
Beberapa hari berlalu Lexsa bekerja seperti biasa tanpa ada yang mencurigakan bahkan gadis itu selalu tersenyum pada semua staff kantor.
Sangat jauh berbeda dari sekertaris yang dulu, memang sekertaris dulu kalah jauh dengan Lexsa dari segi penampilan namun tak kalah dari segi kepintaran bahkan beberapa pekerjaan yang diberikan tuan Pandev dikerjakan sendiri oleh Lexsa tanpa meminta bantuan Arkan.
Dan sekarang Lexsa kembali dari perusahaan, tampak jelas kelelahan diwajahnya namun ia tetap ceria bahkan membelikan Lexter dan Arkan masker wajah walaupun ia sangat lelah.
"Selamat malam semuanya," ucap Lexsa.
"Baru pulang," sapa Lexter.
Lexsa mengangguk dan meletakkan tote bag di atas meja lalu beranjak ke kamarnya mengganti pakaian.
Tok... tok... tok
Semua mengarahkan kepala ke pintu, Lexter menatap Lexsa namun gadis itu menggelengkan kepala seperti tidak tahu apa yang terjadi.
Lexter menghampiri Lexsa lalu menariknya dengan cepat ke atas sedangkan Arkan membuka pintu.
"Kau..."
Arkan terkejut melihat seorang pria berdiri di depan pintu dengan wajah datar, pria itu langsung ingin menutup pintu kembali namun di tendang oleh salah satunya.
Brakk!!!
Belum sempat bersembunyi Lexsa melihat dua orang pria itu namun ia tidak mengenal mereka, sejauh ini dia tidak pernah melihat pengawal tuan Pandev dengan wajah tampan seperti di depan pintu.
Lexter pun ikut menatap ke belakang dan dia melepas tangan gadis itu setelah tau siapa orangnya.
"Kau benar-benar datang?" Tanya Lexter.
"Tentu saja terpaksa!" Jawabnya ketus.
"Siapa dia, kau mengenalnya tuan muda?" Tanya Lexsa.
__ADS_1
Mendengar suara asing disana pria itu memperhatikan seseorang di belakang Lexter.
"Astaga sejak kapan kau menyimpan seorang gadis di rumahmu?"
"Hampir satu bulan," jawab Lexsa sembari melambaikan tangan.
Pria itu tetap berwajah datar meskipun Lexsa telah menyambut seramah mungkin.
"Perkenalkan namaku Alexandra Larossa, kau siapa?" Tanya Lexsa.
Tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Lexsa hingga membuat gadis itu sedikit malu.
"Dia Alvero Salvatrucha," saut Arkan.
"Ayo masuk kenapa diluar," ucap Lexsa meskipun ia tidak tahu itu siapa.
"Tidak perlu, mereka akan kembali," saut Lexter datar.
"Enak saja kembali matamu kau kira rumahku tidak jauh dari sini!" Saut Varo lagi.
"Kalian ini aneh kenapa menyambut tamu seperti itu, tuan tuan kemarilah duduk disini."
Lexsa menyambut mereka layaknya tamu namun Lexter dan Arkan seperti tidak peduli.
"Hahhh akhirnya menginjak tempat empuk," keluh Vero.
"Untuk apa datang?" Tanya Lexter.
"Ck!!"
Lexter mengeluarkan ponsel lalu menekan tombol acak.
"Bicara pada mama."
__ADS_1
"Hey kau..."
Lexter ingin menendang tubuh Vero namun panggilan video lebih dulu menampakkan wajah nyonya Vallen.
"Lexter bagaimana kabar mu?"
"Ya? Mm baik nyonya," jawab Lexter sembari tersenyum tipis.
"Kau tumbuh dengan baik disana, apa semuanya baik baik saja?"
Lexter mengangguk pelan "sedang berusaha mengambil hak milik papa," ucapnya.
"Kau tidak perlu khawatir aku mengirim Vero kesana untuk membantumu," ujar nyonya Vallen.
"Iya nyonya terimakasih."
"Dimana eyang?" Tanya Lexter.
"Kenapa mencarinya tidak mencari ku," saut Vano yang kebetulan di samping Vallen.
"Tidak penting," jawab Lexter datar.
"Memang anak ini belum di sekolahkan tulang lidahnya," gerutu Vano kesal.
"Nyonya aku akan menghubungi mu lagi nanti," ucap Lexter.
"Baiklah jaga dirimu baik-baik."
Lexter mengangguk lalu memutuskan sambungan dan melempar ponsel Vero dengan kasar.
"Cihh!!"
Vero adalah teman kecil Lexter selama di Inggris dulu, semasa kecilnya Lexter bukan pria dingin malah sebaliknya Vero lah yang memiliki sifat itu namun berubah setelah berkumpul dengan keluarganya sedangkan Lexter berubah saat keluarganya pecah.
__ADS_1
Lexter adalah anak yang sering mengajak Vero bermain sehingga ia dikenal oleh keluarga Salvatrucha bahkan saat kematian tuan La Cosa Nostra mereka datang sekeluarga besar.
Keluarga Salvatrucha sempat ingin membawa Lexter ke rumah mereka namun pria itu menolak, ia ingin mencari keadilan untuk keluarganya sendiri.