
Disisi lain terlihat beberapa orang sedang memasang sebuah tali di atas kayu yang terbentang dengan dua tumpuan di kiri dan kanannya, setelah menyelesaikan semuanya mereka terlihat menyeret seseorang dengan wajah penuh luka.
"Argh!!!"
Tanpa mendengarkan jeritan pria itu mereka menyiapkan tali yang berbentuk kalung tersebut untuk dipasangkan ke leher pria itu.
"Ti-tidak!! Jangan lakukan itu."
"Katakan dimana mereka menyembunyikannya!!"
Suara dingin yang berasal dari tempat gelap itu membuat bulu kuduk tawanan nya merinding.
"Kau di bayar berapa oleh antek antek mereka sampai rela nyawa mu hilang!"
"Cihh kalian pikir nyawaku berharga? Kalian bunuh saja aku sekarang!"
Seringai licik dari pria tersebut membuat lawan sedikit gugup dan ingin mencabut perkataan yang baru saja ia ucapkan.
"Katakan dimana surat itu maka aku akan mengampuni anak dan isteri mu!"
"Haha tuan muda yang terhormat kalian kira bisa menemukan mereka semudah itu? Jangan bermimpi tuan mereka sudah di amankan oleh tuan Pandev."
"Bagaimana dengan ini."
Satu lagi suara asing terdengar di telinga pria tersebut dan suara itu terdengar lebih dingin lagi ditambah dengan aksinya yang memegang remote lcd dengan monitor besar di depan.
'papa kami akan pergi berlibur, aku dan mama sangat senang diberikan tiket gratis untuk liburan, papa semangat bekerja kami akan pulang nanti'
__ADS_1
"Apa apaan ini siapa yang membawa mereka pergi!!"
"Katakan sekarang sebelum helikopter mereka datang dan membawa mereka ke pulau mati!"
"Tidak!"
"Ck kau menghabisi waktu ku enyah lah!!"
Pria itu kembali menekan tombol namun sekarang bukan remote lcd yang ia tekan melainkan tali yang mengalungi leher tawanan itu terputus sembari menyaksikan keluarganya menaiki helikopter untuk dibawa ke pulau mati.
Dua pria yang mengancam tadi keluar ke tempat yang lebih menyenangkan mata mereka tanpa peduli tawanannya sedang sekarat.
"Tuan muda kau terlalu cepat mengambil keputusan seharusnya kau tidak membunuhnya," ucap Arkan.
"Masih banyak cara tidak perlu bersujud pada calon bangkai," ujarnya acuh.
Iya mereka adalah Lexter dan Arkan yang sedang berbincang, Lexter merupakan pria dengan sejuta kedinginan dalam bersikap, manusia paling enggan bersujud pada sesuatu walaupun ia sangat menginginkannya.
Pria itu kesal terus menerus menangkap satu persatu pengawal tuan Pandev William untuk mencari tahu surat yang pria paruh baya itu curi dari keluarga Lexter La Cosa Nostra.
Kabarnya mereka belum bisa mengelola saham dan aset lain sebab belum ada tanda tangan dari tuan muda Lexter La Cosa Nostra.
Dan Lexter sendiri tidak bisa mengakuisisi perusahaan miliknya karena tidak memiliki bukti bahwa dirinyalah yang menjadi pewaris La Cosa Nostra.
"Hmm sepertinya kita tidak harus menggunakan kekerasan dalam hal ini," ucap Arkan.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Bagaimana jika kita menggunakan wanita...."
"Tidak!!"
Lexter langsung memotong ucapan Arkan tanpa perlu mendengar kelanjutannya, dia tau betul semua pekerjaan yang melibatkan wanita tidak aman berhasil.
"Ckk!!"
"Dengarkan aku dulu, kau tau sendiri tuan Pandev William penggila wanita."
"Aku bisa mengurusnya kau tidak perlu khawatir."
"Benarkah? Buktikan sekarang!"
Lexter terdiam sebab ia tidak bisa membuktikan ucapannya sejauh ini, dia hanya melakukan dengan kekerasan dan tidak berhasil.
"Aku yang akan mengurusnya kau tenang saja tuan muda."
"Kuberikan kau satu kesempatan jika gagal kau akan mengikuti jejak mereka di tali kematian itu!"
"Siap tuan muda, aku dengar akan ada pelelangan istimewa besok malam mungkin kau ingin datang?"
"Tidak." Tolak Lexter mentah mentah.
"Tuan Pandev ada disana."
"Siapkan pakaian ku besok malam."
__ADS_1
"Baik tuan muda."
Arkan tidak akan tahu apa yang terjadi kedepan nya karena dia berbohong mengatakan ada tuan Pandev dalam pelelangan tersebut.