GADIS LELANG

GADIS LELANG
71


__ADS_3

Pagi ini dirumah kebesaran Patricia tiba tiba Ellen berteriak sekencang mungkin saat sedang memainkan ponselnya. Teriakan itu mengundang penghuni rumah tersebut.


"Ada apa Ellen kenapa kau berteriak seperti itu!" Ucap nyonya Patricia.


"Iya kak pagi pagi kenapa berteriak Katherine terkejut," ucap gadis kecil itu.


"Ma Ellen dipecat!" Teriaknya.


Nyonya Patricia membulatkan mata mendengar perkataan putrinya sebab selama ini pekerjaannya bisa dikatakan lancar lancar saja.


"Dipecat?"


"Iya ma Ellen dipecat karena gagal membujuk tuan muda Lexter mengembalikan saham di proyek pulau kosong dan perusahaan tempat Ellen bekerja menjual proyek itu pada La Cosa Nostra Group."


Ellen berputar kesana kemari dengan kepanikannya mendapat perlakuan seperti itu dari perusahaan tempatnya bekerja selama beberapa tahun.


"Lalu bagaimana?"


"Aduh ma Ellen juga bingung ini saja perusahaan memberi keringanan untuk tidak bertanggungjawab soal kerugian material."


Nyonya Patricia memijat pelipisnya lalu duduk di sofa, Katherine pun ikut duduk meski ia tidak paham apa yang mereka bicarakan.


"Mungkin kita bisa meminta bantuan kak Alexsa," saut gadis itu dengan bibir mungilnya.


Ellen dan mamanya spontan menatap Katherine, tatapan mereka jelas tidak suka jika Lexsa ikut berkontribusi mengeluarkan mereka dari masalah.


"Tidak! Sudah jangan ganggu mereka lagi," saut tuan Patricia dari belakang.


Pria paruh baya itu duduk di sofa lalu menatap ketiganya bergantian "jangan lakukan apapun, kau bisa menjadi sekertaris papa di kantor"


Ellen tidak ingin bekerja dengan orang tuanya sebab perasaan tidak bebas menyelimuti gadis itu, ini alasannya tidak mau mengambil pekerjaan di kantor tuan Patricia, alasan lainnya karena kantor mereka tidak besar dan cukup terbelakang.


"Ellen tidak mau pa!" Tolak gadis itu dengan tegas lalu keluar dari rumah membawa mobilnya entah kemana.


Beberapa kali nyonya Patricia melarang namun gadis itu tetap saja pergi tanpa mendengarkan mamanya.


****


Di depan gerbang kampus.


Lexsa melambaikan tangannya pada Choon Hee dengan senyum manis lalu menghampiri wanita itu "kau sendiri madam? Dimana tuan Arkan?" Tanya Lexsa.


"Dia sedang memeriksa lab bersama tuan muda dan temannya," jawab Choon Hee.


"Cihh pasti wanita itu lagi," kata Lexsa dengan menarik sedikit bibir kesamping.


"Siapa nona?" Tanya Choon Hee.


"Ah sudahlah tidak perlu dipikirkan ayo pulang."


Lexsa membuka pintu mobil lalu masuk kedalam, sebenarnya hatinya tidak tenang sedari kemarin selalu gelisah tanpa alasan yang jelas dan membuatnya merasa ingin marah saja.


"Nona aku akan mengantar makan siang terlebih dahulu ke lab, tidak masalah?"


"Heuh? Ah ya madam tidak masalah ayo pergi."


Sebenarnya mereka sudah sepakat akan ke kantor hari ini karena Choon Hee ingin belajar tentang perusahaan dan bagaimana pekerjaan sekertaris mengingat dirinya sebentar lagi akan interview.

__ADS_1


Beberapa saat dalam perjalanan mereka memasuki satu gerbang tinggi hingga kepala Lexsa mendongak menatap ujung gerbang.


Choon Hee memberikan ID card private pada penjaga keamanan sehingga ia diberikan akses masuk kedalam, Lexsa benar benar iri dengan pasangan suami istri yang saling mengerti itu.


Sampai di depan Choon Hee memarkir mobil dan terlihat jelas Arkan sedang duduk bersama Lexter diluar, tentu saja ada Nancy disana.


Tin...tin!!


Choon Hee membunyikan klakson mobil dan Arkan langsung mengalihkan pandangannya, pria itu berjalan cepat menghampiri mobil


"Ini makan siangnya," kata Choon Hee.


"Mm makanan sembarangan tidak boleh masuk kedalam sini kenapa kau membawanya," ucap Arkan khawatir.


"Aku hanya ingin mengantarkan mu makanan," kata Choon Hee.


"Aku tau tapi situasinya tidak bagus saat ini, bisa tidak kau letakkan saja di kantor tidak perlu kemari."


Deg!!


Untuk pertama kalinya Arkan menolak makan siang itu, ternyata rasanya cukup sakit karena tidak sesuai dengan kenyataan yang akan ia terima. Choon Hee kira Arkan akan senang dibawakan bekal siang ini.


Lexsa melihat itu merasa tidak nyaman dengan perdebatan kecil mereka, ia mengalihkan pandangan agar tidak terlalu fokus namun sayang tatapannya mengarah pada Nancy dan Lexter yang sedang menikmati makan siang bersama.


Apa mereka sedekat ini setiap harinya, batin Lexsa.


Beberapa kali ia melihat Nancy tertawa lebar meskipun tak mendengar suaranya Lexsa tau pasti Lexter berbicara sembari menghibur padahal dia bukan pria seperti itu.


