GADIS LELANG

GADIS LELANG
bab 22


__ADS_3

Disisi lain Lexter juga telah menyelesaikan pekerjaannya dan menandatangani semua tumpukan berkas berkas selama ia tidak masuk bekerja.


"Tuan muda kita pulang sekarang?" Tanya Arkan.


Lexter mengangguk dan mengambil jas nya lalu keluar dari ruangan.


"Bagaimana Lexsa?" Tanya Lexter.


"Dari rekaman yang ku dapat di kalung itu semuanya baik baik saja bahkan tuan Pandev terdengar senang mempekerjakan gadis itu," jawab Arkan.


"Baguslah jika dia berhasil mengambil hati tuan Pandev."


"Sepertinya dia gadis yang pintar mengambil hati seseorang," ucap Arkan dengan sindiran tipis untuk Lexter.


Pria itu sendiri mengangguk tanpa sadar Arkan sedang menyindirnya yang anti bersosial dengan wanita.


"Tuan muda sepertinya ada beban yang akan datang beberapa hari lagi," ucap Arkan.


"Beban?"


Arkan mengangguk sembari memegang dadanya, itu merupakan prasangka yang buruk.


Tring...tring...tring


Lexter mengambil ponsel dari sakunya lalu menatap Arkan saat melihat nama itu memanggilnya.


"Bebannya sudah datang," ucap Lexter lalu mengangkat panggilan.


'kau dimana?'


'tidak perlu kau tau!' jawab Lexter ketus.


'aku datang nanti, kedua orangtuaku mengkhawatirkan mu mati'


'sialan aku masih hidup sampai sekarang'


'ya kau hidup juga sia sia, malaikat tidak mencatat nama mu di daftar pembuatan manusia'


'omong kosong!'

__ADS_1


'ya baiklah aku hanya ingin memberitahu itu'


'katakan pada nyonya aku baik baik saja kau tidak perlu kemari'


'tidak bisa aku harus kesana karena mereka terus mendesak'


'terserah kau saja jangan lama lama disini'


'rumah jelek mu juga membuatku tidak betah disana, sudahlah membuat darahku naik saja'


Pria diseberang telepon memutuskan sambungan dengan nada kesal, Lexter juga tidak mau tau dan langsung memasukkan ponselnya.


"Siapa?" Tanya Arkan.


"Tebak saja."


"Dari caramu berbicara dia....ah tidak mungkin."


"Memang dia."


Otak mereka seolah olah memiliki aliran yang sama hingga berpikir dua orang menyebalkan akan datang ke rumah.


"Jika bisa aku juga ingin menghilang!" jawab Lexter ketus.


Keduanya menaiki mobil dan kembali ke rumah, persetan dengan pria yang akan datang kerumahnya.


Beberapa menit kemudian keduanya sampai di rumah dan sangat kebetulan mereka bertemu dengan Lexsa di depan gerbang masuk.


"Tuan muda kau baru pulang?" Tanya Lexsa.


Lexter mengangguk lalu keluar dari mobil dan membiarkan Arkan memarkir mobil di garasi, tumben tumbenan dia keluar dari mobil sebelum sampai di depan pintu.


"Bagaimana hari pertama menjadi sekretaris?"


"Mm menyenangkan tapi sedikit melelahkan apalagi jam menuju siang jadwal tuan Pandev sangat padat sampai aku lupa makan siang," jawab Lexsa.


"Sampai sekarang?" Tanya Lexter.


Lexsa mengangguk pelan dengan ekspresi lesu nya, pria itu langsung menarik Lexsa masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Cepat bersihkan dirimu dan ganti baju lalu turun," titahnya.


"Baiklah."


Lexsa menatap pergelangan tangannya agar Lexter melepaskan namun pria itu seperti tidak mengerti arti tatapan Lexsa.


"Kau mau ikut tuan muda?" Tanya Lexsa.


"Tidak!"


"Ingin mengantarku ke kamar?"


"Tidak perlu manja!"


"Baiklah lepaskan tanganku kalau begitu," ucap Lexsa dengan ekspresi datar.


Lexter langsung melepasnya tanpa satu dua tiga, dia bahkan tidak sadar masih memegang pergelangan tangan gadis itu.


Lexsa menggelengkan kepala sembari menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya. Beberapa menit berlalu Lexsa keluar dengan rambut yang masih sedikit basah sebab pengering rambutnya sedang bermasalah di kamar.


"Tuan muda bisa pinjam pengering rambut?" Tanya Lexsa.


"Nanti saja, kemarilah!"


Lexsa melangkah pelan menuju meja makan dan disana sudah tersedia makanan yang cukup menggugah selera.


"Kurasa pelayan tidak ada tadi," ucapnya.


"Kau tidak tau tuan muda multifungsi dan multitalenta," saut Arkan sembari menyicipi masakan di atas meja namun tangannya langsung di pukul oleh Lexter.


"Benarkah?"


Lexsa dengan semangat membuka kursi lalu duduk dan menyicipi makanan tersebut.


"Wahh tuan muda ini lezat sekali kau ikut les tataboga?" Tanyanya.


Arkan menutup mulutnya menyembunyikan tawa.


"Makan saja tidak perlu banyak bicara, lain kali jangan bekerja jika belum makan siang."

__ADS_1


Lexsa mengangguk pelan dan melanjutkan makan, menu makanan di atas meja tidak ada yang mengecewakan hingga Lexsa melahap makanan dengan cepat.


__ADS_2