
"nona aku perhatikan kau sedang menghindari tuan muda," ucap Choon Hee saat keduanya sedang merapikan apartment.
Hahh!!
Lexsa sibuk memindahkan barang kesana kemari hingga tak sempat menjawab ucapan Choon Hee.
"Bukankah memang seharusnya seperti itu, dia pria hebat bahkan sebagian besar orang mengetahui siapa dirinya."
Lexsa kembali menata vas bunga di meja kecil dapurnya "dia tidak pantas mendapat perempuan biasa jadi sebelum terlambat aku menghindar dari masalah besar."
"Nona menyukai tuan muda?" Tanya Choon Hee.
Lexsa menatap Choon Hee beberapa detik lalu kembali menatap bunga palsu di depannya "ya sepertinya begitu tapi aku merasa tidak pantas untuknya lagipula nona Nancy adalah wanita yang cocok untuk disandingkan dengan tuan muda."
Mendengar itu Choon Hee juga paham mengapa semuanya terjadi sekarang, Lexsa tidak ingin menjatuhkan dirinya kedalam perasaan lebih dalam pada Lexter.
"Baiklah nona lagipula kau masih muda dan pendidikan mu saja baru dimulai jadi jangan khawatir kau pasti akan mendapat pria yang baik."
Lexsa tersenyum sinis mendengar ucapan Choon Hee memang siapa pria yang bisa menggantikan Lexter dihatinya. Pria itu sudah melekat di hati Lexsa.
"Madam ayo membeli stok makanan, kulkas ku masih kosong." Lexsa mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baiklah ayo nona."
Keduanya mengambil tas masing masing lalu beranjak keluar dari apartemen beruntung Luis sudah berangkat bekerja jadi tidak ada yang mengganggunya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan supermarket yang cukup besar, Lexsa membawa troli untuk menaruh barang yang akan ia beli.
"Nona kau yakin membeli ini?" Tanya Choon Hee saat melihat troli penuh dengan cemilan, ia tahu gadis itu sangat menyukai makanan ringan.
"Tentu saja."
Mereka kembali memilih milih bahan makanan mulai dari cemilan, bumbu, sayur, daging dan masih banyak yang lain.
Disisi lain Ellen juga terlihat di depan supermarket sepertinya wanita itu mendapat tugas berbelanja dari orang tuanya sebelum mendapat pekerjaan baru.
"Argh!! Mama sangat menyebalkan kenapa harus aku yang melakukan ini!" Gerutu Ellen kesal.
Ellen memilih asal makanan yang telah dicatat nyonya Patricia namun matanya tak sengaja mengarah pada dua orang di depan yang sedang memilih makanan sama sepertinya.
Tak menunggu lama Ellen mendorong trolinya hingga menabrak tubuh Lexsa.
UPS!!!
"Sorry."
__ADS_1
Choon Hee dan Lexsa memutar tubuhnya dan tentu melihat Ellen dengan wajah tidak bersalah dan senyum sinis.
"Ckck sedang apa sekertaris seorang penipu masih disini hmm?"
Choon Hee ingin maju melawan namun Lexsa memegang tangan wanita itu "Ellen kau membutuhkan tempat ini? Kami akan pergi," ucap Lexsa.
"Hahh gadis murahan sepertimu masih saja sombong ya apa mungkin memang sudah keturunan," kata Ellen sembari menyilang kedua tangannya di dada.
Lexsa membalas dengan senyum sinis dan menyilang tangan seperti Ellen "bukankah Ellena Patricia baru saja dipecat karena tidak becus mengurus perusahaan," ucap Lexsa.
Ellen tertegun mendengar Lexsa berani mengatakannya dan darimana ia tahu semua ini.
"Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya Lexsa!"
"Kenapa kau marah bukankah memang benar?"
Plakk!!!
Ellen melayangkan satu tamparan pada gadis itu hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian "apa yang kau lakukan Ellen!!" Teriak Choon Hee.
"Hei kau berani memanggil namaku secara langsung?!!!"
Ellen mendorong Choon Hee ke rak cemilan hingga tak terbalik "arghh!!!"
