
"Terkejut karena aku mendapat posisi ini nona?" Tanya Lexsa dengan seringai.
Brakk!!
"Jawab saja pertanyaanku!!"
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu dan kenapa aku harus mendengar mu!"
"Kurang ajar kau gadis kecil!"
"Nona Ellen apa kau pernah mendengar jeritan ku saat diusir dari rumah! Tidak nona kau malah tertawa waktu itu bahkan tidak peduli sedikitpun saat wajahku habis kena tamparan mama mu!!"
"Kurang ajar kau…"
Ellen hampir melayangkan tamparan pada gadis itu namun beruntung Lexsa dapat menepis tangannya dengan cepat.
"Aku tidak sebodoh dulu nona, aku tidak akan pernah mengizinkan tangan kotor kalian menyentuh wajahku!!"
"Cihh nona yang sombong tuan Pandev sangat cekatan memilih seseorang, bagaimana jika aku memberitahu tuan Pandev bahwa kau hanyalah gadis yang tidak becus!!" Ancam Ellen dengan sinis.
"Silahkan NONA, kau tau tuan Pandev yang membawa ku dari rumah pelac*r dia bahkan membeli ku dengan harga tinggi bukankah kalian makan dari hasil menjual ku? Kenapa harus marah aku dibeli sekelas tuan Pandev?!"
Ellen tak tahu harus mengatakan apa sebab itu memang benar adanya.
"Nona Ellen Patricia aku bersumpah kau akan merasakan hal yang sama dengan ku suatu saat nanti!" Ucap Lexsa dengan tatapan tajam.
Tring…tring…tring
__ADS_1
Lexsa melihat ponselnya dan tuan Pandev sudah memanggil yang akan menandakan dirinya harus segera pergi.
"Satu lagi sampaikan salam ku terhadap tuan dan nyonya Patricia mungkin mereka sedang bersantai dirumah neraka itu dan akan ku pastikan sebentar lagi hidup mereka tidak pernah tenang seumur hidup!!"
Lexsa langsung keluar meninggalkan ruangan Ellen dan menemui tuan Pandev setelah menarik nafas dalam.
"Tuan terimakasih telah memberikan saya waktu, silahkan."
Lexsa mempersilahkan tuan Pandev lebih dulu berjalan keluar, pria paruh baya itu tidak terlihat curiga dengan pertemuan kedua sekertaris tersebut mungkin saja Ellen hanya memberi nasihat untuk Lexsa.
"Rosa apa jadwal ku setelah ini?" Tanya tuan Pandev.
"Dua jam kedepan sepertinya tidak ada tuan besar," jawab Lexsa.
"Baiklah kembali ke kantor aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
Beberapa saat kemudian keduanya sampai di La Cosa Nostra Group dan mereka kembali keruangan masing-masing.
Hahh!!!
"Menyebalkan!" Gerutu Lexsa sembari menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Papa tidak pernah memikirkan ku sama sekali padahal aku putri kandungnya."
"Seandainya papa tidak menikah dengan nyonya Patricia pasti semuanya baik baik saja."
Gadis itu terus menggerutu dengan kekesalan sekaligus kesedihannya karena tidak memiliki siapapun yang harus ia andalkan lagi.
__ADS_1
Tring!!!
Tak lama bel di mejanya berbunyi, Lexsa segera bergegas menuju ruangan tuan Pandev.
"Anda memanggil saya tuan besar?"
"Ah ya Rosa ambilkan berkas LA Group di brangkas ku."
Lexsa mengerutkan dahi mendengar perintah tersebut.
"Maaf tuan LA Group?"
Tuan Pandev meluruskan tatapan matanya pada Lexsa.
"Kenapa wajahmu seperti itu saat mendengar LA Group?"
"Heuh? Ah bukan masalah perusahaannya tuan besar tapi anda belum memberitahu saya sandi untuk membuka brankas," jawab Lexsa dengan cepat.
"Benarkah? Baiklah tunggu sebentar."
Lexsa menghela nafas pelan saat tuan Pandev sedikit menaruh rasa curiga padanya.
"Ini."
Tuan Pandev memberikan satu lembar kertas dan menulis sandi brankasnya. Tak ingin berlama lama Lexsa segera mengambil berkas yang diperintahkan tuan Pandev.
Brankas terletak sedikit jauh dari pandangan tuan Pandev sehingga Lexsa bisa leluasa melihat isi brankas tersebut dan ini pertama kalinya ia membuka benda yang berukuran besar tersebut.
__ADS_1