GADIS LELANG

GADIS LELANG
41


__ADS_3

"Di-disini."


Lexsa mencari kesemua arah namun tak dapat menemukan suara tersebut padahal suaranya terdengar sangat dekat.


"Huhh!!!"


Gadis itu bersandar di dinding dan memutar pajangan patung disampingnya karena lelah dan sedikit kehabisan oksigen.


"Dibelakang mu nak," ucap seseorang.


Lexsa terkejut sembari memutar tubuhnya. Gadis itu semakin terkejut ketika melihat dinding tadi berubah menjadi kaca bening dan melihat seorang pria paruh baya dengan borgolan di kedua kaki dan tangannya.


"Si-siapa kau?" Tanya Lexsa.


Pria itu hanya membalas dengan senyum manis namun tertutup oleh kumis yang terlihat sudah lama tidak dicukur.


"Putar patungnya sekali lagi," ucap pria tersebut.


Dengan ragu Lexsa memutar patung itu dan ia melihat dinding kaca terangkat keatas, ia melangkah sangat pelan sembari mendekati pria misterius itu.


"Kau siapa nak?" Tanya pria itu.


"Harusnya aku yang bertanya kau siapa?" Tanya Lexsa balik.


"Louiston."


"Louiston?"


"Benar."


"Tuan kenapa kau disini dan apa ini?" Tanya Lexsa dengan cepat.

__ADS_1


"Duduklah nak waktumu tidak banyak," jawab tuan Louiston.


Lexsa mengerutkan dahi sembari duduk disampingnya.


"Nak pergilah sebelum semuanya terlambat."


"Aku tidak mengerti tuan."


"Orang yang sampai diruangan ini pasti tidak akan selamat dari William," ujarnya dengan lemah.


"Identitas mu sudah ketahuan oleh William nak, putraku pasti mengirim mu kemari sebagai mata matanya bukan?"


Lexsa menutup mulut setelah mendengar ucapan pria itu, apa ini adalah ayahnya tuan muda tapi dia bilang ayahnya sudah meninggal.


"Louiston La Cosa Nostra?" Tanya Lexsa.


Wajah pria itu berkaca kaca mendengar seseorang memanggil namanya dengan lengkap, Lexsa memeluk pria itu meskipun tubuh tuan Louiston tak bisa membalas.


Tuan Louiston meneteskan air mata mendengar perkataan Lexsa yang begitu membuatnya bahagia.


"Benarkah? Bagaimana rupanya sekarang? Apa dia tumbuh dengan baik?"


Lexsa menganggukkan kepala sembari menyeka air matanya "pria yang sangat sangat tampan dan pemberani, putramu sangat pintar tuan tidak ada yang bisa mengalahkan kepalanya," ujar Lexsa lagi.


Perkataan gadis itu kembali membuat tangis tuan Louiston tak tertahankan namun ia ingat sesuatu, gadis itu tidak bisa berlama lama disana atau semuanya akan sama saja seperti sekertaris sekertaris lainnya.


"Pergilah nak jangan terlalu lama disini cepat pergilah!!"


Lexsa menyeka air matanya dan mengangguk dengan cepat.


"Aku pasti akan kembali tuan besar," ucap Lexsa sembari memberikan hormat padanya.

__ADS_1


Lexsa berjalan mendekati dinding kaca tadi namun ia terkejut ketika dinding kaca itu tiba tiba tertutup dengan sendirinya.


"Tuan dimana tombol pembukanya?" Tanya Lexsa.


Tuan Louiston tau itu sudah terlambat, ia menundukkan kepala dan membuang harapan yang ia buat beberapa detik yang lalu.


"Tuan apa maksudmu? Dimana tombolnya?" Tanya Lexsa.


"Nak kemarilah."


"Tidak tuan aku harus kembali!"


Brak…brak…brak!!!


Lexsa mencoba menghancurkan dinding kaca tersebut namun rupanya ia tidak akan bisa menghancurkannya.


"Tuan Pandev sudah mengetahui keberadaanmu nona."


"Hei buka!!" Teriak Lexsa sembari menggebrak dinding.


Beberapa saat gadis itu menyerah sembari menyenderkan tubuhnya di dinding mencoba mencari jalan namun ia tak bisa menemukan sedikitpun celah disana.


Ceklek


Lexsa mengangkat tubuhnya sembari melihat sosok yang membuka pintu di ujung sana.


"Lea? Syukurlah kau datang tolong buka pintunya," ucap Lexsa dengan sumringah.


Lea hanya tersenyum tipis sembari menatap tuan Louiston sekilas.


"Orang yang sudah masuk ke dalam tempat ini tidak akan bisa keluar meskipun itu jasadnya," ujar Lea dengan tegas.

__ADS_1


Lexsa mengerutkan dahi sejenak mendengar ucapan Lea yang berubah drastis, tatapan gadis itu juga tidak sehangat kemarin.


__ADS_2