GADIS LELANG

GADIS LELANG
48


__ADS_3

Bahkan ia tak bisa membuat harapan terlalu tinggi pada gadis kecil yang tak mengetahui apapun, ia mengajar Lexsa dari nol beruntung gadis itu pintar.


"Kau harus menjaga tuan Louiston jangan sampai kehilangan untuk kedua kalinya."


Lexter mengangguk pelan, sebenarnya ia sangat amat senang bahkan hampir ingin menangis melihat tuan Louiston namun ia tak dapat berekspresi banyak, ia tidak pandai mengungkapkan perasaan dari mimik wajah.


"Boleh aku memelukmu?" Tanya Lexter dengan tiba-tiba.


Lexsa mematung mendengar pertanyaan itu, ia tidak salah dengar karena Lexter mengatakannya dengan volume besar.


"Tidak apa jika…"


Lexsa memeluk tubuh kekar pria itu lalu mengelus punggungnya perlahan-lahan dengan lembut. Begitu juga dengan Lexter setelah mendapat pelukan, pria itu membalas pelukan Lexsa dengan erat dan membuang seluruh beban yang ada pada dirinya selama bertahun-tahun.


"Kau bisa tidur lebih awal dan tanpa mimpi buruk mulai hari ini, jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja."


Lexter mengangguk sambil memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan Lexsa.


"Aku sudah lama tidak merasakan hal ini," ucap Lexter.


"Semuanya terasa ringan sekarang?"


Lexter kembali mengangguk dan melepas pelukan hangat itu, sebenarnya ia masih ingin berlabuh dalam pelukan Lexsa namun ia takut gadis itu merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Berapa hari gedung akan dibersihkan?" Tanya Lexsa.


"Sekitar satu minggu."


"Kau akan menjadi pewaris La Cosa Nostra Group, itu perusahaan yang sangat besar ku harap kau mengelolanya dengan baik."


"Kau sedang menasehati pemiliknya?" Ucap Lexter dengan senyum tipis.


"Ahh tidak tidak aku hanya mengatakan mm…."


"Terima Kasih atas peringatanmu aku pasti akan menjaga La Cosa Nostra Group dengan baik."


Lexsa mengangguk dan tiba tiba ia teringat dengan LA Group, bagaimana nasib perusahaan itu jika Lexter memimpin La Cosa Nostra Group.


"LA Group sedang dalam masa perkembangan yang bagus jadi Arkan menggantikan ku sebagai direktur disana."


"Begitu rupanya, baiklah aku kembali ke kamar tubuhku masih sakit jangan lupa kunjungi tuan Louiston sesekali, meskipun perawat mendampinginya kita harus tetap melihat perkembangannya," ujar Lexsa lalu berdiri dari sofa.


Saat beberapa langkah menuju pintu keluar gadis itu tiba tiba teringat seseorang yang hampir lupa ia tanyakan.


"Kau masih ingat gadis yang bernama Lea?" Tanya Lexsa.


"Siapa dia?" tanya Lexter balik.

__ADS_1


"Dia gadis yang mendampingi tuan Pandev."


"Sepertinya gadis itu dibawa ke rumah sakit karena terkena tembakan dari mamanya Vero."


"kuharap kau tidak melakukan sesuatu yang tidak membuat ku senang Alexsa," tambah Lexter sembari menarik pinggang gadis itu lalu membawanya kedalam dekapan.


"kau tenang saja aku tidak akan melakukan apapun."


"lalu kenapa menanyakannya?" tanya Lexter lagi.


Lexsa tampak masih ragu jika Lea melakukan hal itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, jika ia mengingat kejadian di dalam ruang brankas itu ia memperhatikan tanda SOS yang ditunjukkan dengan jarinya ketika keluar.


Namun pasti itu sulit bagi Lexter memaafkan seseorang yang ikut andil membantu tuan Pandev.


"Ada apa Alexsa?" tanya Lexter kali ini dengan penasaran


"Heuh? Tidak aku hanya bertanya saja baiklah aku harus kembali ke kamar."


Gadis itu membuka kedua tangan Lexter yang melingkar di pinggangnya.


Ceklek


Lexsa langsung kembali ke kamarnya dan memikirkan bagaimana cara mengetahui rumah sakit tempat Lea dirawat sekarang. Ia merasa ada yang perlu dibereskan dari wanita itu, Lea sangat lugu dan selama ini bekerja keras di perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2