"Seberapa banyak kau diberikan upah oleh gadis ****** itu hahh!!! Aku akan membayar mu sepuluh kali lipat!" Teriak Ellen yang telah mencapai puncak kemarahan.
"Kau berani padaku sekarang hahh!!"
Ellen hendak menarik rambut Choon Hee namun tangan itu dihentikan oleh seseorang dibelakangnya, dengan kasar Ellen ingin melepaskan pegangan tersebut.
"Lepaskan aku!!!"
Saat memutar tubuhnya Ellen melihat Arkan sedang menatapnya seperti ingin memakan wanita itu "lepaskan aku tuan ini urusan kami!" Ucapnya.
"Sesuatu yang berhubungan dengan sekertaris ku juga urusanku!" Ujar Lexter dari belakang.
Lexsa menatap ke arah pintu lalu Lexter memasuki tempat keributan, ia tidak menyangka mereka datang ketempat seperti itu saat jam kerja.
"Tu-tuan muda."
"Berani sekali kau menyentuhnya dengan tangan kotor mu!!"
"Tuan Lexsa ini adalah ******...."
"Aku yang membelinya kau mau apa!"
__ADS_1
Ellen membulatkan mata sembari menutup mulutnya yang terbuka mendengar ucapan Lexter "ka-kau..."
"Apa semuanya belum jelas? Aku yang membelinya dan aku menjaganya dari orang orang sepertimu, sedikit saja kau menyentuhnya aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
"Apa yang kau lakukan aku tidak pernah memukul Lexsa kau tidak bisa melaporkan ku!!" Ucap Ellen dengan beraninya.
Brakkk!!!
Arkan mendorong Ellen ke rak cemilan sebelahnya lagi lalu mendekati wanita itu "jangan bermain-main pada istriku atau kau akan berhadapan denganku camkan itu!!" Ucapnya dengan pelan ditelinga Ellen.
Ellen kembali membulatkan mata dengan perkataan menusuk dari Arkan bahkan ia bisa merasakan tubuhnya tertancap benda tajam saat mendengarnya.
Lexsa sempat ingin menolong Ellen namun Lexter membawanya pergi disusul oleh Arkan dan Choon Hee, pria itu benar benar marah melihat istrinya di dorong begitu keras hingga emosinya memuncak.
Mereka meninggalkan supermarket dan membiarkan Amalie yang mengurus semua kerusakan dan ganti rugi.
Lexter membawa Lexsa kembali ke apartemennya lalu menyiapkan air es untuk mengompres pipinya yang terkena tamparan Ellen tadi.
"Kenapa kau tidak melawan," ucap Lexter sembari menempelkan kain ke pipi Lexsa.
"Aku takut papa akan semakin marah nanti."
"Lain kali jika dia menganggu mu lawan saja aku akan berada di garda terdepan membelamu jangan khawatir bahkan orang tua tak tau malu itu tidak bisa mengganggu mu," ucap Lexter dengan kesal.
"Sudahlah aku baik baik saja, ah ya untuk apa kau kesana padahal ini masih jam kerja."
"Aku sengaja mengajak Arkan tadinya kami ingin membeli perlengkapan bahan makanan untukmu dan datang kemari beruntung kami datang tepat waktu."
"Bukankah hari ini kau ada pertemuan dengan nona Nancy?"
"Benar tapi dia mengatakan tidak bisa sekarang mungkin nanti sore."
Lexsa mengangguk dan mengambil kain yang ada di tangan Lexter lalu memakainya sendiri.
"Bagaimana pendapatmu tentang Nancy?"
"Kenapa tiba tiba bertanya seperti itu," jawab Lexter datar.
"Hanya ingin tahu saja."
"Dia wanita yang ceria dan elegan, dia pintar dan baik seseorang pasti sangat beruntung mendapatkannya nanti."
Lexsa semakin yakin dengan tindakannya sekarang, mendengar Lexter memuji wanita itu saja membuat hatinya sakit.
"Ada apa kenapa kau terlihat sedih?"
__ADS_1
"Heuh? Ah tidak pipi ku sedikit membengkak dan terasa agak sakit."
Lexter memutuskan memanggil dokter datang ke apartemen padahal Lexsa sudah melarangnya namun pria itu tidak bisa dibantah sedikitpun.