
Beberapa hari kemudian semua berjalan dengan baik, hubungan Lexter dan Lexsa juga tidak ada yang bermasalah. Lexsa senang tinggal di rumah itu sebab ia bebas melakukan apa saja meskipun hanya di dalam rumah.
Tak di sangka sangka malah pertengkaran sering terjadi pada Lexsa dan Arkan, masalah sedikit saja akan membuat mereka berdebat sampai Lexter pernah ingin memindahkan pria itu ke apartemen.
"Tuan muda!!"
Teriakan itu menggema hingga ke lantai bawah dan Lexter sampai mengangkat kepala melihat ke lantai dua, jelas suara perempuan itu membuatnya sedikit terganggu.
Lexsa berlari lari kecil menuruni anak tangga dengan senyum merekah seperti bunga mawar, Lexter tidak mengerti apa yang terjadi sampai gadis itu tertawa puas.
"Tuan tebak apa yang terjadi hari ini?"
"Katakan saja aku tidak suka menebak," jawab Lexter datar.
"Kau tidak seru, coba tebak satu saja."
"Kau melihat hantu dikamar mandi," tebaknya hingga membuat Arkan tercengir sembari menutup mulutnya.
"Aish tidak mungkin aku berlari dengan senyum manis jika bertemu hantu."
"Katakan saja aku sedang malas meladeni tingkahmu."
"Baiklah jadi begini tuan muda tadi aku mendapat email dari La Cosa Nostra group kalau aku diterima bekerja sebagai sekertaris tuan besar Pandev William."
Uhuk...uhuk...uhuk!!
__ADS_1
"Benarkah?"
Arkan tersedak dengan makanan ringan yang sedang ia kunyah di mulutnya, pria itu tidak menyangka keamanan La Cosa Nostra group masih lemah bahkan hanya untuk identitas saja mereka teledor.
"Bagus itu artinya besok kau akan mulai bekerja di sana," ucap Lexter.
Lexsa mengangguk dengan semangat, beberapa hari ini ia belajar dengan giat pada Lexter untuk menjadi sekertaris bahkan semua pekerjaan Arkan sebagai sekertaris di LA Group di ambil alih oleh Lexsa.
LA group nama perusahaan yang didirikan oleh Lexter dan Arkan beberapa tahun lalu namun perusahaan itu berkembang sangat pesat seiring berjalannya waktu tapi sayang LA Group belum bisa dikatakan sebesar La Cosa Nostra.
"Aku akan mendapat apa yang kau inginkan tuan muda."
Lexter mengangguk dan perlahan pria itu menaruh sedikit harapan Lexsa bisa berhasil.
"Mm apa yang harus kulakukan hari ini?" Gumamnya.
"Ingat Lexsa kau tidak boleh memberitahu asal usul mu pada orang lain."
"Aku mengerti tapi bagaimana jika keluarga ku melihat ku berkeliaran di perusahaan, aku yakin Patricia group bekerjasama dengan La Cosa Nostra sebab aku pernah melihat berkas berkas mereka di meja kerja papa dulu," ujar Lexsa dengan gelisah.
"Kau pintar akting?"
"Aku juaranya," jawab Lexsa dengan sombong.
Lexter menyeringai menatap gadis itu, rencananya akan berhasil jika gadis ni bisa memanipulasi keadaan nanti ketika dalam keadaan darurat.
__ADS_1
"Sekarang bersiaplah."
"Heuh?"
"Kalian mau kemana?" Tanya Arkan.
"Kau urus perusahaan terlebih dahulu!" Titah Lexter.
Hahhh!!!!
Pria itu meletakkan makanan ringan dan tidak berselera lagi, dia paling tidak suka pergi ke kantor sebab kepalanya akan pusing mengurus ini itu apalagi sendirian.
Sedangkan Lexter memegang pergelangan tangan Lexsa dan membawanya keluar dengan kunci mobil yang ia ambil di atas meja.
"Tuan muda kita kemana?" Tanya Lexsa sembari menatap tangannya yang dibawa oleh Lexter.
"Ikuti saja."
Gadis itu mengangguk hingga masuk kedalam mobil, Lexter membawanya keluar dari rumah. Lexsa semakin terlihat senang bahkan sampai membuka jendela mobil namun Lexter kembali menutupinya.
"Kenapa tuan muda?"
"Kau tidak bisa sembarang terlihat di jalanan, beberapa rute ada cctv dan sewaktu waktu tuan Pandev akan melihatnya lalu kau ketahuan utusan ku."
"Ah ya baiklah."
__ADS_1
Cukup melihat pemandangan kota dari dalam saja sudah membuat Lexsa bahagia apalagi, tidak sulit membuat gadis itu tersenyum sebab ia memang memiliki sifat ramah bahkan dengan Lexter saja dia cepat akrab namun disisi lain gadis itu juga memiliki sifat keras seperti sifat yang ia gunakan di rumah lelang Madam Sina.