
.
.
.
Crystal berlari memasuki Kamar nya dan tak lupa mengunci pintu, Crystal memejamkan mata dan menghilang lalu muncul di Ruangan Keramat Mansion Asiantama.
"kakak cantik?". panggil Crystal.
sosok yang dipanggil Kakak cantik oleh Crystal langsung keluar dari dalam lukisan,
"iya keturunanku". sahut wanita itu begitu senang didatangi oleh Crystal terlebih lagi memanggilnya Kakak cantik bukan leluhur.
"apa Aurora itu aku?". tanya Crystal dengan serius menunjuk dirinya.
wanita itu tersenyum, "apa kamu mengingatnya?".
Crystal menggeleng kepalanya, "aku belum mengingat semuanya, hanya saja aku cukup stres menebak potongan-potongan bayangan itu di kepalaku". Crystal menggerutu sambil memegang kepalanya.
"iya keturunanku, kamu adalah Aurora nya Alex". jawab Leluhur Crystal dengan senyuman lembut.
"tapi kenapa namaku sekarang bukan Aurora?". tanya Crystal.
"karna tidak ada yang ingat masa lalumu selain dirimu saja keturunanku sedangkan Alex? saat dia lahir aku lah yang meminta Ibunya memberi nama Alexander".
Crystal terdiam menatap sosok wanita cantik itu, "jadi kakak cantik tau masa lalu kami?". tanya Crystal.
"aku tau masa lalu kalian tapi ada hal yang tidak boleh diungkapkan keturunanku, aku hanya bisa memberi judul besar, sementara lebihnya kalian sendiri yang mencari tau".
"bulan purnama merah mu akan datang, aku rasa kamu akan siap menerima semua ingatan menyakitkanmu itu, dan saat itu tiba aku yakin ikatan kalian akan semakin erat dan tidak akan terpisahkan lagi oleh apapun". kata wanita itu mengelus kepala Crystal lalu menghilang dari hadapan Crystal dan masuk ke lukisan.
Crystal diam menatap lukisan cantik itu, Crystal duduk di lantai itu sambil bersila.
"aku Aurora? berarti kebencianku pada Raja ketiga itu adalah perasaanku dulu, kenapa aku tidak sadarr?? kenapa pula warna rambutku dulu berbeda? aku tidak mungkin berpikir itu aku kan karna rambut kami berbeda". oceh Crystal mengusap-ngusap kepalanya dengan kesal.
Crystal bahkan butuh waktu lama sampai menyadari sosok Aurora itu adalah Crystal yang sekarang, Ia selalu tidak percaya hanya karna warna rambutnya berbeda.
"Alex? kalau itu memang warna rambutmu kenapa rambutmu berpindah padaku? kalau zaman dulu punya kekuatan seharusnya kamu jadi manusia super juga kan? setidaknya bisa menghentikan waktu atau apalah itu kelebihanmu". celoteh Crystal.
Crystal menoleh kesamping dan kaget melihat Dewi Par datang,
"sayang?". Dewi Par berubah bahagia melihat Crystal ada di Ruangan Keramat mereka.
"Hehe.. Mommy, maaf Crystal lewat jalan pintas karna Crystal mau berbicara dengan kakak cantik". cengir Crystal sambil berdiri dibantu oleh Dewi Par.
__ADS_1
"iya sayang..! kamu semakin imut saja nak". Dewi Par memeluk Crystal dengan penuh kerinduan.
Crystal tersenyum lebar, "kenapa Mommy kesini?". tanya Crystal.
"Mommy tadi sudah berdoa semoga dewi kami menjaga Alex dengan baik, tapi tiba-tiba Mommy mendengar suara lalu datang mengendap-ngendap karna takut, ternyata ada kamu sayang". Dewi Par.
Crystal mengangguk-ngangguk dengan cengiran, Ia tau Alex pergi memburu musuhnya tapi Crystal tidak mengira bahwa Alex sedang memburu musuh yang berbahaya.
"kamu sudah selesai bicara dengan Dewi kami sayang?". tanya Dewi Par dibalas anggukan oleh Crystal.
"ayo kita makan sayang..! kebetulan kita lagi kedatangan tamu, Mommy dengar kamu menyelamatkan Sean dan Lina ya tadi malam?". tanya Dewi Par sambil membawa Crystal keluar Ruangan itu.
"hanya kebetulan saja Mom, kemarin itu Crystal sedang kesal sama orang jahat jadi menakut-nakuti nya dengan memakai pakaian hantu dan lipstik dimana-mana". jawab Crystal membuat Dewi Par tertawa.
.
.
di meja makan,
Dewi Par kembali membawa Crystal pun membuat semua keluarga Alex bahagia, tidak ada Alex di Mansion itu.
