
Disisi lain Lexsa perlu berpikir bagaimana cara membujuk Lexter sebab pria itu adalah kunci utama dirinya bisa keluar menikmati udara.
"Ehem!!"
"Tuan muda?"
"Jangan menggangguku atau kau akan merasakan akibatnya!"
Ancaman itu membuat Lexsa ciut dan tidak berani berkutik namun tekadnya untuk mencoba sangat besar.
Gadis itu mendekati Lexter lalu duduk disampingnya mencoba membaca apa yang pria tersebut baca.
"Aaahh majalah perusahaan," gumamnya.
"Coba lihat tuan muda."
Lexsa mengambil majalahnya tanpa permisi, Lexter ingin mengambilnya lagi namun Lexsa dengan cepat mengalihkan tangan.
"Ini bukan zamannya bermain main seperti anak kecil," ucapnya datar.
"Ayo tuan muda ambil ini jika kau bisa aku tidak akan memaksa berolahraga."
Lexsa berdiri di sofa dan mengangkat majalah setinggi mungkin, Lexter mengela nafas dan berdiri lalu mengambil majalah dengan sangat gampang.
Bahkan Lexsa berjinjit di atas sofa saja masih mengalahkan tinggi badan Lexter, gadis itu terlalu ambisius sehingga badannya tak terkendali dan jatuh menimpa Lexter.
__ADS_1
Tentu saja dengan posisi yang benar sekarang, Lexter hanya bergerak sangat sedikit dan tubuh Lexsa ada di dada pria itu saat ini.
"Kau menyuruhku...."
Arkan yang hendak keluar memperlihatkan pakaian olahraga terkejut dengan pemandangan di depannya, sedangkan tatapan Lexter dan Lexsa membeku beberapa detik hingga tersadar oleh kedatangan Arkan.
"Gu-gunakan ini," ucap Lexsa sembari memberikan pakaian.
Lexter mengangguk datar dan pergi dengan pakaian olahraga, gadis itu berhasil keluar dengan bebas meskipun ada dua orang bersamanya.
"Kau apakan tuan muda?"
"Tenang saja tuan muda mu masih suci tidak ku apa apakan."
"Kau belum melihat tuan muda marah, lihat nanti jika kau membuat kesalahan ya."
"Untuk saat ini tidak tapi entahlah kedepannya seperti apa."
Lexsa mengangkat bahu seolah tak peduli dan duduk di sofa menunggu Lexter keluar.
Ceklek
Lexsa menoleh ke arah satu kamar dan melihat pria itu mengenakan pakaian non formal tak seperti biasanya, setelan baju olahraga dengan warna hitam polos tersebut membuat keduanya terlihat seperti pasangan sebab milik Arkan berwarna putih.
Cukup tampan dan rapih apalagi dengan potongan rambutnya yang memperlihatkan semua jidat, sangat sangat sempurna.
__ADS_1
"Sudah siap semua? Ayo kita pergi!" Ucap Lexsa dengan semangat dan senyum manis sembari melangkah keluar.
"Kau ingin kemana, ikuti aku!"
"Heuh?"
Lexsa mengurungkan langkahnya keluar dan mengejar Lexter bersama Arkan, gadis itu sekarang bingung apa yang diinginkan oleh keduanya.
Lexter berjalan ke arah belakang rumah dan Lexsa tahu betul itu adalah jalan buntu, hanya ada tembok besar di depan mereka.
"Apa yang kita lakukan disini?" Tanya Lexsa.
Lexter dan Arkan tersenyum tipis lalu salah satunya menekan tombol kecil di dekat tembok dan beberapa saat kemudian dinding besar yang menghalangi pandangan Lexsa terbuka.
Matanya terpejam sejenak melihat cahaya matahari keluar dari balik dinding tersebut, perlahan gadis itu membuka mata dan melihat satu tempat luas dengan pemandangan berwarna hijau dipenuhi bunga dan kursi.
"A-apa ini."
Gadis itu sampai menutup mulut dengan luasnya ruang tersembunyi milik Lexter.
Kedua pria tersebut masuk kedalam sembari memberikan kode pada Lexsa untuk mengikutinya.
"Olahraga disini, semua perlengkapan olahraga ada disana (menunjuk satu arah di ujung)."
"Ahh ya ya baiklah kau menang tuan muda."
__ADS_1
Lexsa mengambil peralatan olahraga namun sebelum itu ia ingin melakukan pemanasan terlebih dahulu agar tubuhnya tidak sakit