
Tiba lagi di tanah air setelah setahun lebih berpisah dengan ibu Pertiwi ini. Pesawat mereka tiba pukul satu pagi dini hari. Sindy menapaki kakinya saat turun dari pesawat jet milik suaminya Farel dengan menyebut nama Tuhannya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" Ucap Sindy lalu berjalan menuju mobil yang telah menunggu mereka.
Asisten Rendy yang menjemput sendiri Tuannya. Rendy tersenyum melihat Farel berhasil juga mendapat lagi miliknya yang hilang.
"Selamat datang bos!" Sapa Rendy seraya membuka pintu untuk Farel dan Sindy.
"Apa kabar Rendy!" Maaf menganggu tidurmu." Ucap Farel lalu meminta Sindy untuk masuk duluan ke dalam mobilnya.
Sindy yang terlihat masih mengantuk merebahkan tubuhnya kedalam pelukan suaminya, Farel memeluk tubuh itu agar Sindy merasa nyaman tidur dalam pelukannya.
Rendy yang melihat kemesraan keduanya begitu iri dan sekaligus heran karena selama yang ia tahu Farel begitu antipati dengan gadis-gadis yang selalu dikencaninya jika ingin bermanja ria di tubuhnya seperti yang dilakukan oleh Sindy saat ini. Tapi dengan Sindy, Farel begitu hangat dan terlihat sangat melindungi istrinya.
"Bos, apakah Tuan dan Nyonya besar sudah mengetahui pernikahan kalian?" Tanya Rendy sambil mengendarai mobilnya.
"Belum tahu, kecuali kamu yang menceritakannya." Ujar Farel.
"Bagaimana kalau mereka mengetahui istri tuan saat ini bersama Tuan?"
"Saya akan mengatakannya jika sudah ketahuan, lagi pula orangtuaku selama ini mengetahui aku selalu bersama perempuan, mereka tidak akan tahu jika Sindy adalah istriku." Ujar Farel sambil mengeratkan lagi pelukannya pada tubuh istrinya.
"Tapi Tuan tidak pernah berjalan dengan wanita yang sama, Tuan selalu bergonta ganti wanita." Ucap Rendy.
"Aku akan mempertahankan milikku Rendy, karena aku sangat mencintainya, sekali melihatnya malam itu, aku tidak bisa lagi memalingkan hatiku pada wanita lain, dia segalanya bagiku kini." Ucap Farel seraya mengecup kening istrinya.
Sindy mendengar percakapan suaminya dengan asistennya Rendy merasa sangat bahagia. Ia kini yakin bahwa dirinya lah yang menjadi wanita terakhir dalam hidup suaminya.
Tiba di apartemen miliknya, Farel membawa istri ke kamarnya. Sindy yang sudah tidak ngantuk memilih untuk menyalakan televisi.
"Kamu tidak ingin tidur lagi sayang?" Tanya Farel melihat Sindy mengutak-atik channel TV yang ingin ditontonnya.
"Aku sudah tidak ngantuk Farel." Ucap Sindy sedikit merebahkan tubuhnya di atas sofa putih itu.
Farel mendekati tubuh istrinya dan membuka blazer milik gadisnya. Sindy membiarkan apa yang ingin dilakukan suaminya pada tubuhnya.
Setelah pakaian Sindy sudah raib dari tubuh itu, Farel membuka kedua kaki istrinya dan membenamkan wajahnya diantara paha itu.
"Ssstt, akhhhh!" Pekik Sindy tertahan kala Farel mengisap biji kenyalnya.
Berkali-kali Sindy sudah melakukan pelepasan, namun Farel tetap saja mengeksplorasi lidahnya di tempat sempit itu.
"Farel, tolong jangan menyiksaku!" Ucap Sindy dengan nafas tersengal karena nikmat yang diberikan suaminya membuat tubuhnya makin lemas dan kelopak matanya makin berat.
__ADS_1
"Aku ingin membuatmu tidur lagi sayang, karena ini masih jam dua pagi, lebih baik memberikan obat tidur secara alami yang akan membuatmu segar kembali besok pagi." Ujar Farel dengan tangannya yang sudah merambah kedua belahan dada istrinya.