"kaaaakk?". Sean berlari ke arah Crystal dan memeluk Crystal dengan senang.
"kakak kesini?". Sean mendongak senang menatap Crystal yang tersenyum mengelus kepala Sean.
"aku adalah laki-laki kak..! aku tidak akan cengeng hanya karna luka kecil". jawab Sean dengan nada sombong.
"Sean?". panggil Lina.
"iya Mbak". jawab Sean memperbaiki ekpresi nya tadi yang sangat sombong.
Al lagi-lagi terperangah tapi bukan karna Sean patuh dengan Lina, Al sudah tau akan kepatuhan Sean pada Lina, "s.. siapa dia Tuan?". tanya Al ke Indiro disampingnya.
"Crystal". jawab Indiro.
"ta.. tapi wajahnya?". Al.
"jika kau membocorkan wajah Crystal sekarang maka kematianmu akan datang". peringatan Endang.
Al pun tak lagi bertanya, Ia mengira Crystal operasi plastik tapi apa ada Operasi Plastik berubah menjadi gadis mungil, mata bisa dipakaikan Soflens tapi tubuh tidak bisa di rubah walau wajah berubah.
"mungkin jiwanya berpindah". batin Al menebak Crystal memasuki tubuh orang lain atau Reinkarnasi padahal entah sejak kapan Ia percaya dengan hal mistis.
Crystal mengabaikan perkataan Al (dalam pikiran), Ia sudah terbiasa pura-pura tidak tau. Lina mendekati Crystal dan mereka saling melempar senyum satu sama lain, tidak ada kasta diantara mereka, baik Crystal maupun Lina menganggap Crystal sebagai sahabat baik bukan hanya sekedar Nona saja.
__ADS_1
.
.
malam hari,
di kamar Kos-an Crystal.
"Aurora? Aurora? Aurora? Aurora? Aurora". gumam Crystal sedang berbaring di kasurnya sambil menatap ke langit-langit kamarnya.
"Aurora..? aku sangat merindukanmu". suara itu tiba-tiba terdengar di telinga Crystal tapi tidak ada bayangan apapun.
"Aurora..? Ra?". suara itu hadir lagi.
Crystal menggeleng-geleng kepalanya, "semua akan kamu ingat Crystal..! tenanglah, jangan terlalu terburu-buru".
entah mengapa Crystal tidak sabar menunggu bulan purnama merah kelahirannya, Ia sangat ingin tau semua ingatan masa lalunya itu sampai rambutnya bisa berubah, dan menjadi pertanyaannya adalah mengapa Alex kini manusia biasa sebab dalam potongan ingatan itu Alex sangat kuat seperti punya kekuatan para dewa saja.
"Alex? kenapa aku ingin sekali melihat wajahmu?". gumam Crystal tiba-tiba.
"hah?? a.. apa yang baru saja aku katakan?". Crystal yang tersadar memukul-mukul kedua pipinya.
"semoga saja Alex baik-baik saja". gumam Crystal lagi.
selama beberapa hari Crystal bersabar menunggu bulan purnama merah, Ia melewati hari-harinya dengan tenang walau terkadang potongan-potongan ingatan masa lalunya selalu muncul seperti kaset rusak di kepalanya, tapi anehnya Crystal tidak melihat akhir hidupnya.
Leluhur Crystal mengatakan bahwa butuh kesiapan bagi Crystal untuk mengingat seluruh ingatannya dimasa lalu, mungkin yang menyakitkan adalah ingatan yang akan mengguncang pertahanan Crystal sampai harus menunggu kesiapan Crystal saat mengingat nya.
"Crys?". panggil Butet.
"iya? ada apa?". tanya Crystal heran melihat Butet.
"Tuan pimpinan kembali". jawab Butet dengan raut wajah sedih.
"kalau sudah kembali seharusnya semua baik-baik saja kan? kenapa wajahmu murung?". tanya Crystal masih heran dan penasaran.
"Tu.. Tuan Pimpinan sedang di Rumah Sakit, Koma". jawab Butet dengan lemas.
Crystal melebarkan matanya, "pak.. pak pimpinan terluka? koma? kok bisa?". pekik Crystal.
"d.. dia banyak luka tembakan di tubuhnya tapi Tuhan berbaik hati masih memberinya kehidupan, entah kenapa dia bisa selamat? kata orang dia akan menderita jika dia bangun dari komanya, hiks..hiks". isak tangis Butet.
Crystal semakin khawatir, jika Putra yang menyusul Alex ke luar Negeri sampai terluka artinya ada masalah besar, Ia harus menemui Putra untuk menanyakan yang sebenarnya dan menyadarkan Putra bukanlah hal sulit baginya.
.
__ADS_1
.
.