
Di Hamburg Jerman, tim SAR masih melakukan pencarian terhadap suaminya dokter Sindy yang sudah hampir satu bulan hilang karena kecelakaan pesawat jet pribadi miliknya mengalami lost kontak dengan menara ATC di bandara setempat setelah pesawat tersebut sudah memasuki lintasan udara Hamburg Jerman.
"Tuan Rendy, mungkin kita tidak punya harapan lagi untuk menemukan badan pesawat jet pribadi milik Tuan Farel, karena jatuhnya di atas laut. Jika di hutan pasti ada kepulan asap yang sudah membakar hutan ini." Ucap kepala tim SAR melaporkan hasil terakhir penjelajahan yang dilakukan oleh anak buahnya yang sudah mengintari semua wilayah.
"Baiklah Tuan Andrew!" Terimakasih atas keras anda bersama tim dalam pencarian badan pesawat jet pribadi milik Tuan Farel." Ucap Rendy yang tidak ingin lagi memaksakan kehendaknya untuk membujuk kepala tim SAR tersebut.
Tapi Rendy bukannya berhenti melakukan pencarian sebelum ia menemukan pesawat jet pribadi milik Farel. Saat ini dia ingin mengerahkan anak buahnya sendiri yang lebih banyak dibawah komando tim mafia yang dibentuk oleh Farel di mana suami Sindy adalah ketuanya.
Karena menggunakan fasilitas pribadi dalam pencarian itu. Asisten Rendy tidak hanya melakukan pencarian itu hanya berpusat melalui udara saja, ia dan timnya melakukan pencarian melalui tiga titik yaitu udara, laut dan udara.
Yang lebih ia kerahkan pencariannya berpusat di laut dengan tujuan agar Farel bisa di temukan jika ayah dua anak itu akan selamat dari kematian jika ia bisa terdampar di beberapa daratan yang di daerah pesisir pantai.
"Ini baru tiga Minggu pencarian, berarti satu Minggu lagi kesempatan mereka untuk bisa menemukan Tuan Farel dengan kru pesawat lainnya yang masih selamat di kecelakaan naas itu." Rendy bermonolog.
π·π·π·π·π·π·π·
Di Bogor, tepatnya di rumah sakit KAYSAN keadaan putri kecil Sindy baby Afta sudah mulai membaik tapi tidak dengan nyonya Clare yang masih belum sadar dari komanya pasca melahirkan secara normal.
Putrinya dokter Sindy ini sudah bisa di bawa pulang oleh ibunya Sindy.
Sindy sangat bahagia ketika putrinya bisa selamat dari maut. Pengawasan terhadap kedua anaknya lebih di perketat olehnya. Ia tidak mengijinkan kedua mertuanya untuk datang sekedar berkunjung untuk melihat kedua anaknya di mansion milik mereka.
"Bibi Atin, aku harap tidak ada yang membukakan pintu gerbang itu untuk tamu siapapun yang ingin menemui saya. Apa lagi untuk menemui kedua anak saya walaupun itu adalah kedua mertua saya sendiri." Titah dokter Sindy kepada para pelayannya yang ada di mansion itu termasuk para satpam yang sedang berada di depan gerbang utama.
"Iya nona Sindy, kami janji tidak akan mengizinkan nyonya besar mengambil lagi anak-anak karena kami juga trauma melihat kedua anak itu menderita apa lagi baby Afta yang baru sembuh dari sakitnya." Ucap bibi Atin.
"Baiklah, saya masih memiliki waktu libur dua hari untuk menemani anak-anak. Tapi jika saya memiliki panggilan darurat dari rumah sakit, tolong langsung mengawasi anak-anak ya bibi." Pinta Sindy lebih tegas untuk urusan kenyamanan untuk anak-anaknya.
__ADS_1
"Siap nona Sindy."
Sindy menghampiri anak-anaknya, ia ingin menghabiskan waktunya dengan kedua buah hatinya sebelum bertugas lagi di rumah sakit.
Ada hal yang masih membuatnya sedih sampai saat ini karena belum mendapatkan kabar keberadaan suaminya yang masih dalam pencarian oleh anak buah suaminya sendiri, dibawah perintah asisten suaminya Rendy.
"Nona Sindy, kami masih berupaya mencari keberadaan tuan Farel. Saya harap kuatkan hati anda untuk menerima hal yang terburuk jika kami gagal menemukan Tuan Farel dan kru pesawat yang lain." Ujar asisten Rendy.
