
Sindy melakukan USG sendiri dengan menggunakan USG portabel yang dibelinya. Ia melihat pertumbuhan janinnya yang kini sudah berusia lima bulan.
Sindy mengetahuinya jika usia kandungannya sudah memasuki lima bulan, semua organ tubuh bayi sudah mulai terbentuk beserta jenis kelamin yang sudah terlihat.
Di usia lima bulan, janin dalam kandungan bisa merasakan berbagai sensasi, bahkan ia mampu mengenali lingkungan di sekitarnya. Secara fisik, alis mata dan rambut halus yang sifatnya sementara mulai tumbuh di kepala. Rambut ini akan rontok setelah dua minggu Si Kecil lahir.
Sindy tersenyum bahagia, melihat pergerakan janinnya namun tidak terlihat jelas kelaminnya karena masih diapit oleh kedua paha bayinya.
"Kau ini pelit sekali sama mamamu sayang, " ucap Sindy dengan terus menggerakkan alat USG itu.
Setelah puas menatap bayinya dilayar portabel itu Sindy membersihkan lagi jeli yang melekat diperutnya dengan tisu basah.
Ia kemudian memasak makanan kesukaannya, udang saus tiram dan spaghetti carbonara.
Tidak lama kemudian, ada tamu yang sedang menekan bel pintu rumahnya, ia pun mematikan kompornya lalu menghampiri pintu utama.
Ting tong..!"
Sindy menanyakan tamu itu dari dalam rumahnya, sebelum ia membuka pintu itu dan ternyata tetangga yang ada di seberang rumahnya.
"Selamat petang nona!" Sapa Remon pada Sindy.
"Petang Tuan...?" Sindy belum mengetahui nama tetangganya ini walaupun sudah sering melihat lelaki ini.
"Remon!" Pria tampan ini memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya menyalami Sindy.
"Maaf saya tetangga anda dan saya penasaran dengan anda yang ternyata tinggal sendiri dalam keadaan hamil." Remon berbicara dengan menatap perut Sindy yang sudah mulai kelihatan membesar.
"Saya Sindy!" Ucap Sindy dengan wajah datar.
"Boleh saya masuk?" Tanya Remon.
"Maaf Tuan ini sudah malam." Ucap Sindy yang tidak berkenan tamunya ini ingin bertamu di rumahnya.
"Ini baru jam tujuh sore." Ujar Remon yang merasa hari masih sore karena di luar negeri jam tujuh malam masih di anggap sore oleh mereka.
"Agamaku tidak memperkenankan seorang laki-laki bertamu di rumah wanita yang sudah menikah bukan waktu yang dipermasalahkan di sini, kamu mengerti Tuan!" Sindy menghardik tamunya yang keras kepala ini.
"Ok, tidak masalah nona Sindy, maafkan saya karena saya mengira anda seorang janda." Remon meninggalkan Sindy dengan perasaan kecewa.
Sindy menutup pintunya dengan kasar, ia tidak terlalu suka dengan Remon yang menganggapnya perempuan gampangan yang mudah di kencani.
"Brengs*k!" Kamu kira kamu siapa datang seenaknya menganggu hidupku." Sindy melahap spaghettinya seperti melahap lelaki yang telah membuat moodnya berubah.
Walaupun telah berpisah dengan suaminya, namun ikatan mereka masih sah karena tidak ada jatuh talak.
Sindy meneruskan lagi makan malam yang sedikit tertunda karena ulah Remon. Iapun berpikir untuk mencari lagi rumah lain karena takut Remon akan datang merayunya lagi.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Usia kandungannya memasuki tujuh bulan, kini Sindy pindah ke kota Rotterdam Belanda. Ia mencari rumah yang cukup besar karena ia butuh pelayan di rumah itu untuk membantunya karena perutnya makin hari makin membesar.
Ternyata mencari pelayan di luar negeri bayarannya cukup mahal membuat gadis ini menolak untuk menerimanya.