Sindy membiarkan suaminya melakukannya. Ia hanya menerima terjangan dari tubuh suaminya yang kini telah memasuki tubuhnya. Permainan panas itu kembali terjadi di atas sofa panjang yang berwarna putih itu.
Setiap posisi diubah Farel untuk meraih kenikmatan yang hanya sekejap itu. Tubuh keduanya saling beradu. Peluh membanjiri tak terasa menetes berkali-kali.
Farel makin menjadi dan tak pernah kenal lelah menghajar tubuh istrinya. Hampir satu jam lebih, permainan panas itu sudah membuat Sindy kewalahan melayani suaminya.
Hingga akhirnya Farel melepaskan benihnya lalu merengkuh kembali tubuh polos istrinya dengan mengigit leher jenjang itu hingga meninggalkan cetakan merah yang menjadi saksi percintaan mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷
Paginya Farel sudah bersiap untuk berangkat ke perusahaannya mengikuti meeting penting hari ini.
"Sayang, aku tidak akan lama, jika sudah selesai kita akan segera kembali lagi ke Paris Perancis sore harinya. Apakah kamu ingin tetap di sini atau mau keluar jalan-jalan?" Tanya Farel yang saat ini sedang memakai bajunya dibantu sang istri tercinta.
"Aku ingin keluar menikmati kuliner Indonesia yang aku rindukan selama di Paris. Tidak apakan sayang aku pergi keluar sendiri tanpamu?" Tanya Sindy seraya memakaikan koas kaki suaminya.
Farel melihat cara Sindy memperlakukan dirinya seperti anak TK yang mau berangkat ke sekolah yang dibantu ibunya dari memakaikan baju, kaos kaki dan sekarang memasang dasinya.
"Sayang kamu mengurusku seperti aku ini anak kecil." Ujar Farel yang sudah rapi dalam penampilannya.
"Bagi pengantin baru, suami itu anak pertama untuk istrinya yang harus di urus dalam waktu 24 jam." Ujar Sindy yang kembali mengamati penampilan suaminya.
"Allah punya cara sendiri mempertemukan takdir jodoh hambaNya jika waktunya sudah tiba, tidak ada satupun yang bisa menghalangi takdir cinta hambaNya yang sudah ia tetapkan, apakah kamu tidak merasakan itu sayang?" Tanya Sindy yang sekarang mengantarkan suaminya sampai di depan pintu utama apartemen milik Farel.
"Ada mobilku sekitar sepuluh biji di tempat parkir, pilihlah salah satu nya yang kamu mau sayang, semua kunci kontaknya tergantung sesuai urutan parkirnya, lihatlah dari layar CCTV, mobil mana yang kamu sukai untuk menemanimu jalan-jalan mencari kuliner.
Gunakan black card yang sudah aku berikan kepadamu. Jika ada apa-apa denganmu, hubungi aku, ponselku tidak akan aku matikan, jadi jangan segan untuk menelpon aku, aku mencintaimu, muuuacch!" Ucap Farel panjang lebar sebelum meninggalkan istrinya.
"Terimakasih sayangkuh, semoga meetingnya hari ini berhasil, aku akan menantikanmu." Ucap Sindy lalu memeluk suaminya sesaat.
Sindy melihat punggung suaminya sampai menghilang dari pandangannya, ia kemudian masuk lagi ke kamarnya untuk membereskan apartemen suaminya yang sempat berantakan karena ulah mereka berdua yang bercinta tanpa kenal tempat.
Farel memasuki ruang kerjanya, ia memeriksa semua jadwalnya dan juga berkas laporan keuangan perusahaannya yang sudah disiapkan oleh asistennya Rendy.
"Selamat pagi bos!" Sapa Rendy.
"Pagi Rendy, jam berapa kita mulai rapat?"
"Satu jam lagi bos, oh ya Tuan Rasya, ikut juga meeting pagi ini dan Nyonya besar Alya ingin bertemu anda usai meeting." Rendy menyampaikan semua jadwal kegiatan bosnya hari ini.
"Kenapa begitu mendadak Rendy, semalam kamu tidak bilang, bahwa ayahku ikut meeting juga pagi ini dan bundaku mengapa tiba-tiba ingin menemuiku? Biasanya dia sibuk dengan teman-teman sosialitanya." Farel mulai kesal.
