
.
.
.
Crystal hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Butet,
"Crys? kamu mau kemana?". tanya Butet dengan serius.
"aku mau temui Pak Pimpinan". jawab Crystal.
"tapi Pak Pimpinan sedang koma, kamu tidak akan bisa bertemu dengannya". peringatan Butet.
"aku hanya melihat saja". jawab Crystal melepaskan tangan Butet tanpa menyakiti.
"Crys?". teriak Butet melihat Crystal berlari meninggalkan pekerjaannya.
"dia pasti memikirkan pacarnya". gumam Butet menebak kekhawatiran Crystal.
Butet melihat pekerjaan Crystal yang belum selesai pun akhirnya membantu menyelesaikannya, walau Ia kepo-an dan banyak bicara tapi Crystal tau kalau Butet dan Tatan itu adalah gadis yang baik.
Crystal berlari lalu menyetop taksi dan masuk tanpa berpikir lagi, Ia merasa tidak aman jika langsung menghilang di tempat yang akan membuat masalah dirinya semakin rumit kedepannya.
"ada apa sebenarnya? kenapa Pak Pimpinan bisa terluka parah? bukankah kata Alex semua akan baik-baik saja? dia bilang kalau dia hanya memburu orang jahat". batin Crystal gelisah di dalam taksi.
"cepat pak!". pinta Crystal mendesak si supir taksinya.
"baik dek". jawab si supir yang melihat Crystal seperti anak remaja tapi memakai seragam khusus.
Crystal menggigit jari kukunya, "semoga semua baik-baik saja". gumam Crystal menenangkan diri.
Taksi berhenti di Rumah Sakit besar, Crystal berlari setelah membayar biaya taksi, sungguh pikirannya sekarang ini sangat penuh hingga lupa mengatakan sekedar berterimakasih pada si Supir taksi tadi, sementara si Supir menebak bahwa Crys sedang kemalangan dan tidak mempermasalahkan ucapan terimakasih itu.
"permisi mbak? dimana Pasien Koma dari Luar Negri ya?". tanya Crystal sopan.
"apa mbak keluarganya?". tanya salah satu suster.
"saya keluarganya mbak?". sahut seorang Pria yang Crystal kenal adalah Cupu (bawahan Alex).
"bisa lakukan biaya adm nya pak?". tanya si suster melayani Cupu.
Crystal melihat baju Cupu berlumuran darah, "Dewaaa?? ada apa ini? kenapa hatiku gelisah". batin Crystal.
__ADS_1
Cupu melakukan transaksi tapi limid kartunya tidak cukup, Crystal mengeluarkan Blackcardnya.
"pakai ini saja mbak". pinta Crystal dengan serius.
Cupu melihat Crystal pun memandang teliti wajah Crystal, Ia tidak kenal siapa Crystal yang dipandangan matanya adalah gadis mungil seperti anak SMP saja tapi sangatlah imut.
"siapa gadis ini?? apa dia pacarnya Putra? kenapa aku tidak tau?". batin Cupu yang diabaikan saja oleh Crystal.
si suster segera menggesek kartu itu dan tersenyum lalu memberikan bukti transaksi sambil mengembalikan kartu sakti Crystal.
"di Ruangan 26 lurus saja dan nanti dipersimpangan belok Kanan Nona, Tuan". kata suster memberi petunjuk Ruangan pasien.
"terimakasih mbak". ucap Cupu berlari menyusul Crystal yang sudah tancap gas meninggalkannya duluan.
perilaku Crystal yang seperti itu malah membuat para suster berpikir Crystal adalah pacar Pasien padahal ada hal lain yang ingin ditanyakan gadis itu pada Putra.
"t. tunggu? adek siapa? apa adek kenal sama putra?". tanya Cupu penasaran sambil mengejar Crystal dan sejajar dengan Crystal yang celingukan melihat nomor kamar.
"nanti aja om". jawab Crystal lalu menemukan nomor kamar Putra segera masuk dan Cupu juga ikut masuk.
"Oh God..! lebih parah dari yang aku duga". gumam Cupu memegang kepalanya dengan kedua tangannya melihat kondisi Putra.
Crystal menoleh ke Cupu, "apa Om juga ikut dengan Alex?". tanya Crystal serius.
"jawab saja!". titah Crystal.
