
Pertemuan ibu-ibu sosialita dalam sebuah acara arisan yang diprakarsai oleh nyonya Aliya, yang saat ini sedang menjamu para tamu-tamu penting, diantaranya istri para pengusaha dan para pejabat.
Diantara tamu itu tidak henti-hentinya, mereka memuji Nyonya Aliya yang memiliki menantu sehebat dokter Sindy.
"Jeng Alya ko diam-diam aja sih, kalau sudah memiliki menantu, sudah gitu nggak nyangka lho, sekalinya dapat menantu, dokter Sindy. Susah lho dapat menantu paket komplit seperti menantu jeng Alya." Ujar Nyonya Laila.
"Mohon maaf, jeng Laila, memang menantu saya itu selalu rendah hati, jadi tidak ingin dipublikasikan sama keluarga saya." Ucap Nyonya Alya membela diri.
"Ngomong-ngomong, kapan nih kami bisa bertemu dengan dokter Sindy?" Tolong dong nyonya Alya! kami sangat ingin foto bareng dengan dokter Sindy.
Katanya beliau akan di undang oleh orang nomor satu di negeri ini, atas prestasinya yang sudah menyelamatkan generasi penerus bangsa Indonesia." Ucap salah satu istri pejabat yang sangat dekat dengan orang istana.
"Baiklah nanti ya nyonya semuanya, aku akan...?" Kata-kata nyonya Aliya terhenti ketika putranya Farel membawa Sindy dan cucunya Kaysan yang baru dilihatnya saat ini, sejak cucunya itu lahir dan berada di Indonesia.
"Assalamualaikum!" Sapa Farel dan Sindy serempak di hadapan para tamu arisan nyonya Alya.
"Waalaikumuslam, hahhh?" Dokter Sindy?" Para tamu itu begitu terkesima ketika melihat orang yang baru mereka bahas sudah berada di hadapan mereka.
Sindy tersenyum pada semua tamu ibu mertuanya. Ia lalu menyalami Nyonya Alya mengikuti suaminya.
"Apa kabar bunda!" Sapa Sindy.
Wajah nyonya Alya seketika gugup karena dia tidak menyangka putranya datang membawa keluarga kecilnya itu, yang belum ingin ia akui.
Untuk menjaga reputasinya di depan para sahabatnya, ia pun harus bersandiwara dengan bertingkah seperti mertua yang penuh perhatian. Walaupun begitu Sindy sangat tahu jika ibu mertuanya sedang berperan dalam drama untuk mengelabui para sahabatnya.
"Sayang mengapa nggak kabari bunda kalau mau berkunjung?" Tanya Nyonya Alya so sweet kepada menantunya Sindy.
"Maaf bunda, lagi pingin buat kejutan saja." Sindy sedang menyelamatkan harga diri ibu mertuanya.
"Dokter Sindy, boleh minta foto bareng?" pinta seseorang yang berada diantara tamu mertuanya.
Sindy menatap Farel dan juga melihat ke arah sang pemilik mansion.
"Sindy, dari tadi mereka berharap bisa bertemu denganmu, kebetulan kamu datang, jadi bunda mohon penuhi permintaan mereka." Ujar Nyonya Alya kepada menantunya yang lagi menjadi tranding topik setiap berita televisi dan menjadi Hadline news di beberapa tabloid.
Farel mengangguk memberikan izin pada istrinya.
Awalnya foto bareng, tapi lama kelamaan satu persatu diantara mereka yang ingin foto berdua dengan Sindy.
"Ini pasti Kaysan. Ya Allah tampan sekali cucunya." Kaysan mendapatkan banjir pujian dari ibu-ibu sosialita yang merupakan sahabat neneknya itu.
Kaysan yang hampir berumur satu tahun itu hanya tersenyum ke arah ibu-ibu arisan membuat mereka makin gemas dengan putranya Farel itu.
Sementara Nyonya Alya mengambil Kaysan dari gendongan Farel dan membawa ke suaminya.
"Ayah lihat siapa yang datang?" Ucap Nyonya Alya sambil memperlihatkan cucunya, Kaysan kepada suaminya.
Tuan Rasya begitu kaget dan juga terharu, ketika melihat langsung cucu mereka yang merupakan keturunan dari Farel putra satu-satunya. Walaupun mereka sudah memiliki cucu dari dua anak perempuan mereka, namun mereka baru memiliki cucu laki-laki dari Farel.
