GADIS LELANG

GADIS LELANG
bab 21


__ADS_3

Sampai di lantai satu Lexsa keluar dan menggunakan mesin fotocopy untuk memperbanyak lembaran, gadis itu mengetuk ngetuk kecil meja sembari menunggu selesai.


"Hei kita bertemu lagi," sapa Louis.


Tidak asing wajah pria itu di mata Lexsa namun ia lupa pernah bertemu dimana.


"Senang bertemu dengan mu nona Rosa Beltrame."


"Yah aku mengingatnya sekarang, kau diterima bekerja disini?" Tanya Lexsa.


"Tentu saja," jawabnya dengan santai.


"Baguslah."


Louis adalah pria berusia sekitar 23 tahun, dia baru menyelesaikan pendidikan tingkat akhir di London jadi untuk pengetahuan perusahaan dia juaranya.


"Kau divisi apa?" Tanya Louis.


"Sekertaris tuan besar," saut Lea dari belakang yang sedang membawa kertas sepertinya akan melakukan hal yang sama dengan Lexsa.


"Astaga kau... maafkan aku Rosa Beltrame jika mengganggu mu," ucap Louis dengan cepat lalu pergi.


"Kau...." Lexsa tidak melanjutkan kalimatnya karena Louis sudah pergi terlalu jauh.


"Rosa Beltrame kau tidak perlu terlalu banyak melayani ucapan orang disini, kau fokus pada pekerjaan mu," ujar Lea.


"Baiklah aku harus segera keatas."


Lea mengangguk dan memberikan jalan untuk Lexsa pergi, gadis itupun menuju lantai 30 kembali dan bekerja seperti yang disuruh tuan Pandev William.

__ADS_1


Seharian bekerja mengurus perusahaan ternyata cukup melelahkan bagi Lexsa, alih alih mencari informasi soal surat surat berharga La Cosa Nostra dia malah diberikan pekerjaan begitu padat oleh tuan Pandev.


"Ahhh!!!"


Lexsa meregangkan tubuhnya hingga terdengar suara suara tulang kelelahan, gadis itu bersandar sejenak sebelum pulang.


Tring tring!!


Tombol kembali berbunyi dan Lexsa menghela nafas lalu keluar menemui tuan Pandev.


"Anda memanggil saya tuan besar?"


"Sudah waktunya pulang, kau pulang dengan siapa?" Tanya tuan Pandev.


"Saya pulang menaiki bus tuan besar," jawab Lexsa.


"Tidak baik perempuan sendirian pulang lagipula ini sudah malam, dimana rumahmu?"


"Baiklah aku akan mengantarmu."


"Ahh tidak perlu tuan besar aku sudah terbiasa dari kecil menaiki bus dan semuanya baik baik saja,"


"Tapi...."


"Tunggu tuan besar."


Lexsa dengan segera masuk keruangan nya mengambil tas dan kembali berdiri di depan meja kerja tuan Pandev.


"Lihat ini tuan besar," ucapnya sembari mengeluarkan senjata listrik yang sering digunakan untuk melindungi diri.

__ADS_1


Tuan Pandev tersenyum tipis dengan kepintaran gadis itu bahkan benda berbahaya seperti itu ia bawa ke perusahaan.


"Tuan besar tau? Ini sangat berguna bagi seorang wanita saat dalam keadaan darurat jika ada yang ingin mengganggu kita gunakan ini masalah selesai hehe."


"Benarkah?"


"Ya tentu saja."


Tuan Pandev mengangguk pelan dan bersandar di kursinya.


"Baiklah sekarang kau ada uang naik bus?"


"Ada...."


Astaga aku lupa membawa uang, tuan muda tidak memberikannya sama sekali, batin Lexsa.


Gadis itu tercengir kuda saat merogoh tasnya lalu menunduk memikirkan bagaimana caranya pulang.


"Kemari lah."


"Tuan besar saya masih kecil," ucapnya dengan cepat sembari menutup dada dengan kedua tangan.


Tuan Pandev terkekeh dengan gadis itu sembari mengambil uang dari laci.


"Cepat pulang sebelum terlalu malam."


"Ahh tuan besar anda baik sekali saya akan mengembalikan uangnya nanti setelah gajian."


"Tidak perlu Rosa Beltrame aku selalu memberikan uang transportasi pada sekertaris ku agar tidak menggunakan uang pribadinya."

__ADS_1


"Terimakasih tuan besar saya akan pulang sekarang, selamat malam anda juga hati hati saat pulang nanti."


Tuan Pandev mengangguk dengan senyum tipis mengantar Lexsa hingga masuk lift, gadis itu melambaikan tangan sembari tersenyum manis. Dia merasa tuan Pandev tidak menyeramkan seperti cerita cerita yang ia dengar.


__ADS_2