Ahh ada apa denganku lagipula kami tidak memiliki hubungan apapun tapi kenapa hatiku merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, batinnya lagi.


Lexsa memijat pelipis dan mengalihkan pandangannya pada satu pasangan yang sedang berdebat tersebut.


Ia menutup kaca mobil dan meletakkan kembali bekal makan siang di kursi belakang lalu meninggalkan lab meskipun Arkan telah berusaha mengetuk kaca mobil beberapa kali.


"Tidak dengarkan dulu maksudku bukan begitu hei," beberapa kali Arkan mengetuk kaca mobil namun Choon Hee dengan tegas menjalankan mobil keluar dari area lab.


Arkan berlari mendekati Lexter dan Nancy yang sedang duduk berbincang mengenai produk mereka, "tuan muda aku akan kembali lebih dulu," kata Arkan.


"Semuanya belum selesai kenapa tiba-tiba ingin kembali," ucap Lexter.


"Maaf tuan aku akan kembali 15 menit lagi," kata Arkan sembari mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan lab.


"Ada masalah?" Tanya Nancy yang bingung dengan gelagat Arkan.


"Entahlah," jawab Lexter.


Keduanya mengangkat bahu dan kembali mempelajari masalah masalah di lab sedangkan Arkan berusaha mengejar mobil Choon Hee.


Beruntung ia memasang pelacak di mobil istrinya dan berhasil mengetahui jalur mana yang dilewati wanita itu sekarang.


Tak jauh dari lab Arkan menemukan plat mobil Choon Hee dan segera menyalipnya namun Choon Hee tidak bodoh ia tahu sedang dibuntuti Arkan, wanita itu menambah kecepatan mobil.


"Aduh madam kenapa sangat cepat," ucap Lexsa sembari memegang pegangan mobil.


"Maaf nona tolong bertahan sedikit."


Choon Hee kembali melaju menambah dua kali kecepatan mobilnya namun Arkan menambah tiga kali kecepatan hingga ia berhasil membentangkan mobil didepan Choon Hee.

__ADS_1


Wanita itu menginjak rem dengan kuat hingga Lexsa tersungkur kedepan, untung saja Choon Hee bergerak cepat dan menjadikan tangannya pelindung kening Lexsa.


"Nona baik baik saja?" Tanya Choon Hee.


Meskipun Lexsa meringis ia tetap mengangguk pelan, Arkan keluar dari mobil dan mengetuk kaca mobil mereka.


"Buka sebentar," ucap Arkan.


Choon Hee membuka kaca mobil dan Arkan langsung merebut kunci mobilnya saat wanita itu sedang lengah.


"Keluar sebentar," ucapnya lagi.


"Untuk apa lagipula kenapa meninggalkan pekerjaan," kata Choon Hee.


"Aku akan kembali nanti tapi keluar dulu."


Hahh


Choon Hee menghela nafas lalu keluar dari mobil, Arkan membawa istrinya menjauhi mobil agar Lexsa tidak mendengar perdebatan mereka.


"Aku tidak melarang mu membawa makan siang atau sebagainya hanya saja di lab tidak boleh sembarangan membawa makanan dari luar itu sudah peraturannya," tutur Arkan sembari memegang kedua tangan Choon Hee.


"Kau terlihat kesal aku datang tahu begitu aku tidak akan peduli soal makan siangmu," ujar Choon Hee.


"Kesal darimana aku tidak kesal sama sekali."


"Kau menggunakan suara tinggi hanya untuk sebuah teguran, itu bukan teguran namanya lebih baik aku pergi lain kali beli saja makan siang sendiri,"


Choon Hee melepas tangannya dan genggaman pria itu namun Arkan langsung memeluknya dengan erat tak peduli itu dipinggir jalan lagipula jalanan terlihat sepi.


"Aku menyakiti perasaan mu?" Tanya Arkan pelan.


Choon Hee tidak menjawab apalagi membalas pelukan pria itu.


"Maaf aku tidak ada maksud menggunakan suara tinggi tadi, aku bermaksud baik lain kali kau datang ke restoran di depan lab jika aku sedang disana."


Dari dalam mobil Lexsa tersenyum melihat adegan keduanya yang begitu mesra, Arkan benar benar pria yang sabar dalam menghadapi perasaan tidak menentu wanita.


Seandainya Lexter sepeka itu, batin Lexsa.


"Lepaskan aku," ucap Choon Hee.


"Bicara dulu jangan diam aku tidak ingin ada masalah denganmu."


"Baiklah aku juga meminta maaf mungkin terlalu banyak berpikir."


Barulah Arkan melepaskan pelukan itu, ia lega akhirnya Choon Hee tidak marah. Beberapa minggu yang lalu Arkan melakukan kesalahan yang sama dan hasilnya Choon Hee tidak berbicara sedikitpun selama tiga hari dan itu membuatnya gila jadi Arkan tidak ingin hal tersebut terulang kembali.


"Kau meninggalkan pekerjaan mu cepat kembali," kata Choon Hee.


Arkan mengangguk dan mengantar Choon Hee masuk kedalam mobilnya "berikan makan siangnya," ucap Arkan.


"Untuk apa?"


"Aku akan memakannya di restoran depan lab."


Choon Hee memberikan kotak makan siang dengan ragu ragu namun Arkan mengambilnya dengan semangat lalu kembali ke mobil.

__ADS_1


Pria itu memberikan jalan untuk mereka pergi dan Arkan sendiri kembali menuju lab dengan perasaan lega.


__ADS_2