"Ini Kaysan cucu Opa?" Ucap Tuan Rasya dengan membuka kedua tangannya untuk menggendong cucunya yang baru bertemu dengannya selama ini.
Senyuman Kaysan dengan bola matanya yang jenaka, membuat Oma dan opanya langsung jatuh hati. Senyum yang mengandung magnet yang membuat siapapun yang melihat bayi ini akan langsung suka.
__ADS_1
Dibawah sana, Sindy sibuk menemani tamu mertuanya dan Farel menghampiri kamar orangtuanya untuk melihat putranya.
"Assalamualaikum ayah!" Salam hormat Farel untuk ayahnya.
"Waalaikumuslam, kamu baru ingat punya orangtua Farel? Dan mengapa baru sekarang membawa malaikat kecil ini padaku?" Tuan Rasya sangat menyesal karena keegoisannya telah menyia-nyiakan waktu untuk tidak menemui cucunya.
Tuan Rasya, tidak bosan bermain dengan cucunya. Ia menggendong bayi bertubuh gempal itu membawanya ke sana kemari.
Nyonya Alya menemui lagi para tamunya yang masih asyik ngobrol dengan menantunya Sindy.
Pembawaan Sindy yang mudah bergaul dan meleburkan dirinya dengan siapa saja yang ia temui.
Gadis yang merupakan mantan model ini memiliki pribadi yang hangat. Modalnya saat menjadi model saat itu, ia sudah diajarkan banyak hal bagaimana beradaptasi dengan beberapa kalangan dengan tingkat sosial yang berbeda dan memiliki berbagai karakter.
"Dokter Sindy, kapan-kapan kami boleh nggak mengunjungi rumah sakit dokter Sindy? Kalau masih muda pingin deh hamil lagi, biar lahirannya ditangani dokter Sindy." Ucap Nyonya Nadin yang begitu ceriwis.
"Silahkan ibu-ibu! saya akan tunggu kunjungan kalian, tidak harus menjadi ibu hamil untuk mengunjungi rumah sakit saya. Bisa juga melakukan pavsmear untuk mengetahui kesehatan rahim wanita yang sudah pernah melahirkan untuk mengetahui kesehatan reproduksinya pada mulut rahimnya." Ujar dokter Sindy.
"Benarkah? wah keren!"
"Begini saja, nanti saya akan buat seminar untuk penanggulangan segala jenis penyakit yang menyerang alat reproduksi wanita ketika menjelang manopause." Ujar Sindy.
"Kami tunggu undangannya lho dokter Sindy."
"Siap!" Ucap Sindy lalu meminta ijin untuk bertemu dengan ayah mertuanya.
Tidak lama kemudian, mansion itu kembali sepi karena semua tamunya nyonya Alya sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Sekarang hanya para pelayan yang bahu membahu membersihkan kembali ruang keluarga hingga ruang makan dari acara arisan itu.
"Maafkan Sindy ayah, karena baru sempat menemui ayah." Ucap Sindy sambil terisak.
"Sudahlah nak Sindy, ayah sudah maafkan kamu. Ayah lagi jatuh cinta dengan pewaris ayah ini, Kaysan cucuku yang paling tampan. Kaysan menginap di sini ya, di rumah Opa." Ucap Tuan Rasya yang masih kangen dengan cucunya.
Tapi Farel yang sudah tidak betah berlama-lama di mansion orangtuanya, ingin cepat hengkang dari mansion masa kecilnya itu.
"Menginaplah disini semalam Sindy! karena ayahmu masih kangen dengan cucunya. Kalau kalian ingin buru-buru pulang, tinggalkan Kaysan di sini bersama kami. Besok bunda dan ayah akan mengantarkannya ke Bogor." Ujar Nyonya Alya.
"Masalahnya Kaysan masih menyusui bunda. Dia belum pernah belajar minum susu formula, karena saya ingin menyusuinya selama dua tahun." Ujar Sindy yang menolak anaknya disuruh tinggal di tempat mertuanya.
"Kalau begitu, satu-satunya pilihan untuk kalian adalah menginap di sini." Titah Nyonya Alya.
