
Sampai di rumah gadis itu langsung masuk dengan menyanyikan lagu tanpa lirik dan diganti na na na, gadis itu terlihat tak memiliki beban apapun padahal ia baru saja berkeliling kota mencari madam Choo tanpa sepengetahuan Lexter.
"Telat 15 menit, kau darimana saja," ujar Lexter.
"Ban bus nya pecah jadi harus menunggu beberapa menit," jawab Lexsa.
"Bohong."
"Benar."
"Aku lulusan psikologi kau tidak bisa membohongi ku dengan ekspresi bodoh itu."
"Mm sebenarnya aku berkeliling sebentar bukan untuk kabur hanya saja ingin melihat lihat kota."
"Ini bukan saatnya bermain main, kau harus tau tugas mu!"
"Baiklah."
Lexsa mengangguk patuh daripada harus melawan, gadis itu membuka sepatu dan tinggi tubuhnya kembali seperti semula kecil mungil.
"Apa yang harus kulakukan selanjutnya?"
"Selanjutnya? kau yakin yang sebelumnya berhasil?" Tanya Lexter dengan nada meremehkan.
"Tidak tahu mungkin dalam beberapa hari kemudian mereka akan menelepon."
"Pergilah."
Lexsa mengangkat bahu dan menenteng sepatunya menaiki anak tangga.
"Kau sudah kembali," sapa Arkan di atas.
"Sudah, ada apa dengan tuan muda kenapa wajahnya tidak bersahabat?" Tanya Lexsa.
"Kau pandai membaca pikiran orang, dia sedang gelisah karena mengandalkan seorang perempuan dalam pekerjaan besar jadi kau harus membuktikannya."
"Selama dia tidak macam macam padaku tidak masalah melakukan apa saja."
"Hmm sepertinya kau memiliki tujuan lain."
__ADS_1
Tentu saja untuk membalas dendam batin Lexsa.
"Tentu saja karena tuan muda telah membeli ku," jawab Lexsa.
Arkan mengangguk namun seolah tak percaya dengan jawaban gadis itu. Lexsa kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian lagi.
Disisi lain Arkan menuruni anak tangga dan mendekati Lexter, pria itu entah sedang memikirkan apa.
"Perlu mengunjungi markas?" Tanyanya.
"Tidak."
Arkan mengangguk dan duduk di sofa sembari menyalakan televisi.
"Apa yang kau lakukan hari ini tuan muda?"
Lexter melempar Arkan dengan remote pendingin ruangan, pria itu benar benar kesal dengan sifat santai anak buahnya.
"Kau yang mengatur jadwal ku kenapa kau bertanya!"
"Mm hehe hari ini sebenarnya ada pertemuan tapi kau yang membatalkannya sendiri jadi tidak ada jadwal."
"Ehem!"
Keduanya menoleh dan melihat Lexsa dengan pakaian olahraga berwarna hitam lengkap dengan topi.
"Kemana?" Tanya Arkan.
"Olahraga, ku lihat ada taman olahraga di depan rumah ini," jawab Lexsa.
"Siapa yang mengizinkan mu pergi?" Tanya Lexter.
"Tidak boleh?" Tanya Lexsa balik.
"Tidak!" Tolak keduanya kompak.
Lexsa mengangguk pelan dan kembali berputar arah, keduanya kembali seperti semula. Arkan yang menonton televisi dan Lexter yang membaca majalah.
"Taraaa!!!"
__ADS_1
Keduanya lagi lagi menoleh dengan teriakan Lexsa yang membawa dua pakaian olahraga.
"Untuk apa?" Tanya Arkan.
"Ayo olahraga bersama."
"Kau saja," ucapnya dan kembali memperhatikan televisi.
"Tuan muda?" Lexsa sampai memiringkan sedikit kepalanya untuk mengambil perhatian pria itu.
"Tidak!" Tolaknya dengan matang.
"Ck!!"
Lexsa memberikan satu satu pakaian olahraga dan menarik Lexter bersama Arkan yang memiliki beban tubuh jauh di atasnya.
"Ayolah teman teman."
"Siapa teman mu," ucap keduanya serempak.
"Baiklah ayo tuan muda."
"Tidak." Tolak Lexter dengan jawaban yang sama.
Lexsa menyerah dengan tenaga tapi tidak dengan akal sehatnya, gadis itu menghalangi layar televisi dengan kain agar Arkan tidak bisa menonton televisi.
"Hei buka kainnya apa yang kau lakukan."
"Tidak mau wekk."
"Hei kau kemari."
Arkan mengejar Lexsa hingga mengelilingi sofa, gadis itu tertawa puas karena berhasil menjahili Arkan sedangkan Lexter tetap fokus membaca majalah.
"Kembalikan remote nya Lexsa!"
"Tidak mau!"
"Hahh baiklah aku akan menggunakan pakaian itu."
__ADS_1
Arkan mengambil kasar pakaian yang Lexsa letakkan di sofa lalu pergi menggantinya.