
"Rosa lanjutkan pekerjaanmu ya," ucap tuan Pandev.
"Ah ya tuan besar sebentar saya harus melihat makan siang anda terlebih dahulu."
Lexsa menuju sofa dan memeriksa makanan yang ada diatas meja, semuanya lengkap tanpa ada campuran campuran yang tidak disukai tuan Pandev.
"Baik tuan makan siang sudah siap jangan terlalu banyak bekerja, istirahat itu perlu untuk kesehatan tuan besar."
"Terima Kasih Rosa sudah memperingatkan."
"Baik tuan saya kembali keruangan." Lexsa menunduk pelan dan kembali keruangan namun pikirannya masih tetap pada brankas yang katanya benar benar rahasia namun bisa dimasuki oleh seseorang yang dikategorikan memiliki posisi kecil di perusahaan.
***
Usai waktu kerja habis Lexsa kembali kerumah seperti biasa, kali ini ia melihat Lexter tengah duduk termenung di ruang tamu.
Gadis itu tak menyapa sama sekali karena kejadian tadi pagi, hari ini ia tidak ingin melihat Lexter entah mengapa sebabnya namun hati kecil gadis itu memang tidak menginginkan wajah Lexter di depan matanya.
"Duduk!" Titah Lexter.
"Lelah nanti saja," jawab Lexsa dengan nafas malas.
Lexter bangun dan mengejar langkah gadis itu lalu menariknya menuju sofa.
__ADS_1
"Ahh!!"
Sayang karena terkejut Lexsa menginjak kaki pria itu lalu mereka terjatuh ke sofa, Lexsa meronta ingin menjauhi pria itu namun Lexter memegang tangannya dan menatap mata Lexsa.
Keduanya terus bertatapan hingga beberapa menit sampai Arkan datang memecahkan suasana.
"Tuan muda aku…"
Arkan langsung menutup mulut dan pergi meninggalkan ruang tamu.
"Lepaskan," ucap Lexsa dengan sangat pelan.
Lexter mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Lexsa dan duduk di sofa.
Lexsa mengangguk pelan lalu ikut duduk tak jauh dari tempat pria itu.
"Aku…" sejenak Lexter bimbang dengan ucapan yang telah ia pikirkan sejak tadi.
Lexsa pun memberikan waktu agar Lexter dapat menjelaskan apa yang terjadi hari ini namun pria itu tak kunjung berbicara.
"Sudahlah tuan muda aku tidak ingin membuang waktumu, kita bahas yang lain saja. Tadi setelah pulang dari kantor mu aku melihat seseorang masuk di ruang brankas membawa kotak bekal makan siang."
Sesaat Lexter langsung memalingkan pikirannya menuju tuan Pandev.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tau tuan tapi yakin ada sesuatu dibalik ruangan itu, kau tau tuan muda? Ruang brankas itu hanya diketahui olehku dan tuan Pandev tapi kenapa seorang office boy paruh baya dapat memasuki tempat tersebut," ujar Lexsa sembari berpikir banyak.
"Mungkin saja tuan Pandev menyekap seseorang dalam ruangan yang kau maksud itu Alexsa," saut Arkan sembari meletakkan minuman pada keduanya.
Lexsa mengangguk cepat menyetujui ucapan Arkan, gadis itu percaya ada sesuatu di balik ruangan tersebut namun ia sendiri belum menemukan jawabannya.
"Bagaimana jika kita langsung menyerang saja," ucap Arkan.
"Tidak, bermain dengan bersih jika tuan Pandev bermain rapi kenapa kita tidak bisa mengikuti langkahnya." Saut Lexter.
"Aku tidak mengerti tuan muda," kata Lexsa.
Lexter mendekati keduanya lalu memberitahu mereka skenario yang akan mereka jalani nanti. Keduanya mengangguk mengerti dengan senyuman licik.
"Aku tidak berpikir tuan muda ini cukup cerdik," ujar Lexsa.
"Bermain pelan asal dapat kepastian," kata Lexter.
Dengan tatapan yang tidak disengaja mereka kembali terlihat canggung dan sama sama membuang muka, Arkan menggelengkan kepala lalu pergi.
****
__ADS_1
Semuanya jangan lupa jari cantik kalian teken tombol like yak😘😘