GADIS LELANG

GADIS LELANG
45


__ADS_3

Di dalam helikopter penembak jitu keluar lalu menyiapkan perlengkapannya ditambah pengawal yang tak terhitung jumlahnya menunggu perintah menyerang diluar gedung.


"Menyerahlah tua bangka daripada kau mati sia sia," ucap Vano sembari meniup pistolnya.


"Tembak mereka!!" Alih alih mendengar Vano, tuan Pandev malah menyuruh menyerang.


Keempatnya menyambut pengawal yang mendekat dengan sekali pukulan langsung pingsan. Mereka membuat kolaborasi dengan melawan serangan tanpa membunuh.


Mereka seperti gula yang dikerumuni oleh semut jika melihat pengawal tuan Pandev namun saat pengawal keluarga Salvatrucha masuk mereka lebih mendominasi meskipun masing masing dari lantai gedung tersebut terdapat pengawal namun telah K'O oleh penembak jitu.


"Lexter cepat selamatkan gadis itu!" Ucap Vero.


Pria itu mengangguk dan masuk kedalam bersama Arkan, beruntung keluarga Salvatrucha datang tepat waktu sehingga ia bisa menyelamatkan Lexsa.


"Kurang ajar!!" Teriak tuan Pandev.


Dorrr!!!


Pria itu melepas peluru ke arah Vallen sehingga membuat wanita itu tersungkur dengan jeritan keras.


"Tapi bohong week!!" Ucap Vallen sembari menjulurkan lidah.


"Ah sayang mengagetkanku saja," ucap Vano.


"Terima ini!!" Teriak tuan Pandev dan kembali melepaskan peluru.


Dorrr!!!


"Ahh mengganggu saja tua Bangka ini," ucap Ethan dan menembak tulang keringnya lebih dulu sehingga tuan Pandev berteriak kesakitan.


"Pa aku menyusul Lexter kedalam," ucap Vero.


Pria itu mengangguk dan membantu istrinya berdiri.

__ADS_1


"Kau baik baik saja?"


"Tentu saja tadi hanya akting sedikit agar dia senang," jawab Vallen.


"Pengawal mereka sudah lebih sedikit sebaiknya kita biarkan pengawal yang membersihkan mereka semua," ujar Ethan.


"Lihat saja polisi akan menangkap mu!!" Teriak tuan Pandev.


"Ada bukti?" Tanya Ethan yang lelah melawan pria itu berbicara.


"Kau bodoh? Cctv di kantor ada ratusan!!"


"Justru kau yang bodoh, kau tidak tahu ayahku sudah meretas cctv nya." Sanggah Ethan dengan seringai kemenangan.


"Kurang ajar!!"


Dorrr!!!


Ethan melayangkan peluru tepat ditengah tengah rambut tuan Pandev namun tak sampai mengenai kulit kepalanya, kecerdikan membidik pria itu memang luar biasa.


"Cihh keras diluar lunak didalam," ucap Vano.


"Hustt sayang tidak boleh seperti itu walaupun perkataan mu benar." Kata Vallen.


"Baiklah sayang sekarang ayo kita pergi dan biarkan mereka menyelesaikannya, Salvatrucha tidak boleh terjerat dalam tindakan kriminal."


"Baiklah."


Setelah semua aman dan para pengawal tuan Pandev pingsan beberapa saat kemudian polisi datang ke lokasi.


Disisi lain Lexter telah sampai diruang brankas namun ia juga bingung bagaimana sistem ruangan seperti lorong tersebut.


"Biar anak mafia yang menyelesaikan ini semua," ucap Vero.

__ADS_1


"Jangan sok pintar," ucap Lexter.


"Tidak percaya? Lihat ini."


Vero memutar patung dan benar saja perlahan dinding naik ke atas dan menyisakan dinding kaca. Ia kembali memutar patung dan kaca terbuka.


Lexsa terkejut melihat ketiganya berada disana, tiba tiba saja kakinya berlari menuju Lexter dan memeluk pria itu.


"Aku pikir aku akan mati tuan muda aku sangat takut," ucap Lexsa dengan Isak tangis tak terbendung.


"Maafkan aku datang terlambat, kau baik baik saja ada yang luka?" Tanya pria itu sembari memutar tubuhnya.


Disela memutar tubuh Lexsa manik hitam pria itu tertuju pada seseorang diujung sana seketika tubuh Lexsa berhenti berputar.


"Si-siapa dia?" Tanya Lexter.


"Putraku," ucap tuan Louiston.


Deg!!!


Jantung Lexter yang tak pernah berfungsi dengan baik terasa berjalan terlalu cepat saat mendengar suara yang tak pernah ia dengar selama 20 tahun.


"A-ayah?"


"Ti-tidak tidak ini tidak mungkin, ayah sudah meninggal 20 tahun yang lalu, aku melihatnya sendiri!"


"Ini ayah nak," ucap tuan Louiston.


Lexter sampai mengerutkan dahi memperhatikan pria yang ada di depannya itu dan ya tidak salah lagi itu memang ayahnya.


"A-ayah bagaimana kau…"


Lexter berlari memeluk pria itu dan segera melepas borgolnya dengan bantuan Vero yang serba ahli dalam segala hal.

__ADS_1


"Ayah selama ini kau dikurung disini?" Tanya Lexter.


Tuan Louiston mengangguk pelan dengan tubuh lemah, pria itu langsung mengangkat tubuh ayahnya keluar dari ruangan tersebut.


__ADS_2