"Aku tidak mau mendengar kata gagal dari mulutmu Rendy. Temukan suamiku dalam keadaan selamat atau aku akan memecatmu!" Ancam Sindy, membuat nyali Rendy seketika menciut.
"Baik nona Sindy!" Mohon doanya agar kami tidak gagal, dalam pencarian kali ini." Ucap Rendy lalu mengakhiri pembicaraannya.
"Aku kira dokter Sindy itu penuh kelembutan. Tidak tahunya dia lebih galak dari pada Tuanku Farel." Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
π·π·π·π·π·
"Hallo dokter Sindy!"
"Iya dokter Kartika, ada apa?" Tanya Sindy tenang.
"Maaf dokter Sindy, kita kedatangan tamu tak terduga. Suami pasien, Nyonya Clara berada di sini dan ingin menemui istrinya." Ucap dokter Kartika panik.
"Apa?" Dokter Alan ke rumah sakit kita?" Bagaimana dua tahu kalau istrinya sedang di rawat di rumah sakit kita?" Baiklah saya akan segera ke rumah sakit. Tahan orang itu, jangan biarkan dia menemui Nyonya Clara dan bayinya." Titah dokter Sindy kepada asistennya dokter Kartika.
"Baik Dokter Sindy!" Kami akan menunggumu dan tidak akan memberikan akses untuk dokter Alan menemui istrinya.
Sindy berpakaian dengan cepat dan berdandan seadanya.
__ADS_1
Ia menuruni anak tangga dalam keadaan terburu-buru.
"Nyonya hati-hati anda sedang hamil!" Pelayan Atin mengingatkan majikannya yang tidak mengindahkan perutnya yang saat ini sedang bernaung janin di dalamnya.
"Tolong jaga anak-anak ya bibi Atin!" Saya sedang menangani keluarga pasien yang sedang mengamuk." Ucap Sindy sambil meneguk susu untuk ibu hamil yang sedang di pegang oleh pelayan Atin.
"Baik Nyonya. Tapi ini sudah malam." Ucap Bibi Atin yang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Tidak apa bibi Atin, ini sudah menjadi tugas saya sebagai dokter yang harus siap melayani pasien selama 24 jam." Ucap Sindy yang sudah mengambil kunci kontak mobilnya dan ingin mengendarai mobilnya sendiri.
Dokter Sindy tidak tega membangunkan sopir pribadinya yang saat ini sudah pulas tidurnya.
Mobil itu sudah terparkir di depan halaman rumah sakit. Sindy turun dan menemui mantan kekasihnya dan sekaligus suami dari pasiennya nyonya Clara.
"Selamat malam dokter Alan!" Sapa Sindy tanpa memperlihatkan sisi dendamnya kepada dokter Alan.
"Rupanya kamu yang sengaja menyembunyikan keberadaan istriku jandanya Tuan Farel?" Dokter Alan sedikit menyindir dokter Sindy.
"Apakah anda ingin bertemu dengan istri anda, Tuan Alan?" Silahkan ikuti saya!" Sindy tetap bersikap tenang menghadapi dokter yang saat ini sangat murka melihat mantan kekasihnya ini.
"Aku belum selesai bicara denganmu Sindy!" Bentak dokter Alan.
"Di sini saya adalah pemilik rumah sakit ini dan saya memiliki status sebagai dokter spesialis kandungan yang saat ini sedang merawat istri anda Nyonya Clara, jadi hubungan kita adalah dokter dan kamu adalah keluarga pasien tanpa saya harus memanggilmu Dokter Alan, karena saat ini anda hanya seorang keluarga pasien yang berada di rumah sakit milikku. Jadi saya mohon tolong jaga sopan santun Anda dokter Alan!" Ucap Sindy dengan wajah yang sangat datar menghadapi dokter Alan.
Sindy berjalan ke kamar inap VVIP milik istrinya dokter Alan. Dokter Alan mengikuti langkah kaki Sindy dan ingin meraih tangan Sindy saat tidak ada orang lain yang melihat mereka berdua.
"Sekali lagi anda berani menyentuhku, aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib!" Sindy mengancam dokter Alan yang sedang memanfaatkan dirinya ketika berada di kamar inap Nyonya Clara.
__ADS_1
π₯Lapak Author sepi dari komentar pembaca, mohon like dan komennya sayang, supaya author semangat berkarya, thanks yaπ₯