
Pagi hari buta terdengar suara berisik dari arah dapur dan itu bukan maling melainkan Lexsa dan Vero sedang menyiapkan sarapan.
"Tuan muda kau bawa ini dan aku akan membawa sup nya," ujar Lexsa dengan senyum manis.
"Hei kau memerintahku?"
"Ini namanya meminta pertolongan tuan muda," jawab Lexsa.
Keduanya terus berbincang ringan di dapur, ntah sejak kapan Vero mau melayani ucapan seorang gadis namun untuk yang satu ini ia cukup antusias bahkan sengaja menghampiri Lexsa saat mendengar suara berisik dari dapur.
"Kalian…." Arkan yang baru selesai mandi keluar dari kamarnya dan melihat pemandangan aneh itu.
"Ayo sarapan kebetulan aku bangun sedikit lebih pagi jadi aku berpikir akan memasak sebentar sebelum berangkat ke kantor," ucap Lexsa.
"Ahh ya." Arkan kembali ke kamarnya bersiap-siap sebelum berangkat ke kantor juga.
"La Cosa Nostra bukan perusahaan sembarangan Lexsa kau harus berhati-hati," ujar Vero.
Lexsa mengerutkan dahi dengan ucapan Vero sebab ucapannya hampir mirip dengan Lexter.
"Kurasa sejauh ini tuan Pandev sangat baik," jawabnya.
"Kau belum melihat sisi iblis nya."
"Entahlah."
Beberapa lama menyiapkan sarapan Lexter keluar dari kamar menuju ruang makan dan tentu saja mereka bertemu satu sama lain.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh dapur!" Ucap Lexter dengan cukup dingin.
"Mm a-aku kebetulan bangun terlalu pagi jadi…"
Prakkk!!!
Lexter membuang wadah sup yang telah tersusun rapi hingga hancur berantakan.
"Aku menyuruhmu melakukan tugasmu saja, disini kau bekerja untukku tidak ada hak mu melakukan hal lain!!"
Lexsa tertunduk dengan menyatukan kedua tangannya sembari menggigit jari.
"Lexter bukankah itu keterlaluan!" Saut Vero.
"Aku menyuruhmu kembali kenapa masih disini!"
"Maaf tuan muda aku seharusnya tidak melakukan ini maafkan aku," saut Lexsa sembari mengembalikan piring ke meja dapur.
Gadis itu menghela nafas dengan berat dengan dadanya yang sesak melihat sup yang telah tumpah, ia segera membersihkan bekas pecahan mangkuk besar tersebut.
"Lagipula siapa yang ingin memakan masakanmu itu Lexsa lain kali pikirkan tindakan mu terlebih dahulu!" Tegur Lexter lagi.
"Baik tuan muda."
Dengan cepat Lexsa memakan masakannya sendiri di dapur agar tidak terbuang sia sia, Lexter menyaksikan itu dan semakin kesal dengan Lexsa.
"Kemari!"
__ADS_1
Lexter menarik Lexsa dan menundukkan kepalanya di tong sampah lalu memaksa gadis itu membuang makanan di mulutnya.
"Keluarkan!!"
Lexsa terpaksa mengeluarkan makanan di mulutnya karena paksaan tersebut sebab tenggorokannya di cegah oleh Lexter untuk menelan makanan.
"Hei kau keterlaluan!!" Teriak Vero dan langsung menarik Lexsa dari tangan pria itu.
"Jangan ikut campur!!"
"Ini urusan ku juga brengsek!!" Teriak Vero lebih keras.
Lexsa menutup telinga dengan teriakan kedua pria tersebut, Vero yang telah marah dengan kelakuan Lexter langsung mengambil pisau lalu melayangkannya pada Lexter.
"Kurang ajar!!"
Lexter pun mengambil pisau dapur lalu menyerang Vero, keduanya bertengkar hebat hingga hampir saling menusuk satu sama lain.
Lexsa terduduk sembari memeluk lututnya, gemetar di tubuhnya tak bisa terbendung lagi melihat kejadian tersebut.
Mendengar suara pertengkaran Arkan keluar dan benar saja ruangan sudah berantakan dengan permainan pisau keduanya.
Dorrr!!!
Arkan menembakkan peluru ke atas dan langsung menghentikan keduanya.
"Kenapa kalian bertingkah seperti anak kecil!!" Ucap Arkan kesal sembari mengambil pisau dari keduanya.
__ADS_1
"Arghh!!"