"Ade, semoga kita kuat hidup berdua, tolong jangan repotin mama, ya sayang." Ucap Sindy sambil mengusap perutnya.
Ia memulai hari-harinya dengan membaca banyak buku kedokteran. Terkadang ia berkebun dan memasak makanan kesukaannya hanya untuk membuang rasa jenuhnya.
Dengan beraktivitas ia melatih otot-otot perutnya agar melahirkan nanti dengan mudah.
Sindy membuka gerbang pintu pagarnya agar mobilnya dapat keluar. Mobil berhasil keluar kemudian ia buru-buru menutup pintu pagarnya lagi.
Seorang ibu yang sudah cukup tua menyapanya pagi itu ketika ia hendak pergi keluar untuk belanja keperluannya.
Nenek Leticia yang sedang berjalan pagi bersama dengan anjing kesayangannya. Anjing nenek Leticia kelihatan sangat lucu, namun Sindy tetap takut dengan binatang satu itu, apa lagi agamanya melarang untuk mendekati anjing karena liur anjing adalah najis.
Nenek Leticia yang mengerti jika Sindy takut dengan anjingnya, walaupun anjing nenek Leticia berjenis anjing corgi.
Corgi adalah jenis anjing kecil yang menakjubkan dan menjadi favorit banyak orang. Anjing corgi tumbuh sekitar 30 cm dan berat 14 kg. Ia adalah anjing pendamping yang sangat penyayang.
"Selamat pagi nona!" Sapa nenek itu pada Sindy yang mau masuk ke mobilnya lagi.
"Pagi juga nenek!" Ucap Sindy santun.
"Nona, apakah anda tinggal di sini? "Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Tanya nenek Leticia.
"Aku juga tinggal sendirian, suamiku sudah meninggal dunia setahun yang lalu dan kedua putraku sudah menikah dan menetap di Den Haag dan juga di Amsterdam." Nenek Leticia menceritakan kehidupannya kepada Sindy.
Sindy menjawab pertanyaan nenek Leticia seadanya karena sifat introvertnya belum juga hilang dari dirinya.
Nenek Leticia mengerti melihat gestur tubuh Sindy yang kelihatan begitu hati-hati bicara dengannya.
Tidak semua orang yang baru kenal dengan orang lain, mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Itu yang dipikirkan nenek Leticia mengenai Sindy.
Keduanya berpisah dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Nenek Leticia, melihat mobil Sindy menjauhi pergi dari tempatnya berdiri.
"Apakah dia singel parents ataukah suaminya seorang pelayaran atau mungkin tentara yang harus bertugas di luar negeri?" Gumam nenek Leticia.
Nenek Leticia meneruskan lagi jalan paginya bersama anjingnya yang bernama Popy.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di Jakarta Farel menerima telepon dari Anak buahnya.
"Hallo bos !" Sapa salah satu anak buah Farel.
"Ada apa?" Tanya Farel dengan intonasi suara datar.
__ADS_1
"Saya sudah menemukan seorang wanita yang mirip dengan istri anda Tuan hanya saja...?" Andi menghentikan perkataannya karena merasa ragu-ragu dengan apa yang dilihatnya.
"Apakah kamu bisa meneruskan kata-katamu Andi!" Farel membentak anak buahnya Andi.
"Gadis itu sedang hamil besar Tuan, mungkin sekitar enam atau tujuh bulan dan wajahnya sedikit tertutup dengan syal yang dililitkan ke lehernya, jadi saya tidak begitu jelas melihat wajahnya." Ucap Andi.
"Di mana kamu menemukannya? apakah saat ini kamu sedang mengikutinya?" Tanya Farel kegirangan.
"Iya Tuan! ia sedang berbelanja, sepertinya sedang mencari keperluan bayi." Ucap Andi.
"Kita video call dan arahkan ponselmu kepadanya! supaya aku tahu, apakah itu benar istriku atau bukan." Titah Farel kepada anak buahnya penuh semangat.
