Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
10. PART 10


__ADS_3

Farel mengajak istrinya untuk kembali ke Paris Perancis. Sindy yang sangat heran dengan Farel yang tidak mau mengundang orangtuanya ketika mereka menikah, ia kemudian menanyakan hal itu.


"Mengapa kita harus menikah diam-diam Farel? Bukankah kamu memiliki orangtua?" Tanya Sindy usai menunaikan kewajibannya sebagai istri.


"Cara pandang mereka berbeda Sindy, mereka terlalu mengutamakan kekuasaan dan reputasi dan aku tidak suka itu." Ujar Farel.


"Maksudmu, mereka tidak akan menerima aku karena aku yatim-piatu?"


"Begitulah sayang dan aku tidak mau mereka menolakmu, lebih baik seperti ini, mungkin kalau kita sudah punya anak, mereka akan menerima kita." Ucap Farel dengan wajah sendu.


"Berarti itu artinya, aku tidak diperkenankan masuk ke dalam keluargamu?"


"Sabar sayang, aku akan cari cara untuk bisa membawamu tanpa mereka menolakmu." Ujar Farel lalu mengecup bibir istrinya.


"Tidak apa Farel, aku akan mengikuti apapun keputusanmu karena kamu lebih mengenal keluargamu dari pada aku." Ucap Sindy lalu bangkit menuju kamar mandi.


Farel mengambil ponselnya dan membuka beberapa email penting mengenai perusahaannya.


Tapi hari itu ada pesan untuknya bahwa dua hari lagi ada meeting. Farel di butuhkan dalam meeting penting itu. Mau tidak mau ia harus menghadirinya.


Kini Sindy tinggal bersama Farel di apartemen suaminya. Sedangkan apartemen miliknya dibiarkan begitu saja karena banyak barang yang tidak bisa dia angkut ke apartemen suaminya. Siang itu Sindy memasak untuk mereka berdua. Gadis ini memang jago memasak. Ia selalu membuat masakan apa saja jika sudah libur.


Ia menyiapkan steak salmon fillet dan ayam panggang dan capcay goreng.


Hidangan yang dihias dengan indah cukup untuk mereka berdua. Keduanya makan siang bersama.


"Sayang, dua hari lagi aku harus ke Jakarta karena ada meeting penting. Apakah kamu mau ikut?" Tanya Farel.


"Aku masih ada show di berbagai Iven untuk mode pakaian baru."


"Tapi bukan pakaian dalam kan sayang?"


"Tidak, semuanya masih dalam batasan sopan." Jawab Sindy.


"Tidak apa, jika aku harus meninggalkanmu sendirian di sini?"


"Tidak sayang, berangkatlah. Semoga cepat kembali."


"Tentunya, aku akan merindukanmu, jika bisa aku ingin kamu ikut denganku karena meetingnya hanya sehari dan kita bisa kembali bersama." Farel sedikit menghiba.


"Jika aku ikut denganmu apakah aku juga akan dibawa ke rumahmu?" Tanya Sindy ragu-ragu.


"Untuk sementara di apartemen milik aku saja. Aku belum siap memperkenalkan dirimu pada kedua orangtuaku, setidaknya aku sudah menikah denganmu." Ujar Farel.


"Mengapa kamu sangat buru-buru menikah dengan aku, jika mentalmu saja belum siap untuk bertemu dengan orangtuamu?" Tanya Sindy sedikit kecewa.


"Aku ingin menyentuhmu tanpa rasa bersalah dan kamu itu seperti belut, gampang kabur, kalau tidak diikat dengan pernikahan kamu seenaknya meninggalkan aku." Timpal Farel.


"Kau ini selalu saja buat peraturan sendiri."


"Karena kamu susah diatur dan pintar kibulin orang. Mencarimu seperti mencari jarum dalam jerami. Beruntungnya, malam itu kamu melihat mantan pacarmu itu sehingga aku dapat di manfaatkan oleh kamu, kalau tidak belum tentu kita bertemu."

__ADS_1


"Cih, semua itu kebetulan."


"Memang saatnya kamu harus ditangkap oleh aku sendiri."


Keduanya terkekeh mengenang bagaimana mereka bisa sampai bertemu.


"Sayang, pikirkan lagi tawaranku untuk berhenti bekerja menjadi model, karena aku ingin kamu kembali menjadi dokter jauh lebih terhormat." Pinta Farel.