Sindy menatap wajah suaminya, ia sebenarnya tidak suka menginap di mansion mertuanya karena mereka baru saja bertemu dan belum mengenal karakter masing-masing.
Jika ada salah kata atau tindakan malah memicu keributan. Farel yang mengerti perasaan istrinya dan juga tidak enak menolak permintaan kedua orangtuanya yang sangat berharap mereka menginap.
"Ya Allah, kenapa di buat pusing seperti ini sih." Gumamnya dalam hati.
"Bagaimana sayang?" Lebih baik kita menginap sayang daripada kita kualat." Ucap Farel yang lebih memilih mengalah dari pada berdebat dengan kedua orangtuanya hanya untuk menyenangkan hati istrinya.
"Sayang!" Yang mana kamarmu?" Tanya Sindy yang ingin tahu kamar bujang suaminya.
"Ikuti aku!"
__ADS_1
Keduanya menyusuri koridor kamar Farel yang terletak agak belakang menghadap kolam renang.
Rupanya kamar Farel masih tetap rapi dan belum berubah saat terakhir ia meninggalkan mansion orangtuanya dan memilih tinggal di apartemennya yang lebih dekat jaraknya dengan perusahaan miliknya.
Sindy masuk ke kamar itu dan merasakan kamar suaminya yang cukup luas dengan nuansa sangat maskulin sesuai dengan karakter Farel yang hobi berpetualang di masa mudanya.
"Turunkan lukisan gadis bug*l itu!" Titah Sindy yang tidak suka lukisan yang dipajang di kamar Farel yang berbau mesum.
"Iya sayang."
Alih-alih mau menurunkan lukisan itu, ia malah menutupinya dengan koran. Sindy sangat geram dengan sikap Farel yang lebih sayang dengan lukisan itu daripada dirinya.
"Kamu ingin aku pulang malam ini atau mau turunkan lukisan itu. Jika menutupnya, kamu punya kesempatan untuk melihat lagi." Ujar Sindy kesal.
"Astaga sayang, itu hanya lukisan, mengapa kamu sangat cemburu?" Farel nampak protes dengan sikap Sindy yang cemburu tanpa alasan.
"Ok, kalau begitu aku pulang!" Sindy beranjak dari kamar suaminya.
Farel memeluk tubuh Sindy dari belakang dan menghempaskan ke atas kasur.
"Lepaskan!"
"Tidak!"
"Jika kamu ingin aku tidak boleh memasang lukisan itu, sekarang kamu yang harus aku pajang di atas kasur." Ancam Farel.
"Sinting!"
Farel membekap mulut istrinya agar Sindy berhenti mengumpatnya.
"Ehmmm!" Sindy tidak ingin berciuman dengan Farel karena keinginannya tidak dipenuhi oleh suaminya.
Farel menghubungi dua pelayan laki-laki untuk datang ke kamarnya menurunkan lukisan yang tidak di sukai oleh istrinya.
"Kamu ke kamar ganti sayang." Pakai baju kaos milikku yang ada di dalam sana." Ucap Farel yang tidak ingin dua pelayannya melihat istrinya.
Tok...tok..
"Masuklah!" Titah Farel pada dua orang pelayannya.
"Turunkan lukisan itu, istriku tidak menyukainya." Titah Farel.
"Siap Tuan!"
Tidak lama kemudian, lukisan itu sudah di bawa ke luar dari kamar Farel.
Sindy mencari kemeja putih yang berlengan panjang milik Farel yang cukup untuk dirinya sebagai baju tidur untuknya.
Farel yang melihat Sindy yang hanya mengenakan atasan tanpa bawahan, membuat dirinya kembali terangsang.
Farel menarik tubuh istrinya dan langsung bergumul di atas kasur.
Pertempuran panas pun di mulai. Lenguhan dan erangan terdengar indah dalam kamar bujang suaminya. Ini adalah kali pertama Sindy dan Farel melakukan percintaan panas mereka di rumah mertuanya.
__ADS_1
Farel yang lebih dominan mengusai tubuh istrinya seakan tidak ingin Sindy berhenti mengerang manja di telinganya. Permainan panas itu berlangsung seru, hingga keduanya lelah dan tertidur, menanti fajar tiba untuk pulang kembali ke mansion mereka di kota Bogor.