Sesuai perintah bosnya, Andi mengarahkan ponselnya ke Sindy yang saat ini sedang melihat-lihat baju bayi. Wajah Sindy yang semakin cantik dengan perutnya yang cukup besar namun tubuhnya tetap profesional. Walaupun menggunakan mantel coklat yang dibiarkannya terbuka namun perutnya terlihat sangat jelas oleh Farel.
Farel hanya termangu melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan saat ini, sekaligus sangat ia cintai. Tidak terasa air matanya menetes membasahi wajahnya yang kini dihiasi jambang dan tak terurus karena kepergian istrinya yang kabur darinya.
"Sindy sayang..!" Aku merindukanmu." Ucapnya dengan suara parau menahan tangisnya yang hampir pecah.
Ingin rasanya ia mengatakan kepada Andi, agar anak buahnya itu menyambungkannya dengan Sindy namun ia takut wanitanya itu akan kabur lagi.
"Ya Tuhan, dia sedang mengandung anakku, anak kami. Ah, sayang andai saja aku langsung bisa masuk ke ponsel ini, aku akan memelukmu dan membawamu pulang." Farel menatap terus wajah istrinya ketika Sindy sudah berada di meja kasir.
Andi memperbesar wajah Sindy agar terlihat lebih jelas oleh Farel. Farel juga tidak lupa melakukan screenshot agar foto wajah cantik istrinya terekam dalam ponselnya.
"Andi! ikuti terus dia, sampai ke tempat tinggalnya sekarang." Pinta Farel kepada anak buahnya ketika Sindy sudah selesai dengan belanjaannya.
Sindy yang memang sengaja membawa mobilnya sendiri karena ia tidak ingin naik turun tranportasi umum. Mobilnya melaju dengan kecepatan rata-rata menuju rumahnya.
Andi mengambil foto rumah Sindy dan mengirimkannya kepada Farel.
Hari itu juga Farel sudah berada di bandara untuk melakukan perjalanan ke Amsterdam Belanda untuk menjumpai kekasihnya setelah tahu keberadaan Sindy saat ini.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu, kita akan kembali bersama. Aku akan menjenguk anakku, sayang,... rasanya saat ini aku ingin menghukummu karena kamu telah membuatku hampir mati ketakutan." Farel bermonolog.
Di kediaman Sindy, gadis ini merapikan belanjaannya dan baju-baju bayinya disusun dengan rapi di lemari pakaiannya.
Setelah merapikan segalanya lalu ia menyeduh susu ibu hamil. Sindy menikmati setiap tegukannya, lalu duduk bersandar di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.
"Oh lelahnya sayang," Ucap Sindy dengan meletakkan kembali gelas susu di atas meja.
Sindy membaca buku kedokteran yang juga ia beli tadi di toko buku. Walaupun saat ini ia belum terjun lagi ke profesi dokternya, namun dirinya tidak berhenti belajar. Kelebihan sindy yang hampir mengusai sepuluh bahasa negara yang berbeda membuat dirinya mampu menelaah setiap bacaan buku-buku yang berbau dunia kedokteran.
Ia terus mengasah kemampuannya dengan lebih banyak mengetahui kemajuan teknologi canggih dalam menangani wanita hamil yang bermasalah dengan penyakit bawaan mereka.
Setiap negara memiliki teknik penyelesaian setiap kasus ibu hamil dengan cara yang berbeda-beda dan itu membuat Sindy sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam perkembangan jaman dalam mengusai dunia kedokteran khususnya dalam menangani ibu hamil.
Karena kelamaan membaca buku, iapun meletakkan kembali buku itu di meja di samping sofa panjang yang ia tiduri saat ini.
Ia kemudian memejamkan matanya karena kantuk menyapanya saat tubuhnya tidak kuat lagi menahan kelelahannya hari ini.
__ADS_1