GADIS LELANG

GADIS LELANG
46


__ADS_3

"Arkan ambilkan kursi roda di bagasi." Ucap Lexter.


"Baik tuan."


Arkan mengambil kursi roda yang memang disediakan oleh Lexter untuk Lexsa jika gadis itu tidak baik baik saja saat diselamatkan.


Sampai di lobi Lexsa mematung melihat banyaknya pengawal bersimbah darah dan sebagian luka luka yang sedang diobati perawat.


"Jangan lihat," ucap Vero sembari menutup mata Lexsa.


Ketiganya melewati orang orang yang terluka bahkan pingsan disana namun Vero tetap menutup mata gadis itu.


"Hei!!"


Sayang Lexsa pingsan karena ujung matanya masih melihat banyak manusia berlumur darah, Vero langsung mengangkatnya seperti pria dalam novel.


"Nona pingsan?" Tanya Arkan saat gadis itu sudah berada di dekapan Vero.


"Mungkin shock baru pertama kali melihat hal seperti ini," jawab Vero.


"Kita bawa mereka kerumah sakit," ucap Lexter.


"Aku akan mengurus kejadian disini tuan muda," ujar Arkan.


Mereka mengangguk dan meninggalkan gedung La Cosa Nostra lalu membawa tuan Louiston dan Lexsa kerumah sakit.


****

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit Lexsa dan tuan Louiston langsung diperiksa oleh dokter dan beruntung Lexsa hanya pingsan biasa karena keterkejutannya sedangkan tuan Louiston masih harus diperiksa lebih dalam.


"Tuan muda kondisi tuan Louiston saat ini baik baik saja namun untuk sementara dia harus melakukan terapi agar bisa berjalan."


Lexter mengangguk pelan dengan ucapan dokter, ia masih linglung dengan keadaan hari ini. Ia tidak menyiapkan sama sekali dirinya akan bertemu tuan Louiston kembali.


"Terapinya bisa dari rumah kan?" Tanya Vero.


"Tentu saja tuan tergantung dari pihak keluarga."


"Baiklah kami akan membawa mereka kembali." Saut Arkan.


Dokter mengangguk lalu menyiapkan surat pemulangan dari pihak rumah sakit. Lexter kembali duduk di kursi tunggu dan melihat Lexsa keluar dari ruangan.


"Kemari," pria itu menjemput Lexsa untuk duduk disampingnya.


"Apa yang sakit?" Tanya Lexter sembari memegang kepala gadis itu.


Gadis itu melihat sekitar dan hanya ada Vero disana, ia tak melihat tuan Louiston.


"Tuan Louiston masih di dalam menjalani pemeriksaan," ucap Vero seolah tau maksud Lexsa.


"Ah ya begitu rupanya, baguslah."


Lexter terus mengusap kepala gadis itu hingga membuat Lexsa tersadar tangan pria tersebut diatas kepalanya.


"Aku baik baik saja," ujarnya kembali.

__ADS_1


"Terimakasih."


Lexsa baru pertama kali mendengar ucapan terimakasih dari mulut pria itu langsung, Lexter bukan orang yang mudah mengatakan hal hal seperti tadi.


"Sudah tugasku," jawabnya.


"Baiklah karena semuanya telah selesai aku harus kembali," saut Vero sembari menatap arloji di tangannya.


"Kau tidak ingin diam lebih lama?" Tanya Lexter.


"Kau merindukanku?" Tanya Vero balik dengan nada ejekan.


Lexter diam, ia tak ingin bertengkar dengan pria itu jika bukan karena keluarganya entah apa jadinya Lexter sekarang.


"Katakan terimakasih kepada keluarga Salvatrucha aku berhutang budi pada mereka," ucap Lexter.


"Keluarga ku sudah menganggap mu keluarga kau saja yang acuh pada mereka."


"Kenapa pergi cepat sekali tuan muda?" Tanya Lexsa.


"Keluarga Salvatrucha tidak boleh berada ditempat ini, biarkan polisi menganggap ini pertengkaran antara keluarga La Cosa Nostra dengan tuan Pandev William."


"Ahh bagitu rupanya."


"Biarkan Arkan mengantar mu sampai bandara," saut Lexter lagi.


"Tidak perlu helikopter sudah menunggu ku diatas." Ujarnya.

__ADS_1


***


Hay semuanya jangan lupa dukung author dong ah, ngga semangat nih


__ADS_2