GADIS LELANG

GADIS LELANG
44


__ADS_3

Pria itu memerintahkan semua yang ada di lobi menjauh dari sana sehingga tersisa 4 orang.


"Dimana sekertaris mu aku ingin bertemu dengannya, ada tanda tangan yang belum ku selesaikan," ucap Lexter datar.


"Kau mencari Rosa Beltrame atau Alexandra Larossa?"


"Jika kau berani menyentuhnya percayalah bukan hanya dirimu yang akan hancur melainkan seluruh harta mu akan hangus!" Ancam Lexter dengan tangan gemetar saat mengetahui Lexsa telah menjadi sandera.


Tuan Pandev hanya membalas dengan seringai sembari menepuk pundak Lexter.


"Kau sudah mengetahui akibatnya kenapa kau mengirim pelac*r ke perusahaan ku," bisik tuan Pandev.


Bughh!!!


Lexter melayangkan pukulan ke wajah pria itu hingga membuat hidungnya berdarah.


"Tuan besar anda baik baik saja?" Tanya Lea.


"Perintahkan karyawan untuk pulang dalam waktu 3 menit!"


"Tapi…"


"Cepat!!!" Teriak tuan Pandev hingga mencuri perhatian para karyawan.


"Ba-baik tuan."


Lea langsung mengumumkan ke seluruh devisi untuk kembali lebih awal bahkan waktu mereka hanya 3 menit.

__ADS_1


Benar saja dalam waktu 3 menit seluruh karyawan telah keluar dari gedung dan hanya disisakan mereka.


Arkan juga memanggil pengawal mengelilingi gedung La Cosa Nostra.


"Kau masih tidak ingin memberitahuku dimana Lexsa!" Gertak Lexter.


"Pandev William tidak akan kalah hanya karena gertakan mu itu anak kecil!!"


"Pengawal!!"


Seluruh pengawal masuk kedalam lobi dengan senjata masing masing namun siapa sangka segerombolan pengawal tuan Pandev juga keluar dari dalam gedung.


Dor!!!


Lantai lobi yang licin bersimbah darah tembak menembak dua belah pihak namun Lexter tidak bisa mengelak bahwa pengawalnya jauh lebih sedikit dari pengawal tuan Pandev.


Lexter tak peduli ia mengambil pistol dan hendak menembak tuan Pandev namun pengawal sekali lagi menyelamatkannya, pengawal ada di setiap lantai dengan jumlah yang banyak sehingga pria itu berpikir dua kali.


"Bunuh aku Lexter bunuh!!!" Teriak tuan Pandev dengan tawa melengking mengejek Lexter.


"Tuan muda kita tidak akan bisa melawannya," ucap Arkan.


Lexter benar benar geram tangannya tidak bisa melepaskan satu peluru ke tubuh tuan Pandev, dendamnya akan semakin dalam jika Lexsa tewas ditangannya.


"Tunggu sebentar!!" Teriak seseorang dari pintu lobi.


Semua mata tertuju pada sumber suara tersebut, Lexter mengerutkan dahi setelah melihat Vano, Vallen, Ethan, dan Vero berdiri disana.

__ADS_1


"Kalian?" Tentu saja Lexter bingung.


"Ini tua bangka yang mengambil harta mu?" Tanya Vano.


Lexter mengangguk pelan namun masih dengan pikirannya.


"Ahh ya kebetulan aku sudah geram mendengar masalah itu, hei tua bangka kemarilah."


"Sayang dia orang tua hormati sedikit," ujar Vallen.


"Hahh baiklah orang tua kemarilah," ucap Vano dengan nada halus dan senyum manis.


"Siapa kau jangan ikut campur urusan ku dan pergilah!!"


"Tua bangka ini hebat juga mengancam orang ya," saut Ethan.


"Serang mereka!!" Titah tuan Pandev yang geram melihat ada orang lain disana.


Keempatnya tersenyum manis sembari menyeringai melihat pengawal hendak menyerangnya. Vero meniup pluit dengan keras sehingga membuat mereka bingung.


"Kau bocah jangan main Pluit disini!" Teriak tuan Pandev.


"Bukan sembarang Pluit tua bangka!" Jawab Ethan yang biasa ceplas-ceplos berbicara.


Benar saja dalam waktu beberapa detik terdengar suara helikopter dari atas gedung pencakar langit, helikopter bukan hanya ada di gedung La Cosa Nostra namun turun di beberapa gedung lainnya.


l

__ADS_1


__ADS_2