__ADS_1
"Mereka baru mengabari saya pagi ini Tuan, jadi saya tidak mengetahuinya jika mereka ingin bertemu dengan Tuan." Ujar Rendy.
"Baiklah, semoga mereka tidak mengacaukan acaraku hari ini karena aku tidak ingin meninggalkan istriku berjalan sendirian di luar sana. Semoga tidak ada yang menganggunya." Farel merasa gelisah Sindy pergi sendiri tanpanya.
Sindy tampak cantik pagi ini. Ia hanya mengenakan celana jins dan kaos coklat muda dan jaket kulit warna coklat tua dengan mengendarai mobil sedan berwarna merah menuju area kuliner yang ingin dicicipinya.
Sebelum menuju ke tempat kuliner, Sindy mengunjungi makam orangtuamu. Ia sengaja tidak ingin mengajak suaminya karena kesempatan suaminya hanya hari ini berada di Indonesia dan akan kembali lagi ke Paris Perancis nanti malam.
Sindy membeli beberapa bunga segar untuk diletakkan di makam kedua orangtuanya.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia lalu berjalan menuju makam di mana kedua orangtuanya beristirahat selamanya di tempat mereka saat ini.
Sindy memperhatikan makam orangtuanya yang tidak terawat. Ia lalu memanggil penjaga makam untuk meminjam sapu dan arit untuk membersihkan makam kedua orangtuanya.
"Permisi mang!" Boleh saya meminjam sapu dan alat untuk memotong rumput seperti arit atau gunting khusus untuk rumput?" Tanya Sindy.
"Kalau mau biar saya saja yang membersihkannya nyonya karena pengunjung lain selalu memakai jasa saya, dari pada tangan nona yang kotor membersihkan dua makam sekaligus." Ucap Mang Kardi.
"Baiklah lakukan secepatnya, kalau bisa ajak temanmu karena saya tidak bisa menunggu lama di sini." Ucap Sindy yang memang tidak ingin berada bersama penjaga makam.
Mang Kardi memanggil kedua temannya untuk membersikan makam kedua orangtuanya Sindy. Dalam waktu setengah jam makam itu sudah rapi.
Sindy memberikan mereka satu juta untuk dibagi tiga orang, ketiganya sangat senang lalu pamit dari hadapan Sindy.
"Terimakasih nona atas kebaikan hati anda." Ucap Mang Kardi.
"Aku yang terimakasih mang." Ucap Sindy lalu meletakkan bunga mawar merah dan putih untuk kedua orangtuanya.
"Jika nona mau, kami siap membersihkan makam ini setiap seminggu sekali." Ucap Mang Kardi menawarkan diri.
"Maaf mang, saya tinggal di luar negeri jadi saya belum tahu apakah datang lagi ke sini atau tidak." Ucap Sindy.
"Baiklah tidak apa nona." Ketiganya lalu membungkuk hormat kepada Sindy.
Sindy lalu berdoa dengan khusyuk untuk kedua orangtuanya.
Ia lalu berbicara sebentar di atas makam ibunya.
"Mommy, sekarang sindy sudah menikah dengan lelaki yang sangat baik pada Sindy. Sindy tidak lagi merasa kesepian karena Sindy suami Sindy memberikan banyak cinta untuk Sindy.
Sindy tinggal di luar negeri. Saat ini Sindy sedang menekuni dunia modelling. Mungkin tidak lama lagi Sindy akan kembali menjadi seorang dokter spesialis kandungan yang sudah sindy cita-citakan dulu sejak Sindy masih kecil. Sekarang Sindy mau pulang lagi ke Paris Perancis. Insya Allah Sindy akan kembali lagi ke Indonesia." Ucap Sindy lalu beranjak meninggalkan makam itu.
Sindy mengendarai mobilnya ke arah kuliner yang sudah ia incar sebelumnya. Di perjalanan ia merasakan lagi wanginya tanah Indonesia dengan berbagai aroma orang-orang yang berjibaku dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Keramahan penduduk Indonesia yang sudah tergerus zaman tidak lagi nampak saat ini. Semua orang cuek dengan urusan mereka masing-masing kecuali yang masih punya hati untuk peduli dengan sesama.