GADIS LELANG

GADIS LELANG
bab 32


__ADS_3

"Bisa dikatakan dia takut kau naik terlalu tinggi dan melampauinya," ujar Lexsa.


"Projek apa yang dia inginkan?"


"Dia ingin kalian bekerjasama membangun pulau kosong yang sudah kau tanda tangani tadi bersama nona Ellen," jawab Lexsa.


"Sudah kuduga."


"Jadi bagaimana tuan muda?"


"Baiklah tidak masalah."


Lexsa menganggukkan kepala namun pikirannya kembali pada kunci tadi di brankas.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Lexter saat menyadari ada yang sedang dipikirkan oleh Lexsa.


"Lihat ini tuan muda."


Lexsa memberikan gambar yang tadi ia foto di ruang brankas dan Lexter membulatkan mata saat mendapat gambar itu dari Lexsa.


"Darimana kau mendapatkan ini?"


"Tuan Pandev mengajak ku keruangan brankas untuk mengambil berkas lalu aku melihat ini, dia menggunakan berkas palsu selama ini untuk kepemilikan perusahaan."


"Aku juga menemukan sebuah pintu namun terkunci, aku menyadari sesuatu sekarang tuan muda karena aku sempat menabrak pajangan bunga dan di dalam pas nya terdapat kunci disana, mungkin kita bisa mengetahui isi ruangan itu."


"Kau mengetahui sandi brankasnya?"


Lexsa mengangguk dan menuliskan sandi brankas itu pada kertas di meja kerja.

__ADS_1


"Kau tidak salah?" Lexter tampak bingung saat melihat angka angka yang ditulis oleh Lexsa.


"Tidak memangnya kenapa?"


"Ini tanggal bulan dan tahun lahir ku," jawab Lexter.


"Mungkin karena ayah tuan muda adalah pemilik La Cosa Nostra Group oleh karena itu sandinya tanggal lahir putranya sendiri dan tuan Pandev belum menemukan cara untuk mengubah sandinya."


"Benar juga."


Beberapa saat keduanya terdiam, Lexsa masih dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan Lexter.


"Aku lapar," ucap Lexsa tiba tiba.


"Baiklah ayo makan."


Keduanya keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju dapur, suara perut Lexsa terdengar saat melihat sajian makanan memenuhi meja makan.


"Makanlah," ucap Lexter.


Lexsa mengangguk dengan cepat dan mengambil piring beserta sendok makan.


"Tuan muda Arkan!!" Teriak Lexsa.


"Aku mendengar mu kenapa harus berteriak!!" Ucap Arkan dari kamarnya.


"Upss maaf, ayo keluar makan malam atau aku akan menghabiskan makanan ini!" Ujarnya dengan tawa jahil.


Lexter sempat menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah Lexsa, sangat berbeda saat berada di ruang kerja tadi. Tidak salah pria itu membawa Lexsa ke rumahnya sebab gadis itu selalu membuat tingkah aneh setiap hari.

__ADS_1


"Ayo tuan muda makan kenapa belum mengambil piring," ucap Lexsa.


Gadis itu tidak sabar menyicipi makanan namun tuan rumahnya belum bergerak sama sekali, Lexsa mengambilkan piring lalu meletakkan makanan.


"Ini tuan muda makanlah."


Lexter mengangguk pelan dan mengambil makanan yang disiapkan oleh Lexsa.


"Bagaimana lezat bukan?"


"Biasa saja," jawab Lexter sebab itu makanan setiap harinya.


"Astaga tuan ini sangat lezat kau bilang biasa saja?"


"Hei cerewet telinga ku masih sakit kau teriaki," saut Arkan ketus.


Lexsa tercengir kuda dan melanjutkan makan tanpa peduli orang orang disekitarnya bahkan ia tak tahu jika Lexter diam diam memperhatikan gadis itu.


"Lexsa," panggil Lexter dengan pelan dan lembut.


Gadis itu tercengang mendengar suara halus dari Lexter keluar bahkan pria itu membersihkan bibir Lexsa yang terkena makanan.


Arkan pun sampai melongo melihat tuan mudanya akan memperlakukan Lexsa seperti itu.


"Te-terimakasih tuan muda," ucap Lexsa dengan malu malu dan mengurangi kecepatan makannya.


Arkan meletakkan sebelah tangannya di kening Lexter untuk melihat apakah ada yang salah dengan otaknya.


"Tidak sakit tapi kenapa kelakuannya seperti itu," gumam Arkan.

__ADS_1


Tak!!


"Aww!!"


__ADS_2