"tentu saja..! ka.. kami melakukan penyerangan besar dan Tuan Alex hampir saja terbunuh tapi P.. Putra menolongnya, ta. tapi tunggu...! kenapa aku menceritakannya padamu? kamu pacarnya Putra kan? kenapa memanggil Tuan nya Putra dengan nama nya?". cecar Cupu yang curiga.
Crystal memutar bola matanya dengan malas karna Cupu terlalu banyak drama, "aku menyelamatkanmu karna kamu orang setia Alex, jaga pintu dengan baik!". titah Crystal dengan tegas.
"ehh?". Cupu tidak mengerti tekanan aura yang dikeluarkan Crystal.
"cepatt!". titah Crystal.
Cupu bergerak kembali ke Pintu dan mengunci Ruangan kamar Putra, Ia tidak keluar karna takut gadis itu macam-macam dengan Putra tapi tetap menjaga pintu.
Crystal memejamkan matanya lalu tangan kanannya terulur dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata, Crystal meletakkannya di jantung Putra sampai cahaya kehidupan itu menghilang.
Crystal dengan santai melepas alat bantu oksigen Putra, Cupu mengedarkan pandangannya lalu terbelalak melihat hal itu segera berlari mendekati Crystal.
"siapa kau?? kau membunuh temanku ha?". amuk Cupu meraba-raba pistolnya tapi tidak ditemukan hingga Ia mengumpat karna meninggalkan Ponselnya di helikopter.
"diamlah..! kau tidak bisa diajak bicara, Putra mengenaliku jadi dia pasti akan menjawab pertanyaanku". kata tajam Crystal melihat ke arah Cupu.
__ADS_1
Cupu yang marah berlari keluar membuka pintu Ruangan dan berteriak memanggil dokter, Ia akan melaporkan gadis yang Ia nilai jahat itu padahal tadi Cupu melihat sendiri Crystal yang membayar tagihan biaya Rumah Sakit Putra.
.
"ada apa Tuan?". tanya salah satu dokter dengan khawatir.
"itu ada gadis yang mencabut alat oksigen temanku". jawab Cupu dengan panik.
"apa pasien kejang-kejang? pasien sedang koma kemana suster yang aku suruh jaga? kenapa membiarkan pengunjung memasuki Ruangan tanpa seizinku?". gumam si dokter dengan cepat menerobos Ruangan dan berlari ke brankar Putra.
betapa terkejutnya si Dokter, 4 dokter junior dan perawat lainnya melihat Pasien yang sedang diambang kematian dengan banyaknya luka tembak di tubuhnya itu sekarang duduk seperti tidak terjadi apa-apa.
"kenapa kalian diam..? apa temanku ba..? eeh?? Putra? ka.. kau sudah sadar?". marah cupu namun melihat Putra duduk seperti orang sudah sehat total pun kaget.
"sudah aku bilang semua baik-baik saja! bisakah kalian keluar? aku ingin bicara dengannya". pinta Crystal dengan raut wajah serius.
"No.. Nona? a.. apa yang terjadi?". tanya Putra celingukan dan merasa tubuhnya tidak sakit sama sekali.
"bapak pimpinan berhutang nyawa padaku, jadi jawab pertanyaanku dengan jujur". pinta Crystal serius.
"m.. maaf Nona.. ka.. kami ingin memeriksa pasien terlebih dahulu". selah si dokter dengan takut-takut.
Crystal terpaksa membiarkan dokter memeriksa Putra, betapa terkejutnya para dokter dan perawat lainnya.
"apa yang mau kalian lakukan?". bentak Crystal membuat si dokter yang berpangkat tinggi dan masih junior itu terlonjak kaget begitu juga Perawat dan Cupu.
"ka.. kami mau periksa lukanya Nona". jawab si dokter senior dengan gugup.
"sana pergi..! aku bisa mengobatinya". usir Crystal.
"pergilah!". usir Putra mendukung perkataan Crystal sebab Ia masih penasaran dengan situasinya.
Putra merasa dirinya sudah meninggal tapi mengapa Ia bisa hidup lagi? bahkan dalam keadaan tidak terluka.
"a.. aku boleh disini kan?". tanya Cupu membuat Putra menoleh ke Crystal yang mengangguk.
"cepat kamu usir mereka, sudah aku bilang jaga pintu, kenapa kamu malah memanggil mereka?". Crystal menatap tajam Cupu yang entah mengapa tiba-tiba merasa takut.
.
.
.
__ADS_1