, pulang aja sendiri tidak usah ajak-ajak Sean yang tau jalan pulang ke Rumah". jawab Sean dengan santai meninggalkan Al yang menganga.
"aku baru tau kalau anakku sangat menyusahkan". gumam Al sambil geleng-geleng kepala.
.
.
.
__ADS_1