GADIS LELANG

GADIS LELANG
47


__ADS_3

Pria itu melambaikan tangan lalu naik ke roof top menggunakan lift, Lexsa tidak habis pikir bagaimana orang orang bisa sekaya itu bahkan jaman sekarang mereka menggunakan layanan penerbangan kemana mana.


Satu jam kemudian tuan Louiston telah selesai diperiksa, mereka membawanya kembali kerumah. Dan ini pertama kalinya tuan Louiston menginjakan kaki kembali ditanah luas dengan udara segar bahkan ia sudah lama tidak melihat langit biru.


"Ini rumahmu Lexter?" Tanya tuan Louiston.


Lexter mengangguk pelan sembari menatap rumahnya yang mewah bahkan hampir setara dengan rumah mereka dulu.


"Ayah bersyukur kau bisa mendapatkan semua ini dengan kerja keras mu," ujarnya.


"Ayo masuk pa,"


"Kemarin kau memanggilnya ayah sekarang papa," tegur Lexsa.


"Aku tidak ingin menggunakan panggilan yang sama dengan mu," ucap Lexter.


Lexsa memanyunkan bibirnya mendengar jawaban tak terduga pria itu, Lexter juga pernah mendengar Lexsa memanggil tuan Louiston ayah jadi dia tidak ingin panggilan mereka sama seolah adik kakak.


Ketiganya memasuki ruang utama dan tuan Louiston benar benar tidak menyangka putranya bahkan membuat desain rumah yang sama dengan rumah mereka dulu.


"Maafkan papa tidak bisa melindungi mu dan harus menghadapi ini sendirian Lexter."

__ADS_1


Lexter melepas kursi roda lalu berjongkok di depan tuan Louiston.


"Pa harusnya aku yang meminta maaf karena baru mengetahui kau masih hidup, aku berpikir kau sudah mati ditembak tuan Pandev malam itu ternyata dia menggunakan orang lain untuk mengelabui ku dan mengurung mu di gedung yang kau buat sendiri," tutur Lexter.


"William memang keterlaluan dia terlalu haus akan kekayaan."


"Dia juga memalsukan aset aset atas namanya pa."


"Papa sudah tahu, itu sebabnya kau harus merebut La Cosa Nostra Group kembali."


"Pasti pa."


Mereka duduk di sofa sebentar berbincang bincang sebab tuan Louiston tidak ingin ke kamarnya untuk saat ini namun Lexsa memaksanya harus beristirahat hingga membuat pria paruh baya tersebut mengalah.


Ceklek


"Tuan Louiston perlu banyak istirahat dan sedikit pembersihan," ucap Lexsa.


"Aku perlu bicara denganmu," kata Lexter sembari memegang pergelangan tangan Lexsa dan membawanya ke ruang kerja dengan lembut.


Ceklek

__ADS_1


Lexter membawa Lexsa duduk di sofa lalu pria itu mengambil sedikit minuman beralkohol dari ruang penyimpanannya.


"Maafkan aku terlambat datang," ucapnya.


Lexsa mengerutkan dahi dengan perkataan pria itu, lagi lagi Lexter terlihat aneh di matanya.


"Kau bisa datang saja aku sangat bersyukur Lexter, tuan Louiston mengatakan tidak pernah ada yang bisa melarikan diri dari tempat itu meskipun jasadnya sekalipun," ujar Lexsa.


"Terimakasih sekali lagi, aku berjanji akan memberimu tempat yang layak di La Cosa Nostra Group nanti."


"Ahh itu mm mengenai pekerjaan sepertinya aku tidak bisa bekerja tanpa gelar, perusahaan itu sangat besar jadi butuh gelar yang pantas berada disana."


"Apa yang kau inginkan?"


"Mm berikan beasiswa untuk kuliahku," jawab Lexsa dengan mantap.


"Lexsa kau bisa bekerja sambil kuliah? Kinerja mu cukup bagus sebagai karyawan tetap di La Cosa Nostra Group."


Tentu Lexsa mengangguk cepat dengan kata lain ia dapat gaji dan gratis menempuh perguruan tinggi, ia bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan menata hidupnya.


"Tentu saja."

__ADS_1


Lexter mengangguk sepakat dengan begini ia tak menganggap dirinya berhutang budi terlalu banyak pada Lexsa, pria itu sudah mengutus banyak mata mata namun semuanya gagal.


__ADS_2