
Madam Choo berusaha menenangkan Lexsa tapi apa yang mau ditenangkan sedangkan Lexsa terlihat sangat tenang bahkan seperti tidak ada yang pernah terjadi.
Nona kau berubah dalam sekejap, aku tidak tau kau akan sekuat ini saat keluar dari rumah itu, batin Madam Choo.
Perjalanan menuju lokasi pelelangan pun dimulai, pertengahan jalan tak ada satupun suara atau perlawanan dari Lexsa sampai madam Choo bingung apakah ia benar-benar ingin menjalankan rencana yang sudah mereka atur.
Perjalanan cukup jauh hingga memakan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi, sebuah mobil mewah masuk kedalam salah satu hotel termegah di kota itu.
Iya itu adalah kendaraan yang dinaiki oleh Lexsa, madam Choo, dan madam Sina. Ketiga-tiganya turun dengan sambutan tangan dari salah satu pengawal.
Beberapa pria yang memegang kartu masuk kedalam pelelangan terkesima melihat gadis muda dengan kulit dan wajah sempurna akan dijadikan ajang pelelangan.
Madam Sina benar benar membawa barang bagus malam ini sehingga mereka berlomba memenangkan pelelangan.
"Selamat malam madam." Sapa salah satu pria.
Mulutnya memang menyapa madam Sina namun tatapannya terus mengarah pada Lexsa.
"Kenapa kau menatapku, ingin ku bunuh!" Ucap Lexsa ketus.
"Lexsa!" Tegur madam Sina.
"Maafkan gadis kecil ini tuan dia memang sedikit galak dan agresif," terusnya.
__ADS_1
"Ahh tidak masalah madam aku memang menyukai hal itu, sampai jumpa gadis kecil," ujar pria itu dengan kedipan mata di akhir kalimatnya dan pergi bersama wanita yang ada dalam gandengannya.
"Lexsa jaga bicaramu disini! Itu akan mengurangi harga mu!" Tegur madam Sina sekali lagi.
Lexsa mengangguk pelan dan mereka masuk kedalam di dampingi para pengawal, Lexsa satu satunya gadis yang tidak dipaksa masuk kedalam tempat pelelangan sebab gadis lain akan berusaha kabur ketika ia tahu dirinya dijual.
***
Disisi lain Lexter tampak telah bersiap dengan setelan jas gelapnya, dasi yang terpasang rapi menandakan dirinya akan berangkat sebentar lagi.
Tok...tok...tok
Ceklek
"Tidak perlu terlalu rapi," ujar Arkan.
"Diam!"
"Baiklah tuan muda mungkin ada satu gadis yang kau minati disana nanti," ucap Arkan asal.
"Mustahil," jawab Lexter dengan senyum sinis.
"Tidak ada yang tidak mungkin tuan muda, mangga yang sudah di kuadratkan manis bisa saja menjadi asam."
__ADS_1
"Mangga itu asam karena kau lewat di depan pohonnya," ucap Lexter.
Arkan memutar bola matanya mendengar ucapan pahit Lexter di pagi hari, harusnya pria itu tidak datang ke kamarnya.
"Baiklah tuan muda jika kau sudah selesai mari kita pergi."
Lexter mengangguk dan mengambil ponselnya lalu keluar menyusul Arkan, keduanya berangkat tanpa banyak bicara.
Beberapa puluh menit dalam perjalanan mereka sampai di lokasi, keduanya turun dari mobil dan langsung masuk menyerahkan kartu undangan mereka.
Lexter mengangguk mengambil tempat duduk begitu juga dengan Arkan, dari ujung sana ujung manik hitam madam Sina melihat berlian yang ia tunggu.
Senyum manis wanita itu terpampang jelas dan langsung mendekati Lexter.
"Tuan muda," sapanya.
Lexter mengangguk pelan sembari meneguk wine di atas meja. Beberapa kali pria itu selalu disuguhkan wanita nomor satu dari madam Sina tapi anehnya dia tidak pernah suka satupun.
"Tuan muda kali ini saya membawa barang bagus," ucapnya.
"Cihh!!"
Lexter menyeringai dan kembali meneguk wine hingga habis, ia tak menghiraukan satupun perkataan madam Sina sehingga Arkan menyuruh wanita itu pergi.
__ADS_1