"Cukup setahun ini saja sayang selebihnya aku akan mempertimbangkan lagi permintaanmu. Jika aku kembali sekarang, aku merasa selalu teringat dengan dokter sialan itu.


"Tolong jangan bahas itu lagi, bila ingin kembali menjadi dokter, lupakan masa lalumu dengan begitu kamu akan lupa sejalannya waktu, percayalah padaku, oh ya benar kamu tidak ingin ikut ke Jakarta?"


"Maafkan aku Farel, kalau terlalu mendadak aku tidak bisa izin." Ujar Sindy.


"Sayang, ayo kita ke kamar lagi." Pinta Farel.


"Apa?" Lagi?" Tanya Sindy seraya merotasi mata malas.


🌷🌷🌷🌷🌷


Dua hari kemudian, Sindy sudah terlebih dahulu ke lokasi pemotretan. Dua jam kemudian Farel sudah berangkat ke bandara untuk terbang kembali ke tanah air.


Ia berangkat dengan perasaan yang sangat malas. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Sindy disisinya. Tidak adanya wanita itu membuat dirinya merasa ada yang kurang lengkap.


Ko pilot dan pramugari menyambutnya ketika Farel menaiki tangga pesawatnya.


"Selamat pagi Tuan, selamat datang kembali." Ucap mereka serentak.


"Tuan kami mempunyai hadiah pernikahan untukmu, kami harap anda mau menerimanya. Hadiahnya ada di kamar anda." Ucap ko pilot dengan ekspresi wajah serius.


"Mengapa kalian harus repot menyiapkan semuanya, aku sangat tidak enak." Ucap Farel dengan langkah malas menuju kamar pribadinya.


Saat ia membuka pintu kabin itu, ia dikejutkan dengan sosok bidadari yang dari tadi memenuhi pikirannya.


"Sayang!" Pekik Farel ketika melihat Sindy menyambutnya dengan gaun lengerie yang begitu se*si.


"Selamat ulang tahun suamiku." Ucap Sindy tersenyum manis pada suaminya.


"Ini hadiah terindah yang pernah aku miliki, sayang aku senang banget dengan suprise darimu. Kau hampir membuatku mati hari ini." Ucap Farel yang sudah berada di atas tubuh istrinya.


"Nggak jadi matikan sayang?" Tanya Sindy yang sudah melepaskan dasi suaminya.


Dalam sekejap Farel sudah melempar semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Dengan semangat ia menghampiri Sindy yang sedang menggoda dirinya dengan pose yang menantang seakan saat ini Sindy sedang memperagakan gaun tidur diatas kasur empuk.


Farel mengatupkan rahangnya melihat ekspresi menggoda milik istrinya.


"Kamu akan aku lahap sayang." Ucap Farel lalu melu**t bibir istrinya dengan sangat rakus.


Pagutan bibir itu menyusup masuk ke dalam rongga mulut istrinya. Kedua tangannya mengusap bongkahan bok**ng indah istrinya.


Permainan panas berlangsung seru pagi itu. Erangan dan lenguhan panjang terdengar bersama dengan gemuruh mesin pesawat yang sudah mengangkasa membawa keduanya ke langit biru.

__ADS_1


Desa**n menggema dari mulut Sindy ketika suaminya terus menerus menghajarnya dengan kenikmatan. Teriakan keduanya bersamaan dengan datangnya getaran yang menciptakan sensasi yang menyebarkan kenikmatan ke seluruh tubuh mereka hingga nafas keduanya terengah-engah dan peluh yang membanjiri tubuh mereka pagi itu.


"Kamu gila sayang, ucap Farel karena permainan panas pagi itu lebih dikuasai oleh Sindy. Kebahagiaannya terasa sempurna karena merayakan ulang tahun bersama sang istri dengan hadiah yang begitu hebat.


Pelayanan yang di berikan Sindy di luar dari ekspektasinya karena seminggu menikahi gadis ini, baru kali ini ia merasakan kepuasan yang tiada Tara.


"Maafkan aku sayang karena telah menjebakmu dengan cara membohongimu. Ketika kamu pamit untuk kembali ke tanah air aku sedikit kecewa karena aku ingin merayakan ulang tahunmu di apartemen kita. Tapi tempatnya jadi berubah karena kamu memiliki jadwal lain." Ucap Sindy sambil memeluk suaminya.


