GADIS LELANG

GADIS LELANG
49


__ADS_3

Keesokan harinya pagi pagi sekali Lexsa mengajak tuan Louiston keluar menikmati udara segar di taman belakang rumah, tampak keduanya duduk kursi yang berbeda. Lexsa duduk di kursi taman sedangkan tuan Louiston tetap di kursi roda.


"Haaaahhhh!!!"


Lexsa menghempas nafas kasar lalu menghirup udara dengan leluasa sembari tersenyum manis.


"Kau terlihat senang sekali nak," sapa tuan Louiston.


"Tentu saja tuan besar karena seharusnya hari ini hari kerja tapi sekarang aku terbebas dari berkas."


"Kau bisa memanggilku ayah jika Lexter tidak ada disini," bisik tuan Louiston.


Lexsa menanggapi dengan senyum tipis, ia merasa memiliki ikatan pada pria paruh baya tersebut.


"Tuan boleh aku bertanya?"


"Tentu saja."


"Apa yang terjadi malam itu? Tuan muda mengatakan dia melihatmu ditembak di depan matanya."


Tuan Louiston mengalihkan pandangannya ke depan, 20 tahun bukan waktu yang singkat ia pun sedikit lupa cerita sesungguhnya.


"Malam itu kami sedang perjalanan pulang namun di hadang oleh sekelompok orang lalu tak segan menembak mobil, beruntung mobil yang kami gunakan anti peluru namun saat itu mereka bisa menembusnya, aku hanya bisa melempar Lexter keluar dari mobil dan melarikan diri sedangkan istriku sudah tewas terkena 18 tembakan di tubuhnya," tutur tuan Louiston.


Lexsa membayangkan situasi malam itu namun masih saja penasaran.


"Malam itu sekertaris ku juga ada di dalam mobil dan kebetulan kami menggunakan pakaian yang sama jadi mereka berpikir telah membunuhku saat Lexter menyaksikan kejadian itu, setelah Lexter pingsan di balik semak semak aku menyerah karena William mengancam akan membakar mobil beserta istri dan sekretarisnya."


"Ahhh jadi ceritanya seperti itu."


"Maaf nona sekarang waktunya tuan besar terapi," ucap perawat yang baru datang.

__ADS_1


"Baiklah."


"Sampai jumpa." Ucap tuan Louiston.


Lexsa membalas dengan senyum manis hingga perawat mendorong tuan Louiston masuk kedalam rumah.


**


Tok…tok…tok


Disisi lain terdengar suara pintu utama dari rumah Lexter, tidak ada yang tahu siapa tamu tersebut sebab mereka tidak pernah menerima tamu.


Ceklek


Perawat yang kebetulan lewat membuka pintu utama dan melihat seorang wanita dengan style elit disertai dandanan mencolok nya.


"Selamat pagi," sapanya.


"Kau siapa?" Tanya tuan Louiston.


"Ahh tuan besar saya adalah teman dekat tuan muda Lexter dan saya mendengar kabar baik dari keluarga La Cosa Nostra jadi saya datang," jawabnya.


Benar itu adalah Ellen, wanita keras kepala yang telah diperingati oleh Lexter tersebut nekat datang ke rumahnya untuk mengambil simpati tuan Louiston.


Ellen memberikan bunga dan bingkisan pada perawat lalu mendorong kursi roda tuan Louiston menuju ruang tamu seolah ingin mencari perhatian.


"Tuan besar saya datang menjenguk anda," ucap Ellen dengan sopan.


Tuan Louiston mengangguk dengan senyum tipis, ia masih belum tahu seluk beluk putranya sebab sampai saat ini mereka belum berbicara 4 mata.


Keduanya berbincang bincang ringan beberapa menit hingga Arkan datang dan tak sengaja melihat ruang tamu.

__ADS_1


"Nona Ellen? Mengapa dia kemari," gumam pria itu.


Arkan menghubungi Lexter melalui ponsel "kau menyuruh nona Ellen kemari tuan muda?" Tanyanya.


"Mana mungkin," jawab Lexter.


"Tapi dia sedang berada diruang tamu dan berbicara dengan tuan Louiston."


Lexter langsung memutuskan panggilan sembari menuju ruang tamu menemui keduanya, dari jauh Lexsa melihat Lexter berjalan dengan langkah cepat lalu mengikutinya dari belakang namun berhenti ketika melihat Ellen diruang tamu.


"Untuk apa datang kemari," sapa Lexter ketus.


"Ah tuan muda saya kemari…"


"Pergilah aku sedang tidak butuh rasa kasihan!" Ucapnya sembari memasukkan tangan kedalam saku celana.


"Tuan saya hanya…"


"Pergi atau aku akan membatalkan menaruh saham di pulau kosong itu!!"


"Ba-baiklah."


Ellen segera mengambil tasnya dan tersenyum canggung pada tuan Louiston lalu keluar dari rumah.


"Pa lain kali jangan bicara sembarangan dengan orang," tegur Lexter.


"Baiklah papa hanya menyambut tamu, papa kira diam teman mu."


"Kau tidak bisa bicara sembarangan dengan orang lain kecuali isi rumah ini," ujar Lexter.


Papanya mengangguk dengan sangat patuh terhadap perintahnya, tuan Louiston benar benar tidak menyangka putranya yang dulu periang berubah menjadi batu es kutub utara ketika ia besar bahkan tuan Louiston belum mengerti cara menghadapi putranya.

__ADS_1


__ADS_2