
"Le-Lea?"
"Alexandra Larossa apa kabar?" Tanya Lea.
Lexsa membulatkan mata setelah mendengar namanya disebutkan dengan jelas oleh Lea, wanita itu pasti sudah mengetahui kebenarannya.
"Da-dari mana kau tahu?!"
"Cihh jal*Ng sepertimu siapa yang tidak tahu!"
"Tutup mulutmu Lea!!!"
Lea menekan tombol di tangan kiri patung tersebut dan "arghh!!!"
Lexsa berteriak keras saat tubuhnya terasa tersengat aliran listrik.
"Lea cukup bermain main dengannya," ujar seseorang dari balik pintu.
Jelas itu adalah tuan Pandev William, senyum merekah pria yang seumuran dengan tuan Louiston itu terlihat bahagia.
"Alexandra Larossa," ucap tuan Pandev.
Lexsa tak bisa menjawab karena tubuhnya masih lemas tersungkur akibat sengatan listrik yang diberikan Lea tadi.
"Gadis kecil kenapa kau ikut dalam labirin masalah ini? Bukankah kau tak tahu jalan sekarang?"
"Tuan kita langsung membunuhnya?"
__ADS_1
"Tentu tidak, seperti biasa biarkan dia menikmati hidupnya selama 24 jam terlebih dahulu."
"Baik tuan."
"Ingat Alexandra Larossa jangan pernah ikut campur urusan orang di kehidupan selanjutnya." Ucap tuan Pandev lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Lea pun sama namun ia menekan tombol yang membuat kaca dinding berubah menjadi dinding samaran dari luar.
Di dalam tuan Louiston menyentuh Lexsa dengan kakinya memastikan bahwa gadis itu masih hidup.
"Bangunlah nak," ucapnya.
"Tuan apa semua orang akan berakhir ditempat ini?" Tanya Lexsa dengan lemah.
Tuan Louiston menunduk tak sanggup menjawab perkataan gadis itu, selama 20 tahun ia telah melihat banyak kematian di tempat itu dan satupun tak ada yang bisa selamat.
Dengan langkah pelan Lexsa mengangkat tubuhnya yang masih lemah lalu mendekati tuan Louiston.
"Hiks..hiks..hiks"
Gadis itu memeluk tubuh pria paruh baya tersebut lalu terisak seperti manusia pada umumnya ketika mengetahui ajal sudah dekat.
"Tuan…"
"Iya?"
"Boleh aku memanggilmu ayah?" Tanya Lexsa sembari menatap mata indah pria itu.
__ADS_1
"Tentu saja nak berapa usiamu?" Tanya tuan Louiston balik.
"18 tahun."
"Baiklah mulai sekarang panggil aku ayah dan kau bisa menceritakan semuanya padaku," ucap tuan Louiston dengan sangat ramah.
Lexsa melepas pelukannya dari pria itu lalu memperhatikan seluruh tubuhnya yang kotor.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya tuan Louiston setelah melihat Lexsa beranjak mencari sesuatu.
"Tunggu sebentar ayah."
Lexsa mengambil baskom dengan kain kain di ujung ruangan, beruntung dalam lemari itu ada pakaian yang terlihat masih layak pakai, Lexsa tersenyum lalu mengambilnya.
"Ayah berapa kali mereka membersihkan mu oleh orang orang itu?" Tanya Lexsa.
"Satu bulan sekali," jawab tuan Louiston.
"Huek pantas saja kau sangat bau tapi tenang saja aku terbiasa bersih bersih di tempat tuan muda Lexter La Cosa Nostra," ujar Lexsa dengan senyum manis.
Tuan Louiston benar benar tidak bisa menahan senyumnya melihat gadis mungil itu membersihkan tubuhnya dengan air di baskom tadi.
Untuk pertama kali pria itu dapat tersenyum setelah sekian lama tak mengerti apa itu senyuman, selama ini ia hanya menjalani hidup untuk menunggu kematian namun dengan kedatangan Lexsa membuatnya sedikit senang sebelum bertemu dengan akhir hidupnya.
"Ayah kau tau putramu itu sangat acuh padaku, dia sering seenaknya sampai aku ingin menendangnya," keluh Lexsa sembari terus mengelap tubuh pria itu.
"Benarkah? Kenapa kau tidak melawan," ujar tuan Louiston masih dengan senyum.
__ADS_1