"Di maafkan sayangku, karena hari ini aku sangat bahagia dengan kejutan darimu, makanya aku tidak akan marah tapi akan menghukummu." Ucap Farel tersenyum nakal di hadapan istrinya.


"Hukuman apa itu sayang?" Tanya Sindy tidak mengerti.


"Tentu saja hukuman yang sama yang barusan kita lakukan tadi." Ujar Farel.


Sindy tersenyum malu, wajahnya bersemu merah dengan hati yang saat ini sudah memiliki satu taman bunga terindah yang sedang bermekaran.


Aroma wangi yang berasal dari tubuh Sindy sangat merangsang suaminya untuk melakukan lebih.


Sindy memiliki perawatan sendiri untuk tubuhnya. Perawatan kecantikan yang dilakukan dari dalam dengan meminum jamu tradisional Indonesia yang dibuat dalam kemasan. Ini sudah di lakukan sejak dulu sebelum ia menikah.


Jadi aroma itu berpengaruh pada tempat sensitifnya hingga membuat suaminya tidak jenuh berada di bawah tubuhnya. Bukan hanya khasiat yang dihasilkan dari ramuan herbal itu yang menjadi masalahnya, rasa sempit dan cengkraman hingga sang suami menagih kembali padanya untuk terus melakukan penyatuan tubuh mereka.


Farel tidak menemukan itu pada wanita lain. Sindy adalah satu-satunya wanita yang membuatnya sangat betah berlama-lama bercinta dengan wanita ini.


Sesi kedua dan ketiga sudah mereka lalui. Kini keduanya kembali beristirahat dengan tetap dalam keadaan tubuh yang masih polos kecuali selimut yang menutupi setengah tubuh mereka.


"Ternyata merayakan ulang tahun diatas awan lebih nikmat ya sayang." Ujar Farel.


"Karena ulangtahunnya dirayakan denganku makanya lebih berkesan sayang." Ujar Sindy.


"So pasti cantik, kamu tak tergantikan. Aku rela melakukan apapun asalkan tetap bersamamu sampai menjelang ajalku." Ujar Farel.


"Jangan katakan itu Farel, karena aku bosan dengan hidupku yang berjuang sendirian seumur hidupku tanpa orang-orang tercinta dalam hidupku, ayahku meninggal saat aku masih dirahim ibuku. Lalu ibuku menikah lagi dengan orang Belanda ketika usia tiga tahun.


Awalnya berjalan dengan baik pernikahan mereka. Tapi saat usiaku enam tahun, ayah tiriku menjadi seorang alkoholik dan sering memukul ibuku karena rasa cemburunya yang berlebihan.


Ibuku lalu meminta cerai padanya lalu membawaku pergi dari Belanda dan kembali ke Indonesia.


Namun sayang, usia ibuku tidak cukup untuk menemaniku sampai aku remaja. Ia meninggal dunia karena menderita kanker lalu meninggal setelah usiaku sembilan tahun. Aku harus hidup di panti asuhan karena tidak ada saudara dari keluarga mendiang orangtuaku yang mau menampungku dan aku dibesarkan di panti asuhan sampai aku lulus SMA.


Sejak saat itu, aku berusaha untuk menjadi seorang yang berguna setidaknya, aku bisa menghidupi diriku sendiri.


Aku mencapai semua karirku walaupun harus menebus dengan sebuah kesalahan atas sebuah dosa yang tak termaafkan oleh diriku sendiri." Sindy mengisahkan kisah hidupnya yang sangat menyakitkan untuk dirinya.


"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Aku akan memberikanmu banyak anak agar kamu tidak kesepian saat aku jauh mengurus bisnisku di luar negeri." Ucap Farel.


Sindy mengambil kue ulang tahun untuk mereka di kulkas yang ada di dalam kabin pesawat itu. Keduanya menikmati kue ulang tahun yang belum sempat diberikan oleh Sindy pada suaminya yang berulang tahun hari ini.


"Cobalah kue ulang tahunnya karena aku yang membuatnya sendiri sayang," Ucap Sindy.


Farel memotong kue itu lalu menyuapkan ke istrinya. Sindy juga ikut menyuapkan potongan kue itu untuk Farel lalu keduanya kembali berciuman.

__ADS_1


__ADS_2