
Singkat waktu malam pun tiba, Lexsa telah di dandani sedemikian rupa agar terlihat cantik untuk memikat pria pria ditempat pelelangan.
Madam Choo sempat ingin mengambil alih tempat rias namun Madam Sina tidak mengizinkan itu sebab dandanan dari Madam Choo terlihat natural bukan seperti penggoda.
"15 menit lagi kita berangkat," ucap Madam Sina.
"Madam bisakah aku menemui papa, mama, serta adikku sebelum aku pergi?"
"Oh sayang kenapa kau masih memikirkan keluarga serakah itu hm? Mereka yang membawa mu kemari," ujarnya.
"Hanya ingin bertemu saja madam."
Lexsa bukan mau menuntut alasan mereka membuang dirinya ke tempat sampah seperti ini hanya saja dia ingin melihat wajah wajah itu untuk terakhir kali.
"Kau jangan khawatir gadis kecil keluarga mu sudah menunggu di depan."
"Biarkan aku menemui mereka."
Madam Sina mempersilahkan dengan sopan disertai senyum manis sebab ia akan mendapat bayaran 10 kali lipat dari hasil kerjanya.
Lexsa bergegas keluar dengan gaun hitam yang ia kenakan, Lexsa yang terkenal gadis natural dan tidak terlalu menyukai dandanan tebal sekarang berbanding terbalik.
Tak...tak...tak
Suara hak sepatu yang ia kenakan perlahan terdengar di telinga tuan Patricia, ketiganya berdiri untuk menyambut Lexsa.
"Hai kak Lexsa," sapa Katherine adiknya.
__ADS_1
Lexsa menyambut dengan senyum setipis mungkin.
"Lexsa bagaimana kabarmu?" Tanya tuan Patricia
"Cihh masih berani menanyakan hal itu padaku pa?"
"Lexsa baru beberapa hari keluar dari rumah mulutmu sudah berani lancang!" Saut nyonya Patricia.
"Tuan dan nyonya kalian siapa berani berbicara soal sikap ku?"
"Kami...."
Tuan Patricia melarang istrinya melanjutkan kalimat sebab Lexsa yang sekarang bukanlah Lexsa dengan gadis polos.
"Katherine bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, dimana kakakmu?"
"Ellen juga kakakmu Lexsa!!" Tegur nyonya Patricia.
"Sejak kapan kalian menjadi keluarga ku? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan sejak kau mengeluarkan ku dari rumahmu?"
Ketiganya terdiam namun tanpa wajah penyesalan sebab tujuan utama tuan Patricia datang ke tempat itu bukan untuk menemui Lexsa melainkan mengambil uang dari hasil penjualan putrinya.
"Dengarkan aku tuan dan nyonya mulai detik ini kalian tidak akan pernah melihat Alexandra Larossa sebagai gadis kecil penurut, Alexandra Larossa sekarang gadis penghibur yang bisa saja menjadikan putri pertama mu sebagai mangsa selanjutnya!!"
Plakk!!
__ADS_1
Nyonya Patricia langsung menampar Lexsa dengan keras, Ellen tidak akan pernah menyentuh tempat sampah seperti yang Lexsa injak sebab Ellen merupakan putri kesayangan keduanya.
"Tutup mulutmu atau aku akan..."
"Akan apa nyonya? Kau akan menamparku lagi?"
"Nyonya sebaiknya kau tidak melakukan itu," saut Madam Sina yang datang setelah mendengar keributan diluar.
Lexsa mengambil koper di ujung sana dan kembali berjalan menuju tuan Patricia.
"Mau menghargai ku dengan satu koper uang sialan ini kan? Ambil dan pergilah!!"
Ia yakin koper itu berisi uang sebab tadi malam ia melihat Madam Sina menaruh uang disana.
Gadis ini benar benar berbeda dari perkiraan ku, ketika gadis lain menangis dan merengek ingin pulang tapi tidak dengan Lexsa yang memberikan uangnya langsung, batin Madam Sina.
"Terimakasih putriku kau memang sangat mengerti kebutuhan kami," ucap nyonya Patricia seakan-akan lupa dengan segala hal ketika melihat uang di dalam koper.
"Pergilah!!"
Ketiganya pergi setelah mendapat uang, Katherine masih ingin melihat kakaknya tapi tuan Patricia memaksanya melangkahkan kaki keluar.
"Aku berjanji akan membawa Ellen ke tempat ini, kau tenang saja dia akan ku hargai 10 kali lipat dari harga ku!!"
Nyonya Patricia ingin kembali untuk menampar Lexsa namun tuan Patricia melarang keras dan lebih memilih pergi.
__ADS_1