
"A-aku akan ke kamar," ucap Lexsa.
"Tunggu sebentar!"
Lexsa yang sudah mengangkat tubuhnya kembali duduk pelan di sofa.
"Ikuti aku ada yang perlu dibicarakan denganmu."
Lexsa mengangguk pelan dan mengikuti Lexter dari belakang, diam diam Arkan mendengar pembicaraan mereka dan membuat pria itu tersenyum manis.
'Kedatangan nona Ellen ada untungnya juga untuk kalian, tuan muda aku tau kau tidak ingin membuat nona Lexsa salah paham kan, akhirnya sebentar lagi kau akan menjalani hidup baru setelah sekian lama menderita' batin Arkan.
Sepertinya pria itu paham apa yang sedang dirasakan Lexter sebab ia memperhatikan kegundahan hati pria itu sejak awal kesalahpahaman ini dimulai.
Ceklek
Lexter mengunci pintu salah satu ruangan yang sering ia kunjungi akhir akhir ini, Lexsa sering memperhatikan pria itu masuk kesana.
"Kau menyukai lukisan," ucap Lexsa sembari menatap beberapa coretan disana.
"Ayahku yang membuatnya," ujar Lexter.
Lexsa langsung mengerti ucapan pria itu mengarah kemana.
"Bagaimana karakter ayahmu?" Tanya Lexsa.
"Sangat baik dan lembut dia pria yang sangat mencintai keluarganya. Ibuku adalah orang paling beruntung mendapat suami seperti ayahku."
"Kenapa begitu?"
"Ibuku hanya gadis desa yang miskin, dia datang ke kota juga hanya bekerja sebagai kasir di supermarket tapi ayahku jatuh cinta karena sifatnya yang baik dan parasnya yang cantik."
"Ibuku juga dari desa tapi sayang nasibnya tidak terlalu baik di kota," ujar Lexsa dengan sendu.
"Kenapa dengan ibumu?"
"Meninggal dan dalangnya adalah mama tiriku sendiri tapi aku tidak bisa membuktikannya, aku terlalu lemah."
__ADS_1
Lexter berjalan menuju etalase kecil tempat penyimpanan foto foto peninggalan keluarganya lalu mengambil salah satu.
"Ibuku sering bercerita tentang kehidupannya di desa, dia menceritakan soal keluarga dan teman temannya."
"Kau tau? Percaya atau tidak ibuku juga sama seperti ibumu dia selalu menceritakan temannya bahkan mereka berjanji jika memiliki anak laki laki dan perempuan mereka akan menjodohkannya tapi sayang sekali mereka berpisah setelah ibuku merantau ke kota."
Keduanya berbagi cerita satu sama lain tentang keluarga, Lexter sangat nyaman mendengarkan Lexsa bercerita sebab gadis itu tidak menunjukkan rasa kasihan justru ia juga menceritakan kisah hidupnya.
"Lihat ini ibuku," ucap Lexter.
Lexsa berbalik badan dan melihat foto seorang gadis dengan gaun mewah bak permaisuri zaman dahulu kala, terlihat sangat cantik dan anggun.
"Wajah ibumu terlihat tidak asing," ucap Lexsa.
"Maksudmu?"
"Tunggu aku sebentar," kata Lexsa dan membuka pintu lalu berlarian menuju kamarnya.
Gadis itu mengambil kalung dari laci dan kembali berlari menuju kamar tadi.
"Ini ibumu?" Tanya Lexsa sembari membuka mata kalung yang memperlihatkan foto seorang gadis di dalamnya.
"Ini kalung ibuku kemanapun aku pergi kalung ini tidak pernah lepas dari tanganku," jawabnya.
Lexter berpikir itu tidak masuk akal namun ia melepas bingkai foto ibunya lalu mencari sesuatu dibeberapa kotak.
"Apa yang kau cari?"
"Seharusnya ada disini," ujarnya.
Lexter tak ingin menyerah dan terus mencari benda itu sampai akhirnya ia menemukan kotak kayu lusuh di dalam laci paling pojok.
Lexsa membulatkan mata setelah melihat kalung yang sama di tangannya dan Lexter, gadis itu segera mengambilnya dan membuka kalung tersebut.
Kali ini keduanya sangat terkejut hingga terbelalak melihat foto kedua orang tua mereka sedang berpelukan dengan tawa cerah.
"Me-mereka…."
__ADS_1
"Mereka berteman," ucap Lexter.
"Apa ini hanya kebetulan."
"Mungkin saja tapi aku bersyukur bisa menemukan mu, ibu selalu meminta ku bertemu temannya sebelum meninggal."
Lexsa hanya bisa tersenyum dan masih belum menyangka bisa menemukan jawaban dari kalung yang ibunya berikan padanya.
"Aku harus menjagamu Lexsa, mulai besok pagi berikan surat resign ke La Cosa Nostra Group kau tidak perlu bekerja lagi."
"Tidak tuan muda aku menolak, jika ibumu meminta mu menjagaku maka ibuku meminta ku membantumu," ujar Lexsa dengan tegas menolak.
"Tapi…"
"Tidak tuan muda aku tetap pada pendirian ku."
"Baiklah tapi ada syaratnya,"
"Mulai hari ini panggil namaku saja tidak perlu seperti atasan dan bawahan."
"Ahh lidahku akan dipotong oleh tuan Arkan."
"Aku yang lebih dulu memotong lidahnya."
"Baiklah tuan muda aku tidak ingin berdebat."
"Kau memanggilku apa tadi?"
"Le-lexter," ucapnya terbata bata.
"Baguslah."
"Baiklah aku kembali ke kamar terlebih dahulu, aku lelah seharian bekerja."
Lexsa memegang gagang pintu namun telapak tangan pria itu menggenggam tangan Lexsa.
"Tunggulah sebentar lagi kau tidak akan bekerja keras seperti ini," ucap Lexter sembari mengelus rambut gadis itu.
__ADS_1
Wajah Lexsa langsung memerah, ia mengangguk dan segera pergi dari ruangan tersebut.