
Ceklek
Malam harinya Lexsa masuk ke ruang yang disuruh oleh Lexter tadi dan menemui pria itu, Lexsa mengenakan kaos oblong oversize seperti biasa namun dengan tambahan kacamata baca di matanya, benar benar terlihat simpel.
"Tuan muda," sapanya.
"Kemari."
Lexter berpindah dari kursinya dan menyuruh Lexsa duduk disana, bisa dikatakan dia adalah gadis pertama yang masuk dan menduduki tempat itu.
"Tadi aku mencari informasi tentang tuan Pandev William, mm kalian punya ikatan keluarga?" Tanya Lexsa.
"Mendiang La Cosa Nostra mengatakan mereka saudara angkat," jawab Lexter sembari duduk di meja dekat kursi yang ditempati Lexsa.
"Siapa mendiang La Cosa Nostra?"
"Ayahku."
"Seperti nama kelompok mafia."
"Memang."
__ADS_1
"Oh"
Keduanya mengangguk pelan namun Lexter menyadari satu hal dari Lexsa.
"Darimana kau tau La Cosa Nostra nama kelompok mafia?"
"Hahh La Cosa Nostra itu sangat terkenal di dunia pernovelan dan katanya kelompok itu memang ada, ternyata kau orangnya," jawab Lexsa dengan senyum tipis.
Lexter tidak tahu nama mereka menjadi inspirasi dunia imajinasi seandainya mereka tau betapa kejamnya dunia gelap seperti dunianya mungkin mereka tidak akan pernah menjadikan itu sebuah cerita.
"Baiklah lupakan itu sekarang ajari aku menjadi sekertaris yang baik dan apa saja yang harus ku lakukan?"
"Ah sebentar bagaimana jika dia menyuruhku membuat laporan segala macamnya, aku tidak bisa mengurus perusahaan," keluh Lexsa.
"Kau tenang saja, berikan informasi pada Arkan setiap kau diberikan tugas nanti dia akan mengurusnya."
"Tunggu bagaimana caraku menghubungi tuan muda Arkan kau tidak memberikan ku izin untuk memegang ponsel."
Lexter mengambil kotak di laci lalu memberikannya pada gadis itu.
"Ponsel ini sudah di atur kau hanya bisa menghubungi ku, Arkan, dan tuan Pandev William."
__ADS_1
"Hmm benarkah?"
"Selesaikan tugasmu dengan baik maka aku akan melepaskan mu sebagai imbalan."
Lexsa menggelengkan kepala sembari meletakkan ponsel di atas meja.
"Tuan muda boleh aku mengatakan sesuatu? Ini tidak penting bagimu hanya saja aku ingin menceritakannya padamu."
Lexter mengangguk pelan sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Haahh kau pasti tau aku berasal dari mana, ya dari rumah lelang. Asal kau tau tuan muda aku tidak pernah bermimpi berakhir disana, aku memiliki keluarga kecil dengan nama Patricia dan aku tiga bersaudara hanya saja kakak tiri ku tidak terlalu baik namanya Ellen dan adik ku Katherine tidak ada masalah dia cantik juga baik hati."
Beberapa saat Lexsa terdiam, dia tersenyum sinis saat menyadari dirinya masih menganggap keluarga itu keluarganya.
"Nyonya Patricia bukan ibu kandung ku, mama meninggal saat melahirkan ku 19 tahun yang lalu dan yaa mungkin itu sebabnya papa tidak terlalu menyukai ku, saat usia 12 tahun aku hampir di lecehkan oleh kekasih simpanan nyonya Patricia lalu aku mengadu pada papa tapi dia lebih percaya istrinya, sejak saat itu papa mengurungku. Kau tau papa membelikan ku alat alat kecantikan dan alat rias, ku kira untuk menghibur kesepian ku ternyata agar aku pintar merias diri ketika melayani pria nanti," tuturnya.
Awalnya Lexter tidak tertarik dengan cerita membosankan itu namun perlahan dia merasa ada yang lebih menderita dari hidupnya.
"Apa mereka sering menyakiti mu?"
Lexsa mengangguk dengan nafas berat sembari bersandar di kursi. Dia membayangkan tahun tahun menyeramkan saat keluarganya menyiksanya tanpa henti ditambah tuan Patricia yang tidak memiliki rasa iba pada putri kandungnya.
__ADS_1