
"Batalkan jadwal hari ini," ucapnya.
"Kau gila tuan muda? Klien mu datang dari Amerika untuk tanda tangan," kata Arkan.
"Kerjakan saja perintahku!"
"Baiklah terserah kau saja," decak Arkan kesal.
"Memangnya apa yang kau lakukan hari ini?" Tanyanya lagi.
"Kita akan membeli saham ditempat Ellen bekerja."
"Ellen? Kakaknya Lexsa?"
"Benar sekali."
"Perusahaan itu tidak bermanfaat untuk kita."
"Lakukan saja banyak sekali bantahan mu akhir akhir ini,"
"Baiklah."
Arkan pergi mengambil ponselnya dengan pikirannya sendiri, masih belum paham mengapa Lexter melakukannya.
Beberapa menit kemudian keduanya sampai di depan gedung 10 lantai, sepertinya perusahaan desain grafis dan cukup besar.
__ADS_1
"Silahkan tuan muda."
Keduanya masuk ke lobby langsung disambut hangat oleh manajer disana, Lexter La Cosa Nostra sudah dikenal baik oleh pebisnis lain. Pria itu juga terkenal cekatan menangani perusahaan dan sudah menjadi rahasia umum bagi mereka bahwa La Cosa Nostra Group adalah milik Lexter oleh karena itu mereka mempercayai kemampuannya.
"Selamat datang tuan muda selamat datang tuan," sapanya.
Lexter mengangguk pelan dan langsung dipersilahkan keruangan meeting yang telah ditunggu oleh beberapa klien lain.
"Selamat datang tuan," sapa seorang wanita dengan style dibalur riasan mencolok yang membuat penampilannya lebih sempurna dibanding klien lain.
Iya dia adalah Ellen yang dimaksud Lexsa, Lexter memperhatikan sejenak wajah wanita itu lalu memalingkan tatapannya kepada yang lain.
"Baiklah karena tuan muda sudah datang kita akan memulai rapat kali ini."
"Proyek kali ini cukup menarik untuk kita bicarakan dan jika tuan tuan semua menanamkan saham dalam proyek ini saya jamin itu akan sangat menguntungkan perusahaan tuan tuan semua," ucap Ellen.
"Aku akan memberikan saham 35 persen di dalam proyek ini," ucap Lexter.
Seluruh mata tertuju pada pria itu, tak tanggung tanggung ia berani melewati batas perkiraan untuk membiayai proyek yang menurut Arkan tidak terlalu penting.
"Terimakasih tuan muda La Cosa Nostra." Kata Ellen dengan senyuman merekah.
Beberapa saat kemudian rapat selesai, beberapa klien telah pergi meninggalkan ruangan tersisa Ellen bersama Lexter dan Arkan.
"Terimakasih telah berpartisipasi dalam proyek ini tuan," ucap Ellen.
__ADS_1
"Aku akan melihat performa perkembangan proyek ini setiap satu bulan sekali jika dalam beberapa bulan terus menurun aku akan mencabutnya," ucap Lexter dengan tegas.
"Baik tuan muda kau tidak akan kecewa untuk proyek ini."
Tok…tok…tok
Belum selesai dengan percakapannya seseorang mengetuk pintu dari luar dan masuk begitu saja.
"Nona Ellen tuan Pandev sudah datang dan menunggu di luar."
Lexter dan Arkan saling menatap datar namun tetap tenang mendengar satu nama tersebut.
"Baiklah katakan pada tuan Pandev aku akan segera keluar."
"Baik nona."
Ceklek
Pintu kembali tertutup dan Lexter telah menyelesaikan tanda tangannya.
"Terima Kasih tuan muda mari saya antar atau kau ingin melihat lihat kantor kami sebelum kembali?" Tanya Ellen.
"Tidak, aku masih ada urusan."
"Baiklah tuan muda mari saya antar."
__ADS_1
Keduanya keluar dari ruang meeting dan berjalan menuju lobi, beberapa langkah sebelum menuju lobi tuan Pandev terlihat sedang diarahkan ke sebuah ruangan oleh staff kantor.
Dan tanpa sengaja bola mata pria paruh baya tersebut mengarah pada Ellen dan tentu saja pada Lexter.